KUPI BEUNGOH
Jejak Gajah dalam Regenerasi Hutan Sumatera
Bagi gajah, waktu tidak diukur oleh matahari, melainkan oleh kebutuhan fisiologis tubuh. Mereka hidup dalam siklus makan yang nyaris tanpa henti.
Oleh: Azhar*)
DI hutan Sumatera, di antara celah tajuk dipterocarpaceae, seekor gajah Sumatera betina dewasa memimpin kelompoknya memulai aktivitas harian. Dalam struktur sosial gajah, betina tertua biasanya menjadi pemimpin kawanan.
Bagi gajah, waktu tidak diukur oleh matahari, melainkan oleh kebutuhan fisiologis tubuh.
Mereka hidup dalam siklus makan yang nyaris tanpa henti, dengan estimasi 16–18 jam per hari dihabiskan untuk mencari dan mengonsumsi pakan, sebuah strategi energi yang memungkinkan mereka mempertahankan massa tubuh raksasa sekaligus kestabilan metabolik (Sukumar, 2003).
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan mamalia darat terbesar di Indonesia, dengan bobot tubuh dewasa berkisar antara 2,25 hingga 5,5 ton (Sukumar, 2003; Kinnaird & O’Brien, 2020).
Untuk mempertahankan kebutuhan metaboliknya, seekor gajah membutuhkan sekitar 150–200 kilogram biomassa tumbuhan per hari, termasuk rumput, daun, kulit kayu, dan ranting muda (Holdo et al., 2009).
Seluruh pakan tersebut dipilih, dipungut, dan diproses menggunakan belalai—organ prehensil yang tersusun dari sekitar 40.000 unit otot individual, tingkat kompleksitas biomekanik yang bahkan melampaui jumlah otot dalam keseluruhan tubuh manusia (Shoshani, 1998).
Rumput dicabut dengan presisi mekanik, lalu diibaskan ke kaki untuk menghilangkan tanah—sebuah perilaku higienis yang diturunkan secara turun-temurun antar generasi.
Praktik sederhana ini membantu mengurangi konsumsi partikel abrasif yang dapat mengganggu saluran pencernaan bagian belakang (Sukumar, 2003).
Untuk menopang ketahanan fisiologisnya yang besar, gajah Sumatera mengandalkan diet multikomponen dengan fungsi nutrisi yang saling melengkapi.
Rumput dan herba menyediakan serat struktural berupa selulosa dan hemiselulosa yang dicerna melalui mekanisme hindgut fermentation, yaitu fermentasi mikroba di sekum (bagian awal usus besar) dan kolon.
Proses ini menghasilkan asam lemak volatil seperti asetat, propionat, dan butirat sebagai sumber energi metabolik utama (Clauss et al., 2003).
Pucuk bambu, rotan muda, serta daun leguminosa liar menjadi sumber nitrogen dan protein kasar untuk regenerasi jaringan serta sintesis enzim.
Buah-buahan hutan, seperti buah dari Ficus spp., menyuplai gula sederhana, kalium, serta senyawa antioksidan yang membantu menjaga keseimbangan elektrolit dan fungsi sel.
Sementara itu, umbi dan akar menyimpan karbohidrat kompleks sebagai cadangan energi jangka panjang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Artikel-Azhar-tentang-Gajah.jpg)