Kupi Beungoh
Menghadapi Perang & Dunia Global: Umat Islam Butuh Pendidikan Yang Berkualitas
Tantangan utama masa kini dan masa depan adalah Pertama, Kesehatan Mental dan Digital.
Seorang calon guru Pendidikan Agama Islam. Ia wajib menguasai Al-Qur'an (mampu membaca, menghafal, menterjemahkannya), dan menguasai ilmu-ilmu yang terkait dengan Al-Qur'an (Ulumul Qur'an).
Seorang calon guru Pendidikan Agama juga wajib, menguasai Hadits (membaca, menterjemahkan dan menghafal Hadits) dan menguasai ilmu yang terkait dengan Hadits (Ulumul Hadits).
Selain itu seorang calon guru PAI harus banyak membaca buku Sirah Nabawiyah, sirab orang-orang shaleh, sirah para sahabat untuk standar akhlak dan teladan sebagai seorang guru. Selain itu, seorang calon guru PAI harus, menguasai ilmu fikih dan bagaimana melaksanakan praktek ibadah sehari-sehari dengan baik dan benar.
Seorang guru PAI wajib belajar Ushul fikih dan Bahasa Arab untuk mendukung kualitas ilmu Agama ketika ia mengajar.
Terakhir seorang guru PAI harus belajar strategi pembelajaran dan ilmu jiwa, agar pembelajaran menjadi menarik, terencana, terukur hasilnya, efektif dan efisien pembelajarannya. Inilah ukuran kualitas guru PAI yang mesti di pastikan sebelum ia dinyatakan lulus, karena ia akan menyampaikan Agama kepada murid-muridnya.
Seorang lulusan fakultas dakwah, ia wajib mempelajari Ayat-Ayat dan Hadits tentang Perintah Dakwah, lalu ia belajar segala ilmu Agama, seperti Fikih, Sirah Nabawiyah, Bahasa, menghafal Al-Qur'an Dan Hadits, untuk materi dakwah.
Agar Dakwahnya sesuai dengan perkembangan zaman, mahasiswa wajib diajarkan tentang IT, atau dakwah digital, sehingga ia bisa membuat konten-konten dakwah lewat media digital.
Kepada Mahasiswa diajarkan teori dan praktek dakwah dengan lisan, dakwah bil hal (teladan) atau dakwah lewat media digital. Lulusan fakultas dakwah wajib menjadi seorang pendakwah, boleh pendakwah lisan (ceramah dari panggung ke panggung), atsu dakwah bil hal (teladan), atau dakwah lewat digital. Ini baru disebut berkualitas.
Ciri kedua, Guru Profesional dan Berdedikasi: Pengajar yang mampu memfasilitasi kebutuhan siswa, peduli terhadap perkembangan psikologis, serta terus belajar.
Ciri ketiga; Kurikulum yang Relevan: Kurikulum yang kontekstual dengan perkembangan zaman dan kebutuhan dunia kerja, mempersiapkan siswa menghadapi tantangan global.
Ciri keempat; Lingkungan Belajar yang Inklusif dan Aman: Menyediakan akses yang sama bagi semua anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, serta menciptakan suasana aman dan mendukung.
Ciri kelima; Fasilitas dan Sumber Daya yang Memadai: Akses terhadap buku, teknologi, dan infrastruktur fisik yang layak untuk mendukung efektivitas pembelajaran.
Dengan demikian, kualitas lulusan sebuah lembaga pendidikan dapat kita lihat dari sikap keberagamaan peserta didik (agamis, ta'at). Lalu kemampuan menguasai teori, data, fakta dari ilmu yang is tekuni, ditambah kemampuan praktek, pengembangan ilmunya dan sikap simpati, empati terhadap orang lain.
Murid atau mahasiswa menguasai dengan benar dan tuntas berbagai teori di bidang yang ia menjadi ahli di dalamnya. Penguasaan teori itu penting sebagai acuan, dasar dan bentuk dalam melakukan pengembangan.
Sehingga dengan ilmunya lahir pribadi yang shalih lagi bertaqwa (takut dan cinta ia kepada Allah).
| Alue Naga: Menemukan Ketenangan dalam Kesederhanaan |
|
|---|
| Refleksi Lima Tahun Blok B: Saatnya Aceh Menuntut Trasparansi dan Keadilan Distributif |
|
|---|
| Pelajaran Tangkulo dari Kebun Pak Yusuf |
|
|---|
| Merawat Identitas Serambi Mekkah di Tengah Arus Modernisasi |
|
|---|
| Penundaan Persetujuan PoD I Gubernur Aceh: Antara Romantisme Sejarah dan Realisme Investasi Global |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-M-Ag-Dosen-Pendidikan-Agama-Islam-UIN-Ar-Raniry-28.jpg)