Senin, 4 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Asa Pendidikan di Sekolah Darurat Serempah

Kehadiran Sukaelawan Pendidikan Sekolah Darurat Aceh dan Sumatra Utara di bawah naungan Yayasan Sukma Bangsa Bireuen yang memulai

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/IST
EKA MUNANDA, Sukarelawan Sekolah Darurat di Ketol, Aceh Tengah, melaporkan dari Acceh Tengah 

Sementara itu, hingga saat ini proses belajar-mengajar di SD Negeri 10 Ketol masih harus dilaksanakan di sekolah tenda dengan segala keterbatasannya.

Di SD Negeri 10 Ketol, beberapa guru tetap hadir konsisten untuk memberikan pembelajaran kepada para siswa. Namun demikian, keterbatasan prasarana dan sarana pembelajaran, seperti buku pelajaran, alat tulis, dan media pendukung lainnya, menjadi tantangan tersendiri. Kondisi inilah yang melatarbelakangi kehadiran sukarelawan pendidikan,

dengan harapan dapat membantu siswa-siswi sekaligus memperkecil kesenjangan pembelajaran yang mereka alami selama berada di pengungsian.

Pada hari pertama kegiatan, sukarelawan memulai proses belajar dengan pendekatan yang sederhana, tetapi bermakna, yaitu belajar sambil bermain.

Berbagai trik kecil digunakan untuk menumbuhkan semangat dan motivasi belajar anak-anak. Sukaelawan membawa buku cerita dan membacakannya secara interaktif, sembari menyisipkan pembelajaran literasi dan numerasi dasar.

Metode ini disambut dengan antusias oleh anak-anak yang tampak gembira dan aktif berpartisipasi.

Para guru yang mengajar di sekolah darurat tersebut juga memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan sukarelawan.

Kehadiran sukarelawan tidak hanya meringankan beban guru, tetapi juga memberikan variasi metode pembelajaran yang membuat anak-anak kembali bersemangat.

Reje Desa Serempah juga menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada para sukarelawan yang telah membersamai para siswa.

Memasuki hari kedua, kegiatan diawali dengan senam pagi bersama. Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh anak-anak, tetapi juga mendapat sambutan hangat dari masyarakat sekitar. Bahkan, para ibu yang tinggal di pengungsian turut juga mengikuti senam pagi tersebut. Suasana kebersamaan dan keceriaan terasa kental, mencerminkan semangat gotong royong di tengah kondisi sulit.

Setelah senam pagi, proses pembelajaran dilanjutkan dengan membagi siswa ke dalam tiga kelompok belajar, yaitu kelompok kelas 1–2, kelompok kelas 3–4, serta kelompok kelas 5–6. Pembagian ini dilakukan agar materi yang disampaikan dapat disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan peserta didik.

Pada kelompok kelas 1–2, sukarelawan membacakan cerita berjudul “Aku Ingin Menjadi Dokter”. Cerita ini dipilih untuk menanamkan nilai-nilai motivasi, harapan, serta pentingnya memiliki cita-cita sejak dini.

Anak-anak diajak berdialog tentang impian mereka di masa depan dan bagaimana pendidikan dapat menjadi jalan untuk membantu sesama.

Sementara itu, pada kelompok kelas 3–4, materi yang disampaikan bertema “Tubuh Manusia”. Melalui cerita dan penjelasan sederhana, anak-anak diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Untuk memudahkan pemahaman, sukarelawan juga

mengajarkan fungsi anggota tubuh melalui lagu-lagu sederhana yang dinyanyikan bersama, sehingga materi lebih mudah diingat dan dipahami.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved