Jurnalisme Warga
ISBI Aceh Menanti Nakhoda Baru
Waktu sembilan bulan menuju akhir masa jabatan rektor terasa singkat dalam kalender birokrasi, terasa panjang dalam sejarah institusi.
Dunia pendidikan tinggi bergerak menuju kompetisi reputasi, kolaborasi internasional, dan penguatan riset. Perguruan tinggi seni tidak berada di luar arus ini.
Pakar pendidikan tinggi Philip Altbach menyebut bahwa universitas masa depan ditentukan oleh kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan visi akademik dengan tuntutan global tanpa kehilangan identitasnya.
Bagi ISBI Aceh, pesan ini sangat relevan. Seni Aceh memiliki kekayaan simbolik, historis, dan sosial yang kuat. Kekayaan ini perlu dikembangkan melalui riset, publikasi, dan diplomasi budaya.
ISBI Aceh membutuhkan nakhoda yang memahami seni sebagai pengetahuan. Seni bukan sekadar pertunjukan, melainkan cara berpikir, cara membaca realitas, dan cara membangun peradaban.
Pemimpin yang memahami hal ini akan mendorong riset seni, mendorong dosen dan mahasiswa menulis, mendorong karya seni menjadi sumber pengetahuan yang diakui secara akademik.
Kepemimpinan ke depan juga dituntut peka terhadap konteks sosial Aceh. Kampus seni di Aceh tidak beroperasi dalam ruang netral. Norma sosial, nilai agama, dan dinamika budaya membentuk ekosistem yang khas.
Tantangan ini tidak boleh dilihat sebagai hambatan. Tantangan ini perlu diolah menjadi kekuatan melalui dialog, etika, dan pendekatan akademik yang matang.
Keberlanjutan menjadi kata kunci utama. ISBI Aceh tidak membutuhkan nakhoda yang gemar memutus mata rantai program. ISBI Aceh membutuhkan nakhoda yang mampu merawat capaian, memperbaiki kekurangan, dan mengembangkan arah secara bertahap.
Program yang baik perlu diperkuat. Sistem yang berjalan perlu disempurnakan. Visi institusi perlu dirumuskan secara kolektif.
Dokumen strategis seperti Renstra dan Rencana Induk Pengembangan harus ditempatkan sebagai kompas institusi. Dokumen ini tidak boleh menjadi arsip mati. Dokumen ini perlu menjadi rujukan nyata dalam pengambilan kebijakan. Dengan cara ini, pergantian nakhoda tidak mengguncang arah dasar institusi.
Momentum pemilihan rektor tahun ini seharusnya menjadi ruang adu gagasan tentang masa depan ISBI Aceh. Visi yang ditawarkan para calon perlu menjawab tantangan konkret. Yakni, bagaimana ISBI Aceh memperkuat posisi riset seni, bagaimana ISBI Aceh membangun jejaring internasional, dan bagaimana ISBI Aceh menjadikan seni Aceh sebagai bagian dari percakapan global.
Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut jawaban yang jujur dan terukur.
Kepada para calon nakhoda, satu kesadaran perlu ditegaskan. ISBI Aceh adalah kampus negeri yang masih muda. Tantangannya besar. Infrastruktur perlu terus diperbaiki. Sumber daya manusia perlu dikembangkan. Reputasi akademik perlu dibangun dengan kerja panjang. Kepemimpinan di ISBI Aceh adalah kerja strategis, bukan ruang simbolik.
Harapan sivitas akademia sederhana dan tegas. Mereka menginginkan pemimpin yang hadir, mendengar, dan memutuskan dengan arah yang jelas. Mereka menginginkan kepemimpinan yang adil, transparan, dan berpihak pada misi pendidikan. Mereka menginginkan kampus yang tumbuh bersama zaman, tanpa kehilangan jati diri.
Pada akhirnya, ISBI Aceh bukan milik segelintir orang. ISBI Aceh adalah milik Aceh. ISBI adalah milik Indonesia. ISBI Aceh adalah bagian dari dunia. Kesadaran ini menuntut tanggung jawab bersama. Menanti nakhoda baru berarti menyiapkan masa depan dengan kepala dingin dan pandangan jauh.
ISBI Aceh layak tumbuh sebagai pusat unggulan seni dan budaya yang berakar kuat dan berpandangan global. Kapal ini membutuhkan pemimpin yang memahami arah, menghormati perjalanan, dan berani membawa ISBI Aceh menuju cakrawala yang lebih luas. < ichsanteuku>
Jurnalisme Warga
Penulis JW
ISBI Aceh Menanti Nakhoda Baru
ICHSAN MSn
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Potret Koper Jemaah Calon Haji Perempuan Menuju Baitullah |
|
|---|
| Hikayat Hasan Husein, Genderang Perang Rakyat Barsela Saat Melawan Belanda |
|
|---|
| Tujuh Tahun Uniki, Bergerak Mengejar Prestasi |
|
|---|
| Menyemai Ide Pendidikan Sehat, Berkelanjutan, dan Berakar pada Sejarah Aceh |
|
|---|
| Diam-Diam Masuk ke Tubuh, Mikroplastik Jadi Ancaman |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ICHSAN-M-Sn-BARU-LAGIII.jpg)