Sabtu, 30 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Perilaku Trump: Senjakala Hegemoni Amerika Serikat?

Kebijakan America First mengguncang kepemimpinan global AS, meretakkan aliansi, membuka ruang bagi Cina, dan memaksa Indonesia bersikap adaptif.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO/YouTube Serambinews
Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, M.A. adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Perilaku politik luar negeri Donald Trump dinilai mempercepat erosi kepercayaan global terhadap kepemimpinan Amerika Serikat dan mendorong perubahan tatanan dunia yang semakin cair dan multipolar. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Selama lebih dari tujuh dekade setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat menempati posisi yang unik dalam tatanan dunia.

Amerika bukan hanya negara dengan kekuatan militer dan ekonomi terbesar, tetapi juga pemimpin global - negara yang tidak hanya mampu memaksakan kehendaknya, tetapi juga membentuk aturan main, menentukan agenda internasional, dan menyediakan kerangka stabilitas yang relatif dapat diandalkan. 

Hegemoni Amerika bertumpu pada kombinasi kekuatan nyata, pengakuan internasional, dan konsistensi perilaku. 

Dunia mengikuti Amerika bukan semata karena takut, tetapi karena percaya bahwa kepemimpinan Amerika lebih dapat diprediksi dibanding alternatif lainnya.

Baca juga: Prabowo dan “Dewan Keamanan Trump“: Keuntungan, Tantangan, dan Risiko

Guncangan "America First" dan Runtuhnya Prediktabilitas

Namun, masa kepresidenan Donald Trump mengguncang dasar kepercayaan ini dan memunculkan pertanyaan yang kini semakin sulit dihindari: apakah perilaku Trump mempercepat kemunduran relatif hegemoni Amerika Serikat?

Trump datang ke Gedung Putih sebagai figur penentang elit penguasa lama dan secara terbuka skeptis terhadap kerja sama internasional dan aliansi.

Slogan America First - Pertama Amerika bukan sekadar retorika politik domestik, tetapi cerminan cara pandang hubungan internasional sebagai transaksi yang harus langsung menguntungkan Amerika.

Dalam pandangan ini, sekutu tidak lagi dipahami sebagai mitra strategis jangka panjang, tetapi sebagai pihak yang “menumpang” pada kekuatan Amerika.

Perubahan pola pikir ini menandai pergeseran besar dari tradisi kebijakan luar negeri Amerika pasca Perang Dunia II. 

Selama Perang Dingin dan sesudahnya, Amerika bersedia menanggung biaya kepemimpinan global - baik dalam bentuk komitmen keamanan, pembukaan pasar, maupun partisipasi dalam organisasi internasional - karena menyadari bahwa stabilitas dunia pada akhirnya menguntungkan kepentingan jangka panjangnya.

Trump, sebaliknya, mempertanyakan logika pendekatan tersebut dan menolak gagasan bahwa Amerika memiliki tanggung jawab khusus untuk menjaga tatanan global.

Dampak paling signifikan dari era Trump bukan hanya pada kebijakan tertentu, tetapi pada terkikisnya prediktabilitas Amerika Serikat.

Bagi sekutu dan mitra, kekuatan seorang pemimpin global tidak hanya diukur dari kapasitasnya, tetapi dari kepastian bahwa janji akan ditepati lintas pemerintahan.

Penarikan Amerika dari Perjanjian Iklim Paris, keluar dari kesepakatan nuklir Iran, meragukan komitmen NATO, serta penerapan tarif terhadap sekutu seperti Kanada dan Uni Eropa mengirimkan pesan yang jelas: komitmen Amerika dapat berubah drastis hanya karena perubahan politik domestik.

Baca juga: Aceh, Rusia, dan Tentara Bayaran: Muhammad Rio vs Hans Christoffel

Retaknya Aliansi Tradisional: Dari Eropa hingga Kanada

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved