Minggu, 10 Mei 2026

Jurnalisme Warga

ISBI Aceh Menanti Nakhoda Baru

Waktu sembilan bulan menuju akhir masa jabatan rektor terasa singkat dalam kalender birokrasi, terasa panjang dalam sejarah institusi.

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/HO/IST
ICHSAN, M.Sn.,  Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh 

ICHSAN, M.Sn.,  Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh

Tahun ini ISBI Aceh sedang berada pada fase yang menentukan. Bukan fase krisis, bukan pula fase euforia. Kampus seni negeri ini berdiri di ruang antara kepemimpinan yang masih berjalan dan kepemimpinan yang akan segera berganti.

Waktu sembilan bulan menuju akhir masa jabatan rektor terasa singkat dalam kalender birokrasi, terasa panjang dalam sejarah institusi.  Pada titik inilah refleksi perlu dilakukan secara jujur dan terbuka.

Menanti nakhoda baru bukan berarti mengganggu pelayaran yang sedang berlangsung. Menanti, berarti memastikan kapal ini tetap berlayar dengan arah yang jelas. Pergantian rektor di perguruan tinggi seni tidak pernah menjadi peristiwa biasa. Prosesnya panjang, bertahap, dan sarat makna. Penentuan suara senat, penjaringan bakal calon, pemaparan visi dan misi, hingga pengambilan keputusan akhir membentuk fondasi arah institusi bertahun-tahun ke depan.

Tulisan ini tidak berangkat dari hasrat memanas-manasi proses pemilihan rektor. Tulisan ini lahir dari kesadaran bahwa ISBI Aceh membutuhkan kepemimpinan yang tepat pada momentum yang tepat. Kepemimpinan yang mampu membaca masa lalu, mengelola masa kini, dan menyiapkan masa depan.

Dalam satu dekade perjalanan, ISBI Aceh telah mencatat banyak langkah penting. Penguatan kelembagaan, peningkatan aktivitas akademik, bertambahnya jejaring penelitian dan pengabdian, serta tumbuhnya kepercayaan publik terhadap kampus seni yang berada di Kota Jantho ini. Semua itu menjadi fakta yang tidak bisa diabaikan. Prestasi yang diraih sering hadir dalam skala yang tampak kecil, tetapi berdampak besar bagi ekosistem seni dan pendidikan budaya Aceh.

Apresiasi terhadap kepemimpinan hari ini menjadi sikap yang patut dijaga. Institusi yang sehat, menghormati kerja yang telah dilakukan. Dari fondasi inilah keberlanjutan bisa dibangun. Pergantian kepemimpinan tidak seharusnya menjadi momen pemutusan sejarah. Pergantian kepemimpinan perlu menjadi fase penyempurnaan arah.

Tantangan ISBI Aceh ke depan bergerak dalam lanskap global yang berubah cepat. Periode 2026 hingga 2030 akan menjadi masa krusial bagi pendidikan seni di seluruh dunia.

Digitalisasi praktik seni semakin intens. Kecerdasan buatan (AI) mulai masuk ke wilayah penciptaan artistik. Kolaborasi lintas disiplin tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan.

Seni bertaut erat dengan isu lingkungan, identitas, keberlanjutan, dan keadilan sosial.

UNESCO terus menekankan pentingnya perlindungan warisan budaya takbenda sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.

Di sisi lain, industri kreatif berbasis budaya lokal tumbuh sebagai kekuatan ekonomi baru. Perguruan tinggi seni dituntut hadir sebagai pusat produksi pengetahuan, bukan sekadar ruang latihan teknis. Kampus seni harus menjadi ruang riset, ruang refleksi, dan ruang dialog global.

Dalam konteks ini, ISBI Aceh memikul tanggung jawab ganda. Di satu sisi, kampus ini menjadi penjaga nilai dan ekspresi budaya Aceh. Di sisi lain, kampus ini dituntut berinteraksi aktif dengan dinamika seni global.

Tugas ini tidaklah ringan. Kepemimpinan ke depan harus mampu menjaga keseimbangan antara akar lokal dan cakrawala global.

Nakhoda ISBI Aceh periode 2026–2030 harus memiliki kapasitas membaca perubahan zaman. Kepemimpinan semacam ini tidak cukup mengandalkan karisma personal. Kepemimpinan ini membutuhkan literasi global, keberanian intelektual, serta kecakapan manajerial.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved