Jurnalisme Warga
Saat Dosen Prodi MPI FTK UIN Ar-Raniry Bantu Korban Banjir di Pidie Jaya
Agenda saya pada hari Sabtu, 27 Desember 2025 adalah melaksanakan pengabdian masyarakat bagi korban banjir bandang di Meureudu
Bencana banjir bandang kali ini sangatlah parah dan berdampak langsung kepada masyarakat, seperti banyaknya jatuh korban jiwa.
Selain itu, ribuan warga mengungsi, rumah dan fasilitas umum rusak, harta benda hilang, serta berdampak jangka panjang terhadap kesehatan, ekonomi lokal, maupun mobilitas masyarakat.
Sepanjang perjalanan dari Meureudu menuju Ulim, terilihat areal yang dulunya hamparan sawah hijau membentang luas, tapi kini sudah dipenuhi endapan lumpur banjir bandang, sehingga sulit untuk menentukan ukuran sawah masyarakat.
Ada juga padi yang dalam kondisi siap panen, sudah tertutup oleh endapan lumpur yang sangat tebal dan luas. Kondisi ini tentu berdampak pada ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Masih memprihatinkan
Selain itu, meski banjir bandang telah berlalu sebulan lebih, kondisi kehidupan masyarakat masih sangat memprihatinkan karena masih banyak lumpur menutupi bagian dalam dan luar rumah warga hingga hampir menyentuh atap rumah. Tantangan lainnya adalah di samping banjir susulan, pembersihan lumpur tebal yang cukup rumit masih berlangsung hingga saat ini.
Selain itu, hingga kini warga di Kabupaten Pijay mengalami krisis air bersih lantaran sumber air belum bisa diakses. Sumber air Pijay dari perusahaan daerah air minum (PDAM) belum berfungsi karena bagian hulunya hancur dihantam banjir bandang.
Beberapa gampong di Kecamatan Meureudu yang terdampak banjir besar kali ini, antara lain, Blang Awe, Manyang Cut, Manyang Lancok, Beurawang, Meunasah Lhok, Meunasah Pante Geulima, Meunasah Dayah Panuek, Masjid Tuha, Kota Meureudu, Dayah Kleng, dan Meunasah Balek.
Di Kecamatan Meurah Dua, gampong yang turut terdampak adalah Meunasah Bie, Meunasah Raya, Gampong Blang, Blang Cut, Dayah Husen, Dayah Kruet, Meunasah Mancang, Pante Beuren, Beringen, Lueng Mimba, Buangan, dan Tijin Daboh.
Sedangkan di Bandar Dua tercatat ada sembilan desa yang terdampak, yaitu Alue Ketapang, Babah Krueng, Drien Tujoh, Alue Sane, Pohroh, Blang Kuta, Jeulanga, Paya Pisang Klat, dan Alue Mee.
Selanjutnya, saya bersama teman-teman melewati jalan utama yang masih berlumpur yang belum begitu bersih untuk menuju ke Kota Meureudu. Terlihat masyarakat masih banyak yang tinggal di tenda pengungsian dengan kondisi masih sangat memprihatinkan.
Masjid-masjid dan meunasah juga masih sangat membutuhkan ambal sajadah panjang, mukena, dan Al-Qur’an agar masjid dan meunasah bisa berfungsi kembali secara normal.
Jika masjid, meunasah, dan sarana mandi, cuci, kakus (MCK) sudah benar-benar bersih, masyarakat juga sudah aman tenang.
Para lansia juga sangat membutuhkan kelambu karena setelah banjir biasanya sangat banyak nyamuk.
Ibu hamil membutuhkan gizi berimbang, susu, obat-obatan, sedangkan anak bayi membutuhkan banyak popok, susu, roti, dan baju bayi agar tidak kedinginan saat berada di tempat pengungsian.
Jurnalisme Warga
Penulis JW
Dr Murni SPdI MPd
Dosen Prodi MPI FTK UIN Ar-Raniry Bantu Korban Ban
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Progres Menggembirakan Koperasi Desa Merah Putih di Aceh Barat |
|
|---|
| Bermain Ular Tangga Sambil Kelola Emosi di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah |
|
|---|
| Green Jihad, Menanam Harapan di Tanah Pernah Tenggelam |
|
|---|
| Ketika Manusia Mengagungkan AI, Terjadilah Pergeseran Nilai Agama dan Sosial |
|
|---|
| Lima Tahun UBBG, Kampus Bermutu dan Maju, Refleksi Dies Natalis Ke-5 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Murni-SPd-I-MPd-2025.jpg)