Minggu, 31 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Perilaku Trump: Senjakala Hegemoni Amerika Serikat?

Kebijakan America First mengguncang kepemimpinan global AS, meretakkan aliansi, membuka ruang bagi Cina, dan memaksa Indonesia bersikap adaptif.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO/YouTube Serambinews
Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, M.A. adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Perilaku politik luar negeri Donald Trump dinilai mempercepat erosi kepercayaan global terhadap kepemimpinan Amerika Serikat dan mendorong perubahan tatanan dunia yang semakin cair dan multipolar. 

Bagi negara menengah, termasuk Indonesia, dinamika ini memiliki arti strategis. Selama beberapa dekade, Indonesia beroperasi dalam sistem dunia yang relatif stabil, di mana Amerika Serikat - meski tidak selalu sejalan dengan kepentingan nasional - bertindak sebagai jangkar sistemik.

Jalur perdagangan global, keamanan maritim, dan arsitektur keamanan Asia-Pasifik sebagian besar ditopang oleh peran Amerika.

Ketika kepemimpinan hegemonik ini menjadi lebih tidak dapat diprediksi, Indonesia menghadapi dilema strategis. Di satu sisi, melemahnya kepastian kepemimpinan AS memberi ruang lebih besar untuk kebijakan otonomi.

Di sisi lain, ketidakpastian ini meningkatkan risiko instabilitas kawasan, terutama di Asia Tenggara, yang menjadi pusat rivalitas AS–Cina sekaligus wilayah strategis utama Indonesia.

Hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat relatif stabil dan tidak terguncang secara dramatis seperti sekutu formal AS. Namun, era Trump memperkuat kesadaran bahwa ketergantungan berlebihan pada satu kekuatan besar adalah risiko strategis.

Perubahan kebijakan yang drastis menunjukkan bahwa janji Amerika dapat dikorbankan demi kepentingan politik domestik.

Di sisi lain, Cina adalah mitra dagang utama Indonesia dan investor penting dalam pembangunan infrastruktur.

Namun, klaim wilayah Cina di Laut Cina Selatan, ketimpangan kekuatan, serta kecenderungan menggunakan tekanan ekonomi sebagai alat politik menimbulkan tantangan tersendiri. 

Bagi Indonesia, Cina adalah mitra yang penting, tetapi juga tetangga strategis yang harus dikelola dengan hati-hati.

Respons Indonesia tidak bisa bersifat hitam-putih. Prinsip politik luar negeri bebas dan aktif tetap relevan, tetapi perlu penyesuaian.

Dalam dunia beragam pusat kekuatan, bebas tidak berarti pasif, dan aktif tidak cukup hanya melakukan diplomasi simbolik. Indonesia perlu mengembangkan pendekatan yang bisa disebut aktif dan adaptif.

Pendekatan ini meliputi strategi mengantisipasi risiko secara cerdas - menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat dan Cina secara bersamaan tanpa mengikat diri pada aliansi yang mengurangi fleksibilitas.

Kerja sama militer dengan Amerika bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan, sementara hubungan ekonomi dengan Cina digunakan untuk pembangunan, dengan batasan tegas pada kepentingan nasional.

Menuju Otonomi Strategis di Tengah Ketidakpastian

Selain itu, Indonesia perlu memperkuat ASEAN sebagai instrumen strategis. Dalam situasi melemahnya kepemimpinan Amerika, kekuatan kolektif kawasan menjadi semakin penting.

ASEAN yang solid memberi Indonesia pengaruh lebih besar dalam menghadapi negara besar dan mencegah Asia Tenggara menjadi arena kompetisi yang merugikan.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved