Sabtu, 18 April 2026

KUPI BEUNGOH

Kemenyan dan Harimau, Bahasa Sunyi dari Hutan Sumatera

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), satwa yang memberi tahu kehadirannya tanpa harus berhadapan langsung dengan manusia.

Editor: Yocerizal
for serambinews
Azhar, penulis opini (kiri) dan ilustrasi harimau Sumatera yang menandai pohon di hutan. Melalui bau, jejak, dan cakaran, harimau menyampaikan bahasa sunyi kepada penghuni hutan lainnya, sebuah sistem komunikasi alam yang selama berabad-abad memungkinkan manusia dan satwa liar hidup berdampingan di lanskap Sumatera. 

Ketika seekor harimau mengencingi satu titik tertentu, itu berarti ia sedang menyampaikan pesan bahwa wilayah ini telah ditempati. 

Harimau lain yang melintas akan membaca pesan tersebut melalui indera penciumannya yang tajam. Bahasa bau ini jauh lebih efektif dibanding konfrontasi fisik.

Harimau Sumatera jantan diketahui memiliki wilayah jelajah yang sangat luas, mencapai hingga 28.900 hektare (Karanth & Nichols, 2011). Sementara itu, wilayah harimau betina umumnya hanya sekitar setengahnya. 

Luasan ini bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan ekologis agar mangsa tetap tersedia dan konflik dapat dihindari.

Selain melalui bau, harimau juga meninggalkan tanda visual berupa cakaran pada batang pohon. Cakaran ini biasanya ditempatkan di jalur lintasan penting sebagai penegas kehadiran sekaligus peringatan bagi individu lain.

Kemenyan: Bahasa Manusia kepada Hutan

Di berbagai wilayah Sumatera, terutama pada komunitas adat yang hidup berdampingan dengan hutan, berkembang kearifan lokal yang secara tidak langsung menjadi bentuk komunikasi antara manusia dan harimau (Dove, 2011; Lansing, 2012).

Baca juga: BPN Aceh Serahkan Program Penyediaan Tanah Eks Kombatan Kepada Wali Nanggroe

Baca juga: Satgas MBG Aceh Selatan akan Bahas Hasil Uji Lab Dugaan Keracunan MBG Aceh Selatan Senin Depan

Salah satu praktik yang masih dijumpai adalah kebiasaan membakar kemenyan saat memasuki hutan untuk mencari madu, rotan, damar, atau hasil hutan lainnya (Ellen, 2006; Iskandar, 2018). 

Tindakan ini sering dipahami secara spiritual sebagai permohonan izin kepada penjaga hutan. Namun pada saat yang sama, praktik ini memiliki makna ekologis yang sangat rasional.

Asap dan aroma kemenyan menyebar di udara hutan dan menjadi penanda keberadaan manusia (Shepard, 2004). 

Bagi satwa dengan indera penciuman yang sangat tajam seperti harimau Sumatera, bau asing tersebut berfungsi sebagai sinyal bahwa manusia sedang berada di kawasan itu.

Dengan demikian, membakar kemenyan dapat dimaknai sebagai bentuk komunikasi nonverbal. Manusia memberi tahu keberadaannya, sementara harimau memiliki kesempatan untuk menghindar dan menjaga jarak (Nyhus & Tilson, 2004; Inskip & Zimmermann, 2009). 

Di sinilah terlihat relasi saling menghormati yang lahir dari pengalaman panjang hidup bersama hutan.

Bahasa Reproduksi

Urine harimau tidak hanya berbicara tentang wilayah, tetapi juga tentang reproduksi (Smith, McDougal & Sunquist, 1989). 

Saat memasuki masa birahi, harimau jantan dan betina akan mengencingi titik yang sama. Tindakan ini merupakan bentuk komunikasi kimiawi yang sangat spesifik, menandakan kesiapan untuk kawin.

Bahasa ini memastikan bahwa pertemuan terjadi pada waktu yang tepat, mengurangi risiko konflik antarindividu, sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan reproduksi. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved