Rabu, 29 April 2026

Opini

Gajah Aceh: Kebesaran yang Dirampas, Amanah yang Dikhianati

Jika rumah manusia digusur, marah adalah reaksi wajar. Tetapi ketika gajah bereaksi, kita menyebutnya liar.

Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Allah telah mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41). Ini bukan sekadar nasihat spiritual; ia diagnosis ekologis. Gajah kehilangan habitat, hutan gundul, sungai meluap—semuanya tafsir nyata ayat itu. 

Namun kita masih bertanya, dengan heran yang dibuat-buat: “Kenapa gajah ngamuk?” Jawabannya sederhana: lapar dan terusir. Jika rumah manusia digusur, marah adalah reaksi wajar. Tetapi ketika gajah bereaksi, kita menyebutnya liar. Ketika manusia merusak hutan, kita menyebutnya investasi. Di sinilah nurani kehilangan getarnya.

Rasulullah SAW memberi teladan akhlak ekologis yang tegas. Seorang perempuan diazab karena mengurung kucing hingga mati; sementara yang memberi minum anjing kehausan diampuni dosanya. Pesannya jelas: perlakuan terhadap makhluk hidup bernilai ibadah atau dosa. Jika kucing dan anjing saja diperhitungkan, bagaimana dengan gajah—penopang hutan, air, dan kehidupan?

Islam menegaskan Nabi SAW diutus sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107). Seluruh alam—bukan hanya manusia. Gajah, hutan, sungai, tanah—semuanya amanah. Ketika kita gagal menjaga hubungan dengan alam, kita gagal menjalankan kebajikan paling dasar, meski ibadah lisan terdengar nyaring.

Menjaga Ruang Hidup Gajah

Kearifan Aceh sejatinya sejalan dengan nilai ini. Orang tua Aceh berpesan: alam bak po teumeureuhom, ta jaga bak droe-droe—alam seperti orang tua, harus dijaga dengan hormat. Para endatu memetakan hutan lindung dan hutan adat, menjaga ruang hidup gajah.

Panglima Uteun hadir menjaga rimba melalui patroli adat, pengaturan pemanfaatan hutan, dan sanksi tegas bagi perusak. Hutan dipahami sebagai kesatuan kosmos, bukan komoditas. Mereka tidak berhenti pada simbol; mereka menjaga kehidupan.

Namun generasi hari ini perlahan mengkhianati amanah itu. Hutan dipersempit, adat ditinggalkan, keserakahan diberi mimbar. Maka musibah datang sebagai konsekuensi.

Tidak menjaga gajah berarti tidak menjaga hutan; tidak menjaga hutan berarti mengundang bencana. Banjir bandang akhir 2025 menjadi pengingat pahit: hutan rusak kehilangan daya serap, sungai meluap, tanah longsor. Alam tidak pendendam; ia jujur dan mencatat.

Manusia Tamak

Akar persoalannya satu: ketamakan manusia. Rasulullah SAW mengingatkan, seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, ia menginginkan lembah kedua, lalu ketiga; dan tak ada yang menghentikan kerakusannya kecuali tanah kubur (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam kerakusan itulah hutan ditebang dan gajah diusir—hingga bukan hanya gajah yang kehilangan ruang, manusia pun kehilangan keseimbangan.

Solusi harus dimulai sekarang. Pulihkan hutan dan koridor gajah, lindungi manusia tanpa membunuh satwa, tegakkan hukum tanpa pandang bulu, dan perkuat Panglima Uteun dengan legitimasi serta penghidupan layak. Jadikan pendidikan di sekolah dan dayah sebagai jantung perubahan: budaya cinta satwa, kompetisi menjaga alam, dan akhlak ekologis di masjid serta meunasah—bahwa menjaga alam adalah ibadah.

Rekomendasi ini bukan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Setiap kematian gajah berarti hilangnya satu penjaga hutan dan penyangga air. Serambi Aceh harus kembali menjadi serambi syariah—ruang kedamaian bagi seluruh makhluk. Menyelamatkan gajah berarti menyelamatkan hutan; menyelamatkan hutan berarti menjaga kehidupan. Itulah syariat yang hidup.

Pada akhirnya, gajah Aceh tidak membutuhkan pujian di baliho. Ia membutuhkan rumah yang aman di hutan. Jika gajah punah dan bencana datang, jangan berkata “ini kehendak Tuhan.” Tuhan telah memberi amanah. Yang gagal menjaganya adalah kita.

*) PENULIS adalah Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved