Minggu, 31 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Perilaku Trump: Senjakala Hegemoni Amerika Serikat?

Kebijakan America First mengguncang kepemimpinan global AS, meretakkan aliansi, membuka ruang bagi Cina, dan memaksa Indonesia bersikap adaptif.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO/YouTube Serambinews
Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, M.A. adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Perilaku politik luar negeri Donald Trump dinilai mempercepat erosi kepercayaan global terhadap kepemimpinan Amerika Serikat dan mendorong perubahan tatanan dunia yang semakin cair dan multipolar. 

Eropa merasakan guncangan ini secara mendalam. Sejak akhir Perang Dunia II, keamanan Eropa Barat bergantung pada perlindungan Amerika melalui NATO dan kehadiran militernya. 

Ketika Trump menyebut NATO “ketinggalan zaman” dan mempertanyakan kewajiban Amerika untuk melindungi anggota yang “tidak membayar cukup”, dasar psikologis aliansi tersebut mulai retak.

Respons Eropa bukanlah memutus hubungan, tetapi menyesuaikan strategi. Wacana Kemandirian Strategis Eropa muncul sebagai refleksi bahwa Amerika mungkin tidak selalu hadir sebagai penjamin keamanan. Ini bukan anti-Amerika, tetapi adaptasi rasional terhadap ketidakpastian yang meningkat.

Kanada, sekutu terdekat Amerika secara geografis dan historis, merasakan dampak yang lebih simbolik.

Selama puluhan tahun, hubungan Kanada–Amerika dianggap hampir alami: perbatasan damai terpanjang di dunia, integrasi ekonomi mendalam, dan kerja sama keamanan yang erat. 

Namun, ketika Kanada dikenai tarif baja dan aluminium dengan alasan “keamanan nasional”, kepercayaan yang telah lama dibangun terganggu. Bagi pemimpin Kanada, kebijakan ini menunjukkan bahwa bahkan sekutu paling setia pun dapat diperlakukan sebagai lawan transaksi.

Kanada tidak meninggalkan Amerika, tetapi mulai mempertimbangkan diversifikasi mitra ekonomi dan politik.

Meksiko menghadapi dampak yang lebih keras dan emosional. Retorika Trump tentang imigran, ancaman membangun tembok perbatasan, serta tekanan tarif menciptakan hubungan yang penuh ketegangan.

Meski tetap terikat melalui perdagangan dan rantai pasok, hubungan AS–Meksiko kehilangan unsur kepercayaan dan berubah menjadi relasi defensif. Kedekatan geografis dengan Amerika justru membuat Meksiko lebih rentan terhadap fluktuasi politik domestik AS.

Baca juga: Indonesia di Era “Donroe”: Ujian Kapasitas Negara di Tengah Ambruknya Multilateralisme

Celah bagi Sang Naga: Kebangkitan Pragmastisme Cina

Dalam konteks ini, kebangkitan Cina menjadi semakin relevan. Cina tidak menciptakan krisis kepercayaan terhadap Amerika, tetapi memanfaatkan peluang yang muncul akibat ketidakpastian tersebut. 

Dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, kapasitas manufaktur yang besar, dan proyek besar seperti Jalur Sutra yang menjangkau puluhan negara, Cina menawarkan stabilitas ekonomi dan konsistensi kebijakan jangka panjang - sesuatu yang semakin langka dalam politik Amerika kontemporer.

Bagi banyak negara, terutama di negara berkembang, Cina muncul sebagai mitra pragmatis dan dapat diandalkan, setidaknya dalam hal perdagangan dan pembangunan infrastruktur.

Namun, dunia tidak secara otomatis menggantikan Amerika dengan Cina. Ketergantungan ekonomi tidak selalu berarti kepercayaan politik.

Model politik Cina yang terpusat dan otoriter, keterbatasan pengaruh budaya, serta kecenderungan menggunakan tekanan ekonomi sebagai alat politik membuat Cina sulit diterima sebagai penguasa pengatur dunia adidaya yang normatif.

Dunia mungkin meragukan Amerika, tetapi belum sepenuhnya mempercayai Cina. Yang terjadi bukanlah pergantian hegemon secara langsung, tetapi tatanan yang lebih cair dan beragam pusat kekuatan.

Baca juga: Pecah Rekor! Harga Emas Antam Hari Ini Melonjak Ratusan Ribu per Gram, Simak Update 29 Januari 2026

Dilema Strategis Indonesia: Aktif dan Adaptif

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved