Kupi Beungoh

Iman, Akal, dan Keadilan di Tengah Bencana

Bencana menguji iman dan akal masyarakat Aceh. Di tengah krisis, hoaks dan emosi publik jadi tantangan serius bagi keadilan dan kemanusiaan.

Editor: Amirullah
Serambinews.com
Junaidi, S.H., M.Ag adalah Pengurus DPP ISAD Aceh dan tenaga pengar kampus STAI Darul Abrar Aceh Jaya dan Pemerhati Sosial-Keagamaan di Ruang Publik 

Oleh: Junaidi, S.H., M.Ag 

Dalam adat Aceh dikenal ungkapan hadih maja:

“Adat bak Po Teumeureuhom, hukôm bak Syiah Kuala.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa kehidupan Aceh dibangun di atas keterpaduan antara adat, agama, dan otoritas yang bertanggung jawab. Masyarakat berilmu diuji bukan saat aman, tetapi saat krisis.

Dalam konteks bencana, prinsip ini berarti jelas: iman memberi arah batin, akal menuntun tindakan, dan negara memikul tanggung jawab melindungi rakyat. Ketiganya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.

Aceh juga dikenal sebagai Serambi Mekkah, tempat agama tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi rujukan perilaku sosial. 

Musibah sebagai Ujian, Bukan Alasan Kelalaian

Dalam tradisi keulamaan Aceh, musibah dipahami sebagai ujian, bukan alasan untuk menyerah. 

Namun ujian tidak pernah dimaknai sebagai pembenaran atas kelalaian atau kekacauan. Iman yang matang justru mendorong ikhtiar, keteraturan, dan kepedulian terhadap sesama.

Masalahnya, di era media sosial, ujian bencana tidak lagi berhenti pada air yang meluap atau tanah yang longsor. Ujian baru muncul dalam bentuk arus informasi yang tidak terkendali.

Baca juga: Dana Siap Pakai Rp 1,51 Triliun untuk Bencana Sumatera, Purbaya Minta BNPB Percepat Pencairan

Bencana Informasi di Era Media Sosial

Potongan video tanpa konteks, kabar simpang siur, dan narasi emosional menyebar dengan cepat, sering kali lebih cepat daripada klarifikasi resmi atau bantuan kemanusiaan.

Dalam situasi seperti ini, mentalitas orang berilmu yang seharusnya menjadi ciri masyarakat beriman justru kerap tergerus.

Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam yang hidup di Aceh, berbicara bukanlah tindakan ringan. Kata-kata dipandang sebagai amanah.

Tidak semua yang diketahui harus disampaikan, dan tidak semua yang dirasakan harus diumbar.

Orang berilmu berbicara saat diminta, saat dibutuhkan, dan saat membawa maslahat. Prinsip ini sangat relevan dalam kondisi bencana, ketika satu informasi keliru saja dapat memicu kepanikan massal dan merusak ketenangan sosial.

Sayangnya, yang sering kita saksikan justru sebaliknya. Media sosial menjadi arena pelampiasan emosi, tempat kemarahan dan kecurigaan tumbuh subur.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved