KUPI BEUNGOH
Kemenyan dan Harimau, Bahasa Sunyi dari Hutan Sumatera
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), satwa yang memberi tahu kehadirannya tanpa harus berhadapan langsung dengan manusia.
Dalam konteks konservasi, sistem komunikasi ini sangat penting karena kelangsungan populasi harimau bergantung pada keberhasilan reproduksi yang semakin langka.
Jejak: Peringatan yang Santun
Setiap jejak bau, setiap cakaran, dan setiap suara adalah bagian dari sistem komunikasi yang telah berevolusi selama ribuan tahun. Sistem ini bekerja dengan asumsi bahwa ruang hidup masih tersedia.
Ketika berhadapan dengan manusia, harimau Sumatera jarang memilih konfrontasi. Sebaliknya, ia berkomunikasi dengan cara paling santun yang dimilikinya: meninggalkan jejak kaki (Seidensticker et al., 1999).
Jejak ini merupakan peringatan awal, sebuah sinyal agar manusia memahami bahwa mereka sedang memasuki wilayah yang dihuni.
Baca juga: Tampang Eks Menag Yaqut yang Resmi Ditahan KPK, Begini Duduk Perkara Kasus Korupsi Kuota Haji
Baca juga: VIDEO - Iran Menggila! 50 Titik di Israel Meledak dalam 5 Jam, Pangkalan Militer AS–IDF Kena Hantam
Selain jejak kaki, harimau juga meninggalkan tanda lain seperti cakaran di pohon atau bangkai mangsa yang sengaja tidak disembunyikan.
Bangkai tersebut bukan sekadar sisa berburu, melainkan pesan terbuka bahwa kawasan itu sedang aktif digunakan.
Dalam bahasa hutan, semua tanda ini adalah permintaan akan jarak dan penghormatan. Harimau tidak mengejar manusia untuk berkomunikasi. Ia berharap manusia cukup peka untuk membaca tanda-tanda yang ditinggalkan.
Ketika Bahasa Hutan Tak Lagi Didengar
Harimau Sumatera telah melakukan bagiannya. Ia menandai wilayah, memberi peringatan, dan menghindari konflik sebisa mungkin. Namun bahasa harimau sering kali tidak dibalas dengan penghormatan.
Alih fungsi hutan, pembukaan lahan perkebunan sawit, serta perburuan telah memutus ruang komunikasi tersebut. Ketika hutan menyempit, bahasa bau dan jejak kehilangan maknanya. Konflik pun meningkat.
Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, populasi harimau Sumatera saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 603 ekor (KLHK, 2023). Mereka tersebar di kawasan konservasi, hutan produksi, dan hutan lindung, ruang-ruang yang semakin terfragmentasi.
Harimau Sumatera telah memberi salamnya dengan sangat sportif. Kini giliran manusia menentukan apakah salam itu akan dijawab dengan perlindungan, atau dengan keheningan permanen akibat kepunahan.(*)
*) PENULIS adalah pemerhati satwa dan lingkungan.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Kemenyan dan Harimau
Bahasa Harimau
Artikel Azhar tentang Harimau
Azhar Pemerhati Satwa dan Lingkungan
| Alhamdulillah, Pintu Hijrah Hadir sebagai Dayah Rehabilitasi Narkotika di Aceh |
|
|---|
| HRD dan Kekuatan Dayah, Jalan Menuju Pilkada 2029? |
|
|---|
| Ketika Persia Berbicara dalam Bahasa Melayu: Warisan Intelektual Aceh - Bagian II |
|
|---|
| Nilai TKA Aceh: Antara Harapan, Kenyataan, dan Alarm bagi Pemangku Pendidikan |
|
|---|
| JKA, Rakyat Kecil dan Mereka yang Berobat ke Malaysia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Azhar-dan-Harimau.jpg)