Senin, 13 April 2026

Jurnalisme Warga

Meneguhkan Pusat Peradaban: Langkah Strategis ISBI Aceh Membuka Prodi Sejarah

Aceh bukanlah sekadar wilayah geografis, melainkan sebuah episentrum peradaban yang pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan, pusat dagang

Editor: mufti
IST
MUHAMMAD AQIL, Mahasiswa Desain Komunikasi Visual ISBI Aceh, melaporkan dari Kota Jantho, Aceh Besar 

MUHAMMAD AQIL, Mahasiswa Desain Komunikasi Visual ISBI Aceh, melaporkan dari Kota Jantho, Aceh Besar

Di ujung barat kepulauan Nusantara, berdiri sebuah negeri yang namanya pernah bergema hingga ke seantero dunia: Aceh. Aceh bukanlah sekadar wilayah geografis, melainkan sebuah episentrum peradaban yang pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan, pusat dagang internasional, dan kerajaan maritim yang disegani.

Kini, semangat untuk menghidupkan kembali kegemilangan itu menemukan momentumnya. Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, membuka Program Studi (Prodi) Sejarah pada tahun 2026. Ini bukan sekadar menambah deretan prodi. Ini adalah sebuah deklarasi sekaligus aksi strategis untuk meneguhkan kembali Aceh sebagai pusat peradaban, dengan sejarah sebagai fondasi utamanya.

Keputusan ISBI Aceh ini sangat tepat dan kontekstual. Aceh memang kaya sejarah, tapi ironisnya, narasi besar itu kerap tersegmentasi, terpinggirkan, atau hanya menjadi cerita pengantar tidur belaka.

Sejarah pelayaran dan perdagangan Aceh misalnya, adalah saga global. Menurut catatan sejarawan Anthony Reid dalam “Sumatra: An Anthology”, pada abad ke-16 dan 17, Pelabuhan Malaka (yang berada di bawah pengaruh Aceh) dan Pelabuhan Samudera Pasai adalah ‘entrepôt’ terkemuka di dunia.

Rempah-rempah, emas, dan sutra mengalir deras, menarik pedagang dari Arab, Persia, India, Cina, dan Eropa. Bandar Aceh Darussalam di masa Sultan Iskandar Muda adalah kota kosmopolitan yang ramai, setara dengan pelabuhan besar di Asia lainnya.

Fakta  ini sering luput dari ingatan kolektif generasi muda yang mungkin lebih mengenal sejarah maritim Eropa.

Selain itu, Aceh memiliki tradisi agraris dan bahari yang berkelindan. Masyarakat pesisir dengan keahlian membuat kapal dan navigasi laut lepas, berpadu dengan masyarakat pedalaman yang ahli dalam pertanian dan perkebunan lada.

Simbiosis inilah yang menciptakan kemakmuran. Namun, dalam kurikulum pendidikan nasional maupun lokal, dimensi keterkaitan ini jarang dieksplorasi secara mendalam. Sejarah cenderung diajarkan secara linear dan politis, mengabaikan aspek ekonomi, budaya, dan teknologi yang justru menjadi roh peradaban.

Di sinilah Prodi Sejarah ISBI Aceh diharapkan tampil dengan  paradigma baru. Sejarah tidak boleh dipahami dari satu sisi saja. Sejarah maritim Aceh misalnya, harus dikaji tidak hanya dari pertempuran laut dan diplomasi, tetapi juga dari sudut pandang ekonomi global, teknologi pembuatan kapal (Jalur Jati), jaringan ulama-dagang, serta dampaknya pada struktur sosial masyarakat.

Pengkajian terhadap manuskrip kuno, seperti Hikayat Aceh, Hikayat Malem Dagang, atau risalah-risalah dari zaman Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh, akan mengungkap tidak hanya silsilah raja, tetapi juga hukum dagang (seperti Qanun Syarak Kerajaan Aceh), sistem perpajakan, konsep ‘urban planning’, dan nilai-nilai estetika.

Data dari Museum Aceh dan berbagai penelitian filologi menunjukkan terdapat ribuan manuskrip Aceh yang tersebar di dalam dan luar negeri. Banyak di antaranya masih belum terbaca dan terkelola dengan baik. Prodi Sejarah memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan sejarawan-sejarawan sekaligus filolog yang mampu menyelami khazanah tulisan tangan ini. Mereka adalah jendela utama untuk memahami pikiran, sistem nilai, dan capaian peradaban Aceh masa lalu.

Lebih dari itu, ISBI sebagai institut seni dan budaya memiliki keunggulan komparatif yang unik. Pendekatan sejarah di sini harus bersifat interdisipliner, melihat keterkaitan erat sejarah dengan seni pertunjukan (seperti tari seudati dan rapai geleng yang mengandung nilai kepahlawanan dan religiositas), seni rupa (ornamen pada nisan dan bangunan tradisional), sastra (hikayat dan pantun), serta arsitektur (Mesjid Raya Baiturrahman, Istana Dalam). Sejarah bukanlah cerita mati, tetapi denyut nadi yang masih hidup dalam praktik budaya masyarakat sehari-hari, mulai dari tradisi peusijuek, ‘khanduri’, hingga ritual ‘laot’ (selamatan laut) yang mencerminkan filosofi hidup Bahari masyarakat Aceh.

Membuka prodi sejarah juga merupakan jawaban atas tantangan masa kini. Aceh pascakonflik dan pascatsunami serta banjir bandang sedang dalam proses membangun identitas dan masa depannya. Memahami sejarah secara komprehensif dengan segala kejayaan, konflik, dan ketangguhannya, akan memberikan fondasi yang kuat untuk membangun karakter bangsa Aceh ke depan.

Sejarah mengajarkan tentang kemampuan beradaptasi, diplomasi, pengelolaan sumber daya alam, dan ketangguhan menghadapi bencana. Nilai-nilai inilah yang perlu diwariskan kepada anak cucu agar mereka tidak kehilangan akar, tetapi sekaligus mampu bersaing di dunia global.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved