Minggu, 10 Mei 2026

Jurnalisme Warga

ISBI Aceh dan Kejutan yang Sulit Dilupakan

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, jauh dari Tanah Rencong yang baru saja diterpa bencana, sebuah kabar mengguncang perasaan kami.

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/HO
ICHSAN, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh dan peraih Juara 1 Insan Humas Diktisaintek 2025 (PTN Satker), melaporkan dari Jakarta 

ICHSAN, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh dan peraih Juara 1 Insan Humas Diktisaintek 2025 (PTN Satker), melaporkan dari Jakarta

Alhamdulillah. 19 Desember 2025, bagi kami, keluarga besar  Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, benar-benar menjadi hari yang sulit dilupakan.

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, jauh dari Tanah Rencong yang baru saja diterpa bencana, sebuah kabar mengguncang perasaan kami.

ISBI Aceh kembali pulang membawa piala Anugerah Diktisaintek. Bukan satu, bukan dua, melainkan tiga. Yang paling mengejutkan, tahun ini ISBI Aceh meraih Juara 1 (Golden Winner) Anugerah Insan Humas.

Izinkan saya jujur sejak awal. Saya tidak menyangka. Benar-benar tidak menyangka. Sebelum pengumuman, kami sempat ragu, bahkan sempat saling berkirim pesan dengan Pimpinan Humas ISBI Aceh, Achmad Zaki. Bahasanya sederhana, datar, dan penuh kehati-hatian, “Tanyoe hana ya/Kita tidak ada (menang) ya?” tanya Zaki yang mulai ragu saat pengumuman berlangsung.

Nada pasrah yang jujur, khas orang-orang yang bekerja keras tanpa berani berharap berlebihan. Bahkan, Zaki sempat menyela dengan kalimat yang terasa berat,

“Hana tanyoe/Tidak ada (menang) kita?”

 “Taci preh/Kita tunggu,” jawabku.

Kalimat itu belum sempat dingin ketika pengumuman Anugerah Kerja Sama Diktisaintek dibacakan. Nama ISBI Aceh kembali disebut. Juara 2. Bertahan. Konsisten. Sama seperti tahun lalu, ketika saya masih diamanahkan sebagai pimpinan Humas ISBI Aceh.

Kami terdiam. Haru mulai menyelinap. Belum selesai perasaan tersebut dicerap, pengumuman berikutnya datang. Kategori Majalah. Dan, sekali lagi, nama ISBI Aceh dipanggil. Majalah Daweut—nama yang diberikan Achmad Zaki sejak awal perintisannya—kembali bertahan sebagai juara. Di titik itu, jantung rasanya sudah bekerja dua kali lipat. Kami saling pandang dari kejauhan, saling diam, saling menahan rasa.

Namun, kejutan belum selesai. Ketika kategori Anugerah Insan Humas diumumkan, nama ISBI Aceh kembali dipanggil sebagai Juara 1 (Golden Winner), tubuh ini seperti setengah jatuh, lalu bangkit, dan terbang tinggi.

Yang lebih mengejutkan, Insan Humas Tingkat Nasional dari ISBI Aceh tahun ini adalah saya sendiri.

Saya terpaku. Lalu berdiri, berjalan ke depan, dan memeluk Achmad Zaki. Bangga. Haru. Serasa tidak percaya. Semua bercampur menjadi satu.

ISBI Aceh adalah kampus muda. Kampus kecil. Tidak berada di pusat kekuasaan. Tidak memiliki fasilitas berlimpah. Bahkan, sering kali berada di wilayah yang luput dari perhatian nasional. Akakn tetapi hari ini, di panggung nasional, ISBI Aceh berdiri sejajar, bahkan unggul.

Di bawah kepemimpinan Rektor Prof Dr Wildan MPd dan kepemimpinan kehumasan Achmad Zaki, ISBI Aceh membuktikan satu hal penting, yakni ukuran kampus tidak pernah menentukan besar kecilnya prestasi.

Keberhasilan ini bukan sulap. Bukan kebetulan. Ini adalah buah dari kerja sunyi, kerja kolektif, dan keberanian untuk bermimpi di tengah keterbatasan.

Saya dan Zaki adalah bagian dari perintis banyak program kehumasan di ISBI Aceh. Dari Podcast Meudrah, yang namanya juga lahir dari pikiran Zaki, hingga Majalah Daweut, yang hari ini kembali mengharumkan nama kampus.

Semua itu lahir dari ruang-ruang kecil, diskusi sederhana bersama teman-teman yang terus bekerja tanpa ingin disebut nama dan titel, dari ide-ide yang sering kali dianggap terlalu ideal untuk kampus kecil di ujung paling barat Indonesia.

Namun, justru dari sanalah kekuatan itu tumbuh. Kami tidak bekerja untuk pial atau medali. Kami bekerja untuk martabat institusi. Adapun piala hari ini datang sebagai bonus yang tidak pernah kami rancang dalam mimpi paling optimistik sekalipun.

Yang membuat pencapaian ini semakin bermakna adalah prosesnya. Di balik layar, ada Aris Munandar, yang menyutradarai kerja-kerja kreatif kehumasan bersama kru tim humas lainnya. Ada Saniman Andi Kafri, Muhammad Hamzah, Asrinaldi, Dhika Erlandha, Mustari, tim IT, dan banyak lagi.

Ada malam-malam panjang, revisi tanpa henti, ide yang dipatahkan lalu dibangun kembali. Semua berlari dalam keterbatasan, tanpa jaminan menang.

Hari ini, semua itu terbayar. Bagi saya pribadi, penghargaan Insan Humas ini bukan soal nama. Ini adalah pengakuan atas kerja kolektif, kepercayaan pimpinan, dan keberanian kampus untuk memberi ruang pada gagasan-gagasan baru. Terima kasih kepada Achmad Zaki yang memberi kesempatan semua tim bekerja dan kepada Rektor Prof Wildan yang memberi kepercayaan penuh, bahkan ketika dalam tegas dan canda menegur tim humas karena memakai ruang rektor melebihi batasan.

Hari ini kami bangga pernah ditegur, bahkan rindu dimarahi.

Dalam satu kesempatan, Prof Dr Irwan Abdullah, Guru Besar Antropologi UGM Yogyakarta, pernah menyampaikan bahwa institusi kecil justru sering melahirkan kerja-kerja besar karena di sanalah solidaritas, daya juang, dan etos kolektif diuji secara nyata.

Pernyataan itu hari ini terasa hidup. ISBI Aceh tidak besar karena fasilitasnya, tetapi karena manusianya.

Di tengah berbagai narasi pesimis tentang kampus daerah, bahwa kami tertinggal, bahwa kami hanya pelengkap, ISBI Aceh menjawab dengan kerja dan prestasi.

Kampus kami kecil? Ya. Kampus muda? Benar. Namun, soal prestasi, jangan diremehkan. Semoga ISBI Aceh tidak sombong.

Kerja kolaboratif

Hari ini, ISBI Aceh membuktikan bahwa pusat keunggulan tidak selalu berada di pusat kota. Bahwa kreativitas tidak membutuhkan gedung megah. Bahwa kerja yang jujur, konsisten, dan kolaboratif akan selalu menemukan jalannya sendiri.

Kami pulang ke Aceh tidak hanya membawa piala, tetapi juga membawa kepercayaan diri baru. Bahwa mimpi-mimpi besar itu sah dimiliki oleh siapa pun, termasuk kampus seni di ujung barat Indonesia.

Menyongsong 2026

Menatap awal tahun 2026, harapan kami sederhana, tetapi teguh. Semoga capaian ini bukan puncak, melainkan pijakan. Semoga kebanggaan ini terus terukir, bukan hanya untuk ISBI Aceh, melainkan untuk bangsa dan dunia.

Hari ini, dari Jakarta, kami ingin berkata lantang: ISBI Aceh boleh kecil, tapi jangan pernah ragukan besarnya kerja dan prestasinya. ISBI Aceh insyaallah jaya selalu.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved