Senin, 13 April 2026

Kupi Beungoh

Ramadhan sebagai Benteng Erosion of Faith by Exposure di Era Digital

Iman tidak hilang dalam satu kejadian besar yang mengguncang keyakinan, tetapi terkikis perlahan melalui kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.

Editor: Agus Ramadhan
Serambinews.com/HO
Kepala MA Ulumul Quran Kota Banda Aceh, Djamaluddin Husita 

*) Oleh: Djamaluddin Husita, S.Pd., M.Si

SUATUwaktu saya membaca sebuah kajian tentang kehidupan manusia di era digital yang menyebutkan bahwa ancaman terbesar terhadap iman bukan lagi penolakan terhadap agama, melainkan keterbukaan yang terus-menerus terhadap hal-hal yang melalaikan.

Iman tidak hilang dalam satu kejadian besar yang mengguncang keyakinan, tetapi terkikis perlahan melalui kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.

Ketika waktu lebih banyak dihabiskan di depan layar ponsel, media sosial, dan berbagai platform digital daripada untuk refleksi diri, ketika pikiran lebih dipenuhi arus informasi dan hiburan daripada dzikir, maka yang berubah bukan sekadar gaya hidup, tetapi kondisi batin.

Fenomena ini dalam kajian kontemporer sering disebut erosion of faith by exposure, yaitu terkikisnya iman karena terlalu sering bersentuhan dengan hal-hal yang menjauhkan hati dari nilai spiritual.

Prosesnya tidak berlangsung drastis atau mengejutkan. Justru terjadi pelan, bertahap, dan sering tidak terasa.

Kita hidup di zaman yang terbuka. Melalui ponsel di tangan, gaya hidup, opini, hiburan, dan tren global masuk ke ruang pribadi tanpa penghalang. Informasi datang tanpa jeda, hiburan tersedia setiap saat. Kemudahan ini membawa banyak manfaat, tetapi juga memunculkan banjir hal-hal instan yang membawa mudharat.

Awalnya mungkin hanya kebiasaan mengisi waktu luang dengan berselancar di media sosial. Lalu muncul kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih berhasil atau lebih bahagia. Tanpa terasa, orientasi hidup bergeser. Keinginan duniawi makin dominan, sementara perhatian terhadap kebutuhan ruhani makin menipis.

Gejalanya terasa dalam keseharian. Ibadah menjadi kurang khusyuk, waktu berzikir berkurang, dan hati mudah gelisah. Kondisi seperti ini jarang disebabkan oleh runtuhnya iman secara mendadak, melainkan karena hati terlalu sering dipenuhi hal yang tidak memberi nutrisi spiritual.

Apa yang kini disebut erosion of faith by exposure sebenarnya bukan konsep asing dalam khazanah Islam. Para ulama sejak lama menjelaskan bahwa hati sangat dipengaruhi oleh apa yang sering dilihat, didengar, dan dikerjakan.

Rasulullah menggambarkan perubahan hati sebagai proses bertahap. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap kali seseorang melakukan kesalahan (baca=dosa), muncul satu titik hitam di hatinya. Jika bertaubat, hati kembali bersih.

Namun jika kesalahan diulang, titik itu bertambah hingga menutup hati. Pesan ini menegaskan bahwa kerusakan spiritual sering terbentuk dari pengulangan, bukan semata dari satu peristiwa besar.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hati akan cenderung mengikuti apa yang terus-menerus masuk ke dalamnya. Jika diisi dengan kelalaian, hati terbiasa lalai. Jika dibiasakan dengan dzikir dan kebaikan, hati menjadi hidup. Artinya, kualitas iman tidak hanya ditentukan oleh keyakinan, tetapi juga oleh pola kebiasaan harian.

Imam Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa hati bisa mengeras karena tenggelam dalam urusan dunia dan kelalaian yang berulang. Kelalaian kecil yang dibiarkan terus-menerus dapat menimbulkan dampak besar pada kondisi batin.

Dalam kehidupan modern, bentuk gangguan makin beragam: hiburan tanpa batas, arus informasi deras, budaya konsumtif, dan gaya hidup serba cepat. Jika tidak ada kendali, perhatian mudah berpindah dari kedalaman ke permukaan, dari perenungan ke pengalihan.

Momentum Membentengi Iman

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved