Minggu, 31 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Aceh, Rusia, dan Tentara Bayaran: Muhammad Rio vs Hans Christoffel

Christoffel adalah produk sistem kolonial yang melegitimasi perang bayaran, sementara Muhammad Rio adalah produk globalisasi konflik

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Oleh Ahmad Humama Hamid*) 

DALAM sejarah peperangan, tentara bayaran selalu menjadi fenomena yang kompleks. 

Ia berada di persimpangan antara loyalitas dan uang, antara profesionalisme dan pengkhianatan, antara keberanian individual dan risiko kolektif bagi sebuah negara. 

Dalam literatur sejarah dan politik, tentara bayaran kerap disebut sebagai “mercenary”, sebuah istilah yang sejak awal mengandung ambiguitas moral. 

Mereka bukan tentara negara, bukan pula pejuang ideologis, melainkan prajurit yang loyalitasnya ditentukan oleh kontrak dan bayaran.

Baca juga: Greenland Dibahas dengan NATO, Trump Tarik Ancaman Perang Dagang

Mercenary: Pedang Bermata Dua 

Praktik “mercenary” bukanlah produk zaman modern. 

Akar sejarahnya dapat ditelusuri hingga peradaban kuno. 

Di Mesir Kuno, terutama pada masa Dinasti ke-18 dan ke-19, para Firaun merekrut prajurit asing dari Nubia dan Libya untuk memperkuat pasukan kerajaan. 

Mereka digunakan dalam ekspedisi militer jarak jauh dan operasi penaklukan. 

Loyalitas para prajurit ini dijaga melalui upah, jarahan, dan status sosial, bukan ikatan kebangsaan. 

Mesir memahami bahwa profesionalisme militer dapat dibeli, tetapi juga menyadari risiko ketika kesetiaan ditentukan oleh materi.

Contoh lain muncul dari Kekaisaran Persia Akhemeniyah. 

Persia secara sistematis memanfaatkan “mercenary” Yunani, yang dikenal disiplin dan terlatih, untuk menghadapi berbagai konflik regional. 

Pasukan bayaran ini menjadi kekuatan penting dalam mesin perang Persia, tetapi sekaligus membawa dilema strategis. 

Loyalitas mereka rapuh, mudah berpindah jika tawaran yang lebih besar datang dari pihak lawan. 

Sejak saat itu, sejarah mencatat bahwa “mercenary” adalah pedang bermata dua: efektif secara militer, tetapi berbahaya secara politik.

Dari Mesir dan Persia, praktik “mercenary” menyebar ke dunia Romawi, Eropa abad pertengahan, hingga perang kolonial. 

Di Eropa, terutama pada abad ke-16 hingga ke-19, menjadi tentara bayaran bahkan dianggap sebagai profesi sosial yang sah. 

Negara dan kerajaan merekrut prajurit asing untuk mengisi kekurangan pasukan, menaklukkan wilayah, atau menumpas perlawanan lokal. 

Loyalitas bukan lagi persoalan tanah air, melainkan kontrak.

Baca juga: Status WNI Bripda Rio Anggota Brimob Polda Aceh di Ujung Tanduk Usai Gabung Tentara Bayaran Rusia

Karakter Unik Aceh

Namun, di Asia Tenggara, khususnya Aceh, sejarah menunjukkan pola yang berbeda. 

Kerajaan Aceh Darussalam, terutama pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636), dikenal sebagai kekuatan militer regional yang tangguh. 

Pasukan Aceh terorganisasi dengan baik, disiplin, dan efektif dalam perang darat maupun laut. 

Mereka mampu menantang Portugis dan kekuatan Eropa lainnya di Selat Malaka, jalur perdagangan strategis dunia saat itu.

Memang benar bahwa Sultan Iskandar Muda mempekerjakan teknisi meriam dari Turki Utsmani serta beberapa ahli militer dari India. 

Namun mereka bukan pasukan tempur yang bertempur atas nama Aceh. 

Peran mereka adalah teknis dan konsultatif, memperkuat teknologi persenjataan dan taktik perang. 

Pasukan yang bertempur tetaplah orang Aceh sendiri. 

Loyalitas mereka dibangun atas ikatan politik, agama, dan komunitas, bukan atas kontrak bayaran dari pihak asing.

Berbeda dengan sejumlah suku lain di Nusantara, orang Aceh tidak memiliki tradisi menjadi “mercenary”. 

Tidak ada catatan sejarah tentang prajurit Aceh yang disewakan ke kerajaan asing demi bayaran. 

Aceh tidak mengekspor pasukan, dan tidak pula menggantungkan pertahanannya pada tentara bayaran profesional. 

Ini adalah karakter unik Aceh dalam sejarah: kedaulatan militer dijaga dari dalam, bukan dari jasa profesional eksternal.

Baca juga: Perang Aceh: Islam versus Barat?

Tentara Bayaran Belanda dalam Perang Aceh

Kontras tajam muncul ketika Belanda menjalankan proyek kolonialnya di Aceh pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. 

Untuk menundukkan perlawanan rakyat Aceh yang panjang dan brutal, Belanda mengandalkan pasukan kolonial KNIL yang diisi oleh prajurit lokal non-Aceh serta perwira Eropa, termasuk “mercenary” dari luar Belanda. 

Salah satu figur paling fenomenal adalah Hans Christoffel.

Hans Christoffel lahir di Rothenbrunnen, Swiss, pada 13 September 1865. 

Ia bergabung dengan KNIL pada 1886 dan dikenal sebagai perwira kontra-gerilya yang efektif. 

Christoffel memimpin operasi di medan hutan dan pegunungan Aceh, memburu tokoh-tokoh perlawanan, dan menjalankan strategi represif yang keras. 

Dalam arsip kolonial Belanda, ia dipuji sebagai perwira berani dan disiplin.

Namun dari perspektif Aceh, Christoffel adalah representasi klasik “mercenary” kolonial. 

Ia bukan orang Belanda, bukan pula bagian dari masyarakat yang ditaklukkannya. 

Loyalitasnya dijaga oleh gaji, pangkat, dan kepentingan imperium. Aceh bukan tanah airnya, dan perang itu bukan perang eksistensial baginya. 

Ia adalah prajurit profesional yang bekerja untuk mesin kolonial.

Baca juga: Sosok Bripda Muhammad Rio, Anggota Brimob Polda Aceh Diduga Jadi Tentara Bayaran Rusia

Muhammad Rio, Fenomena “Mercenary” Modern

Lebih dari satu abad kemudian, nama lain muncul dari Aceh dalam konteks yang sama sekali berbeda: Muhammad Rio

Seorang anggota Brimob Polda Aceh, Rio menjadi sorotan publik setelah diketahui bergabung dengan Wagner Group, jaringan “mercenary” modern yang terlibat dalam konflik Rusia-Ukraina. 

Berbeda dengan Christoffel, Rio hidup di era negara-bangsa modern, di mana hukum, kewarganegaraan, dan loyalitas nasional memiliki batas yang tegas.

Rio meninggalkan tugasnya sebagai aparat negara Indonesia dan bergabung dengan pasukan bersenjata asing demi bayaran tinggi. 

TENTARA RUSIA - Personel Brimo Polda Aceh, Bripda Muhammad Rio (tengah), meninggalkan tugas tanpa izin pimpinan dan diduga telah bergabung menjadi tentara bayaran Rusia.
TENTARA RUSIA - Personel Brimo Polda Aceh, Bripda Muhammad Rio (tengah), meninggalkan tugas tanpa izin pimpinan dan diduga telah bergabung menjadi tentara bayaran Rusia. (Istimewa/Kanal YouTube Tribunnews)

Negara merespons tegas: ia dipecat dari kepolisian dan kehilangan status kewarganegaraan Indonesia karena bergabung dengan angkatan bersenjata asing tanpa izin Presiden. 

Kasus ini menegaskan bahwa di era modern, pilihan individu membawa konsekuensi hukum dan politik yang serius.

Perbandingan antara Christoffel dan Rio menunjukkan transformasi besar dalam dunia “mercenary”. 

Christoffel adalah produk sistem kolonial yang melegitimasi perang bayaran. 

Rio adalah produk globalisasi konflik, di mana perusahaan militer swasta dan jaringan semi-negara merekrut individu lintas negara. 

Jika dulu “mercenary” adalah alat resmi kekuasaan, kini ia bergerak di wilayah abu-abu antara negara, bisnis, dan perang.

Kasus Rio menjadi alarm keras bagi Indonesia, khususnya generasi muda. 

Fenomena “mercenary” modern, dengan iming-iming bayaran tinggi dan narasi petualangan, berpotensi mempengaruhi persepsi tentang profesi militer dan keamanan. 

Risiko kematian, trauma psikologis, kehilangan kewarganegaraan, dan stigma sosial sering kali disembunyikan di balik romantisasi perang.

Bagi Aceh, kasus ini memiliki resonansi sejarah yang dalam. 

Wilayah yang sepanjang sejarahnya dikenal tidak pernah menjadi “mercenary”, kini justru melahirkan individu yang terjerumus dalam logika perang bayaran global. 

Ini bukan sekadar persoalan identitas Aceh, melainkan tantangan negara dalam menjaga loyalitas warganya di era multipolar.

Loyalitas, Benteng yang Harus Dijaga

Kasus Muhammad Rio menunjukkan bahwa medan perang modern tidak hanya berada di luar negeri, tetapi juga di ranah loyalitas dan kesadaran warga negara. 

Negara tidak hanya harus menjaga perbatasan, tetapi juga membangun benteng nilai, hukum, dan pendidikan kewarganegaraan.

Perbandingan antara Hans Christoffel dan Muhammad Rio adalah cermin dua zaman. 

Satu zaman di mana “mercenary” menjadi alat penaklukan kolonial, dan satu zaman di mana “mercenary” menjadi godaan individual di tengah dunia yang semakin tanpa batas. 

Sejarah Aceh mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak dibeli dengan kontrak, tetapi dibangun dari loyalitas internal.

Pada akhirnya, satu peringatan harus ditegaskan:

“Ketika loyalitas diuji oleh uang dan petualangan, negara harus waspada: Rio bukan sekadar satu kasus, tapi lonceng keras pengingat bagi masa depan generasi muda Aceh dan nasional lainnya”.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved