KUPI BEUNGOH
Kemenyan dan Harimau, Bahasa Sunyi dari Hutan Sumatera
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), satwa yang memberi tahu kehadirannya tanpa harus berhadapan langsung dengan manusia.
Ketika seekor harimau mengencingi satu titik tertentu, itu berarti ia sedang menyampaikan pesan bahwa wilayah ini telah ditempati.
Harimau lain yang melintas akan membaca pesan tersebut melalui indera penciumannya yang tajam. Bahasa bau ini jauh lebih efektif dibanding konfrontasi fisik.
Harimau Sumatera jantan diketahui memiliki wilayah jelajah yang sangat luas, mencapai hingga 28.900 hektare (Karanth & Nichols, 2011). Sementara itu, wilayah harimau betina umumnya hanya sekitar setengahnya.
Luasan ini bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan ekologis agar mangsa tetap tersedia dan konflik dapat dihindari.
Selain melalui bau, harimau juga meninggalkan tanda visual berupa cakaran pada batang pohon. Cakaran ini biasanya ditempatkan di jalur lintasan penting sebagai penegas kehadiran sekaligus peringatan bagi individu lain.
Kemenyan: Bahasa Manusia kepada Hutan
Di berbagai wilayah Sumatera, terutama pada komunitas adat yang hidup berdampingan dengan hutan, berkembang kearifan lokal yang secara tidak langsung menjadi bentuk komunikasi antara manusia dan harimau (Dove, 2011; Lansing, 2012).
Baca juga: BPN Aceh Serahkan Program Penyediaan Tanah Eks Kombatan Kepada Wali Nanggroe
Baca juga: Satgas MBG Aceh Selatan akan Bahas Hasil Uji Lab Dugaan Keracunan MBG Aceh Selatan Senin Depan
Salah satu praktik yang masih dijumpai adalah kebiasaan membakar kemenyan saat memasuki hutan untuk mencari madu, rotan, damar, atau hasil hutan lainnya (Ellen, 2006; Iskandar, 2018).
Tindakan ini sering dipahami secara spiritual sebagai permohonan izin kepada penjaga hutan. Namun pada saat yang sama, praktik ini memiliki makna ekologis yang sangat rasional.
Asap dan aroma kemenyan menyebar di udara hutan dan menjadi penanda keberadaan manusia (Shepard, 2004).
Bagi satwa dengan indera penciuman yang sangat tajam seperti harimau Sumatera, bau asing tersebut berfungsi sebagai sinyal bahwa manusia sedang berada di kawasan itu.
Dengan demikian, membakar kemenyan dapat dimaknai sebagai bentuk komunikasi nonverbal. Manusia memberi tahu keberadaannya, sementara harimau memiliki kesempatan untuk menghindar dan menjaga jarak (Nyhus & Tilson, 2004; Inskip & Zimmermann, 2009).
Di sinilah terlihat relasi saling menghormati yang lahir dari pengalaman panjang hidup bersama hutan.
Bahasa Reproduksi
Urine harimau tidak hanya berbicara tentang wilayah, tetapi juga tentang reproduksi (Smith, McDougal & Sunquist, 1989).
Saat memasuki masa birahi, harimau jantan dan betina akan mengencingi titik yang sama. Tindakan ini merupakan bentuk komunikasi kimiawi yang sangat spesifik, menandakan kesiapan untuk kawin.
Bahasa ini memastikan bahwa pertemuan terjadi pada waktu yang tepat, mengurangi risiko konflik antarindividu, sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan reproduksi.
Kemenyan dan Harimau
Bahasa Harimau
Artikel Azhar tentang Harimau
Azhar Pemerhati Satwa dan Lingkungan
| Alhamdulillah, Pintu Hijrah Hadir sebagai Dayah Rehabilitasi Narkotika di Aceh |
|
|---|
| HRD dan Kekuatan Dayah, Jalan Menuju Pilkada 2029? |
|
|---|
| Ketika Persia Berbicara dalam Bahasa Melayu: Warisan Intelektual Aceh - Bagian II |
|
|---|
| Nilai TKA Aceh: Antara Harapan, Kenyataan, dan Alarm bagi Pemangku Pendidikan |
|
|---|
| JKA, Rakyat Kecil dan Mereka yang Berobat ke Malaysia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Azhar-dan-Harimau.jpg)