Jurnalisme Warga
Asa Pendidikan di Sekolah Darurat Serempah
Kehadiran Sukaelawan Pendidikan Sekolah Darurat Aceh dan Sumatra Utara di bawah naungan Yayasan Sukma Bangsa Bireuen yang memulai
Adapun pada kelompok kelas 5–6, sukarelawan membacakan cerita rakyat “Si Pitung”. Cerita ini sarat dengan nilai kepahlawanan, keberanian, dan solidaritas.
Anak-anak diajak untuk memahami bahwa semangat membela kebenaran, menolong sesama, dan berani berbuat baik merupakan nilai yang harus dimiliki setiap insan.
Setelah sesi bercerita, kegiatan dilanjutkan dengan sesi mewarnai. Sukarelawan telah menyiapkan gambar dan crayon yang kemudian dibagikan kepada anak-anak sesuai dengan kelompok belajar masing-masing. Antusiasme siswa terlihat sangat tinggi. Mereka tampak ceria, saling berceloteh, dan menikmati setiap proses pembelajaran. Dengan pakaian seadanya dan perlengkapan yang terbatas, semangat belajar anak-anak tetap tidak surut.
Bermain ‘puzzle’
Sebagai penutup kegiatan, anak-anak diajak bermain ‘puzzle’ bongkar pasang. Permainan ini bertujuan untuk melatih motorik halus, ketepatan berpikir, serta kemampuan memecahkan masalah.
Meski waktu belajar telah berlangsung cukup lama, anak-anak masih menunjukkan keinginan untuk terus belajar. Beberapa dari mereka bahkan berkata, “Kak, lanjut lagi ceritanya,” dengan penuh antusias.
Saat ini, sekolah darurat tersebut menampung 46 siswa. Terdiri atas lima siswa kelas 1, lima siswa kelas 2, sebelas siswa kelas 3, sembilan siswa kelas 4, 12 siswa kelas 5, dan empat siswa kelas 6.
Seluruh siswa berasal dari Desa Serempah yang kini mengungsi ke Desa Rejewali, Kecamatan Ketol.
Selain mengajar, sukarelawan juga menyempatkan diri berbincang dengan warga pengungsian. Salah seorang warga menyampaikan harapannya agar anak-anak juga diajar mengaji, karena sudah cukup lama mereka tidak mendapatkan pembelajaran agama. Bahkan, sebagian anak telah kehilangan buku Iqra yang biasa digunakan untuk belajar membaca Al-Qur’an.
Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi dan perencanaan bagi sukarelawan.
Setiap selesai kegiatan, sukarelawan melakukan evaluasi agar program yang dijalankan tetap sesuai dengan tujuan dan kebutuhan anak-anak.
Menariknya, dalam kegiatan ini tidak hanya anak-anak usia SD yang terlibat. Sebagian siswa juga membawa adik-adik mereka yang lebih kecil untuk ikut belajar dan bermain. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah darurat tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang aman dan penuh harapan bagi anak-anak pengungsi.
Melalui sekolah darurat ini, sukarelawan berharap dapat menyalakan kembali semangat belajar, menumbuhkan optimisme, serta menghadirkan secercah harapan bagi anak-anak di tengah keterbatasan dan situasi darurat yang mereka hadapi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/EKA-MUNANDA-OKE.jpg)