Jumat, 5 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Teater Ambisi Trump dan Iran: Apa Beda “Pungo” dan “Puleh Pungo”

Dalam bahasa Aceh, ketika ada orang yang berkomentar “Trump is crazy,” padanan kata yang sering dipakai adalah “pungo”. 

Tayang:
Editor: Zaenal
Serambinews.com/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Ketika risiko perang regional begitu besar, kalkulasi rasional sering kali mengalahkan dorongan retorika.

Ketika Pungo Bertemu Puleh Pungo

Pada akhirnya, konflik AS - Iran lebih menyerupai pertunjukan psikologis daripada duel terbuka. 

Metafora “pungo” versus “puleh pungo” membantu menjelaskan dinamika tersebut tanpa harus memahaminya secara harfiah. 

Ia menggambarkan pertemuan antara kenekatan demonstratif dan kesiapan menghadapi eskalasi ekstrem. 

Satu pihak menonjolkan superioritas material dan efek dramatis; pihak lain menekankan ketahanan historis dan kesiapan memperluas medan konflik.

Kemungkinan besar, tujuan akhir bukanlah kehancuran total, melainkan negosiasi ulang posisi tawar. 

Amerika Serikat ingin memastikan kepentingan strategisnya terlindungi. 

Iran ingin mempertahankan kedaulatan dan pengaruh regionalnya. 

Ketegangan menjadi alat untuk membentuk hasil akhir yang lebih menguntungkan masing-masing pihak.

Namun dunia harus memahami satu hal: ketika “pungo” bertemu dengan “puleh pungo”, risiko terbesar bukanlah siapa yang terlihat paling berani, melainkan seberapa jauh api konflik dapat menjalar. 

Dan dalam geopolitik Timur Tengah, sekali bara menyala, memadamkannya sering kali jauh lebih sulit daripada menyalakannya.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved