Sabtu, 18 April 2026

KUPI BEUNGOH

Kemenyan dan Harimau, Bahasa Sunyi dari Hutan Sumatera

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), satwa yang memberi tahu kehadirannya tanpa harus berhadapan langsung dengan manusia.

Editor: Yocerizal
for serambinews
Azhar, penulis opini (kiri) dan ilustrasi harimau Sumatera yang menandai pohon di hutan. Melalui bau, jejak, dan cakaran, harimau menyampaikan bahasa sunyi kepada penghuni hutan lainnya, sebuah sistem komunikasi alam yang selama berabad-abad memungkinkan manusia dan satwa liar hidup berdampingan di lanskap Sumatera. 

Dalam konteks konservasi, sistem komunikasi ini sangat penting karena kelangsungan populasi harimau bergantung pada keberhasilan reproduksi yang semakin langka.

Jejak: Peringatan yang Santun

Setiap jejak bau, setiap cakaran, dan setiap suara adalah bagian dari sistem komunikasi yang telah berevolusi selama ribuan tahun. Sistem ini bekerja dengan asumsi bahwa ruang hidup masih tersedia.

Ketika berhadapan dengan manusia, harimau Sumatera jarang memilih konfrontasi. Sebaliknya, ia berkomunikasi dengan cara paling santun yang dimilikinya: meninggalkan jejak kaki (Seidensticker et al., 1999). 

Jejak ini merupakan peringatan awal, sebuah sinyal agar manusia memahami bahwa mereka sedang memasuki wilayah yang dihuni.

Baca juga: Tampang Eks Menag Yaqut yang Resmi Ditahan KPK, Begini Duduk Perkara Kasus Korupsi Kuota Haji

Baca juga: VIDEO - Iran Menggila! 50 Titik di Israel Meledak dalam 5 Jam, Pangkalan Militer AS–IDF Kena Hantam

Selain jejak kaki, harimau juga meninggalkan tanda lain seperti cakaran di pohon atau bangkai mangsa yang sengaja tidak disembunyikan. 

Bangkai tersebut bukan sekadar sisa berburu, melainkan pesan terbuka bahwa kawasan itu sedang aktif digunakan.

Dalam bahasa hutan, semua tanda ini adalah permintaan akan jarak dan penghormatan. Harimau tidak mengejar manusia untuk berkomunikasi. Ia berharap manusia cukup peka untuk membaca tanda-tanda yang ditinggalkan.

Ketika Bahasa Hutan Tak Lagi Didengar

Harimau Sumatera telah melakukan bagiannya. Ia menandai wilayah, memberi peringatan, dan menghindari konflik sebisa mungkin. Namun bahasa harimau sering kali tidak dibalas dengan penghormatan.

Alih fungsi hutan, pembukaan lahan perkebunan sawit, serta perburuan telah memutus ruang komunikasi tersebut. Ketika hutan menyempit, bahasa bau dan jejak kehilangan maknanya. Konflik pun meningkat.

Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, populasi harimau Sumatera saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 603 ekor (KLHK, 2023). Mereka tersebar di kawasan konservasi, hutan produksi, dan hutan lindung, ruang-ruang yang semakin terfragmentasi.

Harimau Sumatera telah memberi salamnya dengan sangat sportif. Kini giliran manusia menentukan apakah salam itu akan dijawab dengan perlindungan, atau dengan keheningan permanen akibat kepunahan.(*)

*) PENULIS adalah pemerhati satwa dan lingkungan.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved