Senin, 27 April 2026

KUPI BEUNGOH

Guru di Persimpangan: Antara Pengabdian dan Kebisuan Akademik

Di titik inilah guru berdiri di persimpangan yang sunyi antara terus mengabdi atau memilih diam demi keamanan diri.

Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul-Jakarta 

Penulis: Dr. Iswadi, M.Pd*)

Guru sejak lama dipahami sebagai simbol pengabdian. Dalam imajinasi publik, ia adalah sosok yang tulus mencerdaskan kehidupan bangsa, rela berkorban waktu, tenaga, bahkan kepentingan pribadi demi peserta didik. 

Pengabdian ini kerap diagungkan, dijadikan standar moral, sekaligus tuntutan sosial. 

Namun, di balik narasi luhur tersebut, terdapat realitas yang jarang disorot: guru semakin kehilangan ruang akademik untuk berpikir kritis dan bersuara bebas. 

Di titik inilah guru berdiri di persimpangan yang sunyi antara terus mengabdi atau memilih diam demi keamanan diri.

Secara ideal, dunia pendidikan adalah ruang intelektual yang hidup. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pemikir, peneliti, dan reflektor praktik pembelajaran. 

Kebebasan akademik seharusnya memungkinkan guru untuk mengkritisi kurikulum, menilai kebijakan pendidikan, serta mengembangkan metode yang sesuai dengan konteks sosial dan kultural peserta didik. Namun, dalam praktiknya, kebebasan tersebut kerap berhenti sebagai slogan. 

Sistem pendidikan yang semakin birokratis justru menempatkan guru sebagai pelaksana kebijakan, bukan mitra intelektual.

Salah satu bentuk paling nyata dari penyempitan ruang akademik adalah beban administrasi yang berlebihan. 

Guru dihadapkan pada tumpukan laporan, instrumen penilaian, dan kewajiban dokumentasi yang menyita energi dan waktu. 

Aktivitas berpikir membaca, menulis, berdiskusi, dan merefleksikan pembelajaran perlahan tergeser. 

Guru lebih sibuk memastikan kelengkapan berkas daripada mengembangkan gagasan. Dalam kondisi ini, pengabdian direduksi menjadi kepatuhan administratif.

Baca juga: Arah Baru Pendidikan Indonesia

Lebih jauh, kultur hierarkis dalam dunia pendidikan mempersempit ruang dialog. Kebijakan sering kali ditetapkan secara top down, dengan asumsi bahwa realitas di lapangan dapat diseragamkan. 

Guru yang mencoba menyuarakan kritik atau ketidaksesuaian kebijakan dengan kondisi kelas sering kali dicap sebagai tidak disiplin atau kurang loyal. 

Alih alih dilihat sebagai bagian dari dinamika akademik, kritik dipersepsikan sebagai gangguan stabilitas. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved