Sabtu, 18 April 2026

KUPI BEUNGOH

Kemenyan dan Harimau, Bahasa Sunyi dari Hutan Sumatera

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), satwa yang memberi tahu kehadirannya tanpa harus berhadapan langsung dengan manusia.

Editor: Yocerizal
for serambinews
Azhar, penulis opini (kiri) dan ilustrasi harimau Sumatera yang menandai pohon di hutan. Melalui bau, jejak, dan cakaran, harimau menyampaikan bahasa sunyi kepada penghuni hutan lainnya, sebuah sistem komunikasi alam yang selama berabad-abad memungkinkan manusia dan satwa liar hidup berdampingan di lanskap Sumatera. 

Oleh: Azhar *)

DI balik kanopi rapat hutan Sumatera dan aroma tanah yang basah, ada bahasa yang terus bekerja. Bahasa tanpa kata, yang disampaikan melalui jejak, bau, dan tanda-tanda alam. 

Salah satu penutur paling jelas dari bahasa ini adalah harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), satwa yang memberi tahu kehadirannya tanpa harus berhadapan langsung dengan manusia.

Selama ini manusia mengenal harimau terutama melalui aumannya yang menggetarkan. Auman itu sering diterjemahkan sebagai simbol keganasan, ancaman, atau supremasi. 

Padahal, bagi harimau, auman hanyalah satu dari sekian banyak cara berkomunikasi. Lebih sering, harimau memilih pesan yang jauh lebih halus, nyaris tak terdengar namun sarat makna bagi siapa pun yang mampu membacanya.

Bahasa Hutan yang Telah Lama Ada

Harimau Sumatera hidup berdampingan dengan manusia jauh sebelum batas taman nasional digambar, sebelum istilah konflik satwa-manusia dikenal, dan sebelum hutan dipetakan menjadi izin-izin konsesi. 

Dalam rentang waktu yang panjang itu, harimau telah mengembangkan cara-cara untuk memberi tahu kehadirannya, menjaga jarak, dan mempertahankan ruang hidupnya tanpa harus berhadapan langsung dengan manusia.

Auman memang merupakan bentuk komunikasi yang paling dikenal. Suara ini dapat terdengar hingga beberapa kilometer, menandai keberadaan sekaligus memberi peringatan kepada individu lain. 

Namun di luar auman, harimau memiliki kemampuan vokal yang jarang diketahui publik.

Dalam kondisi tertentu, harimau Sumatera mampu menirukan suara rusa sambar (Cervus unicolor). Suara tiruan ini digunakan sebagai alat berburu—sebuah siasat untuk mengelabui mangsa agar mendekat. 

Bagi rusa, suara itu adalah panggilan aman. Bagi harimau, suara tersebut adalah strategi bertahan hidup (Sunquist & Sunquist, 2002).

Baca juga: Iran Ajukan Tiga Syarat untuk Akhiri Perang, Trump: Konflik Bisa Berhenti Kapan Saya Mau

Baca juga: Lintasan Lokop Sudah Bisa Dilalui hingga Perbatasan Gayo Lues

Kemampuan ini menunjukkan kecerdasan adaptif harimau dalam membaca lingkungannya. Ia bukan sekadar pemburu yang mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga pengamat yang memahami bahasa satwa lain. 

Sayangnya, kecanggihan ini kerap diabaikan dalam narasi manusia yang terlalu menyederhanakan harimau sebagai ancaman.

Bahasa Bau: Pesan Teritorial yang Tegas

Bentuk komunikasi harimau yang paling dominan justru tidak bersuara sama sekali. Urine dan feses menjadi media utama dalam menandai wilayah. 

Air kencing yang disemprotkan pada batang pohon, bebatuan, atau tanah bukanlah perilaku sembarangan. Itu adalah pesan teritorial yang jelas dan tegas (Smith et al., 2010).

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved