Kupi Beungoh
Ketika Ilmu Pengetahuan Menjadi Senjata: Pelajaran dari Iran
Negara yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi adalah negara yang menentukan aturan main, termasuk aturan bertahan hidup.
*) Oleh: Prof. Mailizar
PERANG tidak lagi dimenangkan semata oleh jumlah tentara atau luas wilayah. Di abad ke-21, medan pertempuran yang paling menentukan adalah laboratorium riset, ruang server, dan bahkan ruang kuliah.
Negara yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi adalah negara yang menentukan aturan main, termasuk aturan bertahan hidup.
Tidak ada contoh yang lebih gamblang dari hal ini selain Iran. Selama lebih dari empat dekade, negeri itu hidup di bawah embargo dan sanksi internasional yang dirancang untuk melumpuhkan kapasitas militer dan ekonominya.
Yang terjadi justru sebaliknya: Iran berubah menjadi salah satu kekuatan militer-teknologi paling mandiri di dunia. Bagaimana ini bisa terjadi? Jawabannya satu: investasi dalam ilmu pengetahuan.
Embargo sebagai Guru yang Kejam
Pasca-Revolusi Islam 1979, Iran kehilangan akses hampir total terhadap teknologi militer Barat. Pesawat tempur F-14 Tomcat yang dibeli di era Shah tidak lagi mendapat suku cadang.
Transfer teknologi senjata dari Amerika dan Eropa terhenti seketika. Di sinilah titik balik itu dimulai: keterpaksaan melahirkan kreativitas.
Iran menerapkan strategi reverse engineering secara massif, mempelajari, membongkar, dan mereplikasi teknologi yang sudah ada untuk kemudian mengembangkannya sendiri.
Dari sana lahir seri rudal Shahab, yang terus disempurnakan hingga menghasilkan rudal balistik Khorramshahr dan rudal hipersonik Fatah yan mampu menembus sistem pertahanan udara paling canggih sekalipun.
Ini bukan keberuntungan. Ini adalah hasil dari keputusan strategis: ketika tidak bisa membeli teknologi, bangunlah sendiri.
STEM sebagai Tulang Punggung Kedaulatan
Yang membuat pencapaian Iran lebih mengejutkan adalah fondasinya: sistem pendidikan sains dan teknologi.
Iran menghasilkan sekitar 335.000 lulusan teknik setiap tahun. Universitas Teknologi Sharif dijuluki “MIT Timur Tengah”, bukan karena gedungnya megah, tetapi karena kualitas insinyur yang dilahirkannya.
Lebih mengejutkan lagi, 70 persen lulusan STEM Iran adalah Perempuan, fakta yang membalikkan banyak asumsi tentang negara yang sering digambarkan oleh barat sebagai konservatif dan represif.
Etos ilmiah ini bukan muncul dari ruang hampa. Ia berakar dalam warisan peradaban Persia yang panjang. Al-Khawarizmi, sarjana Persia abad ke-9, merevolusi matematika dunia melalui karyanya Al-Jabar, dari namanya lahir kata “algoritma,” fondasi komputasi modern.
Omar Khayyam memecahkan persamaan kubik dan menyusun Kalender Jalali yang akurasinya melampaui kalender Gregorian.
| Sekolah di Persimpangan Jalan: Antara Akses, Pilihan, dan Ketimpangan |
|
|---|
| PERTI Aceh: Menjaga Sanad, Merawat Tradisi, dan Menata Arah Keberagamaan |
|
|---|
| Di Aceh, Siapa yang Melindungi Perempuan? |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian |
|
|---|
| Menghindari JKA Sebagai Sumbu Konflik: Urgensi Cooling Down bagi Elite Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Mailizar-SPd-MPd.jpg)