Minggu, 10 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Saatnya Seni Islam Bicara dari Aceh

Di tengah dunia seni yang kian terjebak pada bentuk tanpa makna, pada 11 November 2025 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh

Tayang:
Editor: mufti
IST
ICHSAN, M.Sn 

ICHSAN, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh, melaporkan dari Jantho, Aceh Besar

Di tengah dunia seni yang kian terjebak pada bentuk tanpa makna, pada 11 November 2025 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh mencatat sejarah penting yang mungkin akan dikenang kelak sebagai awal dari sebuah kesadaran baru.

Melalui Jurusan Seni Rupa dan Desain, kampus yang berada di Kota Jantho, Aceh Besar, ini curi ‘start’ untuk merayakan Hari Seni Islam Internasional, yang secara global diperingati setiap 18 November.

Dunia mungkin belum tahu, tetapi sejarah akan mencatat, Aceh adalah yang pertama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, yang merayakan Hari Seni Islam Internasional secara resmi dan substantif.

Acara ini tidak dimulai dengan karangan bunga atau pidato panjang. Tidak ada gemerlap panggung modern, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mendalam, sebuah residensi seni yang dilaksanakan di Galeri Seni Rupa dan Desain Kampus C ISBI Aceh.

Di ruang inilah, para seniman, dosen, dan mahasiswa bukan sekadar mencipta karya, melainkan berzikir melalui imajinasi. Mereka menafsir ulang hubungan antara keindahan dan keimanan, antara bentuk dan makna, antara spiritualitas dan kebudayaan.

Dari proses kontemplatif inilah karya-karya akan lahir dan dipamerkan pada puncak Hari Seni Islam Internasional yang digelar pada 18–20 November 2025, seminggu lebih cepat dari kejadian bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sebagian besar wilayah Aceh pada 26 dan 27 November 2025.

Namun, puncak acara itu bukan sekadar pameran rupa. Ia adalah pernyataan kebudayaan yang lantang. Dihadirkan pula pertunjukan Ajang Gelar ISBI Aceh dan Prodi Tari, semuanya bercorak Islam. Gerak, musik, busana, hingga atmosfer ruang, semuanya dibangun dalam kesadaran estetika yang bersumber dari nilai spiritualitas Islam.

Ini bukan seremoni biasa. Ini adalah panggung peradaban. Di sinilah Aceh berbicara kepada dunia bahwa seni Islam bukan milik masa lalu, bukan pula sekadar ukiran masjid dan kaligrafi indah di dinding. Ia adalah bahasa spiritual yang masih hidup dan kini bangkit kembali dari ujung barat Nusantara.

Lalu, mengapa baru sekarang? Mengapa Indonesia, negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia, baru kali ini memperingati Hari Seni Islam Internasional? Apakah kita terlalu sibuk memuja modernitas sampai lupa bahwa akar estetika Islam justru membentuk jati diri kebudayaan Nusantara selama berabad-abad?

Pertanyaan ini mengandung kegelisahan yang wajar. Selama ini, seni Islam di tanah air sering disalahpahami, dipinggirkan, disederhanakan, bahkan kadang dianggap kaku, dan tidak relevan dengan zaman. Padahal, Islamlah yang memberi napas pada seni Nusantara.

Dari kaligrafi pada nisan-nisan Aceh hingga ukiran pada dinding masjid di Jepara, dari irama rapai hingga lantunan kasidah, semua itu adalah bentuk ekspresi iman yang dibungkus keindahan.

Namun ironisnya, warisan itu kerap dianggap masa lalu yang usang.

ISBI Aceh menolak pandangan itu.  Melalui perayaan ini, ISBI menyatakan dengan lantang, seni Islam bukan warisan mati, melainkan sumber inspirasi yang hidup dan menuntun.

Seni Islam bukan sekadar ornamen, melainkan cara berpikir, cara melihat dunia. Ia bukan nostalgia, melainkan harapan baru tentang masa depan kebudayaan yang beradab.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved