Kupi Beungoh
Ramadhan sebagai Benteng Erosion of Faith by Exposure di Era Digital
Iman tidak hilang dalam satu kejadian besar yang mengguncang keyakinan, tetapi terkikis perlahan melalui kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
Ketika kebiasaan yang berulang pelan-pelan menggeser perhatian dan mengurangi kekuatan batin, hadir satu masa yang memberi kesempatan untuk menata ulang.
Dalam konteks inilah Ramadhan menjadi relevan. Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi kesempatan untuk memperkuat kembali daya tahan batin setelah sekian lama perhatian tersebar ke banyak hal yang kurang bernilai.
Jika iman bisa melemah karena pengulangan kebiasaan kecil, maka penguatannya pun tumbuh melalui cara yang mirip, yakni kebiasaan baik yang dijaga dan diulang setiap hari.
Puasa adalah latihan pengendalian diri yang nyata. Bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan dorongan berlebihan, termasuk dalam mengonsumsi informasi dan hiburan.
Dari proses menahan diri itu, orang biasanya mulai lebih jujur melihat ulang kebiasaan yang selama ini terasa nyaman dijalani. Banyak hal yang sebelumnya dianggap wajar, ternyata menguras fokus dan energi batin.
Selama Ramadhan, pola keseharian sosial dan keagamaan ikut berubah. Masjid lebih hidup, tadarus meningkat, kajian diikuti lebih luas, sedekah bertambah, dan percakapan keagamaan lebih sering hadir.
Suasana seperti ini memberi asupan makna yang lebih kuat bagi hati. Yang sebelumnya dipenuhi hal-hal yang melalaikan perlahan diganti dengan ingatan kepada Allah, Al-Qur’an, dan nilai akhirat.
Di luar Ramadhan, yang sering mendominasi adalah dorongan duniawi. Selama Ramadhan, yang menguat kebiasaan ibadah, refleksi, dan pengendalian diri.
Perubahan arah kebiasaan ini membuat Ramadhan berfungsi sebagai benteng terhadap proses pengikisan iman yang berjalan pelan tetapi terus-menerus.
Agar manfaat ini terasa, diperlukan kesadaran pribadi. Mengurangi aktivitas digital yang tidak bernilai, memilih konten yang lebih mendidik, serta mengganti waktu luang dengan tadarus, dzikir, dan membaca adalah langkah sederhana namun menentukan. Tidak perlu drastis, tetapi nyata.
Lingkungan juga memegang peranan penting. Keluarga, kerabat, dan pergaulan yang kondusif membantu menjaga konsistensi. Banyak kajian sosial menunjukkan bahwa kebiasaan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkaran terdekatnya. Dalam urusan iman, pengaruh itu terasa kuat.
Ujian sebenarnya muncul setelah Ramadhan berlalu. Ketika suasana kembali biasa, kebiasaan lama mudah mengambil tempat lagi. Jika tidak ada praktik baik yang dipertahankan, proses terkikisnya iman bisa berulang dengan pola yang sama.
Karena itu, Ramadhan layak dipahami sebagai masa pelatihan intensif. Selama satu bulan, seseorang melatih disiplin batin, mengatur ulang waktu, dan membangun kebiasaan spiritual yang lebih sehat. Harapannya, kekuatan itu tidak berhenti di akhir Ramadhan, tetapi berlanjut dalam sebelas bulan berikutnya.
Ramadhan memberi kesempatan untuk berhenti sejenak, membersihkan hati, dan menata ulang prioritas hidup. Jika dijalani dengan sadar, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah rutin, tetapi juga perisai yang menjaga iman tetap bernyala di tengah perubahan zaman.
Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya lepas dari dunia digital, tetapi kita bisa memberi batas. Menyediakan waktu untuk berzikir dan membiasakan diri kembali dengan Al-Qur’an serta doa adalah langkah kecil yang berdampak besar.
| Menyoal Kerugian Negara dari Praktik Under Invoicing SDA |
|
|---|
| Belajar Menjahit Sambil Kuliah: Kini Riki Punya Usaha Konveksi Sendiri |
|
|---|
| Belum Sembuh dari Corona, Membedah Trauma Kolektif Penonton Berita Hantavirus |
|
|---|
| Rp 1.620 Triliun untuk MBG, Mengapa Bukan untuk Menghidupkan Dapur Rakyat? |
|
|---|
| Sulaiman Tripa: Dari Pantee Raja ke Mimbar Profesor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alumnus-Pascasarjana-FMIPA-UNPAD-Bandung-Djamaluddin-Husita.jpg)