KUPI BEUNGOH
Carut Marut Kabel Optik dan Wajah Kota Banda Aceh
Kondisi ini bukan sekadar soal estetika, tetapi telah berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat.
Oleh: Basri Effendi, SH, MH., M.KN *)
KOTA Banda Aceh selama ini dikenal sebagai kota dengan nilai sejarah, budaya, dan identitas keislaman yang kuat.
Namun, di tengah citra tersebut, muncul persoalan yang kian mengganggu, jaringan kabel optik yang semrawut di berbagai sudut kota.
Kondisi ini bukan sekadar soal estetika, tetapi telah berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat.
Di sejumlah ruas jalan utama hingga kawasan permukiman, kabel-kabel optik terlihat menjuntai rendah tanpa penataan yang jelas.
Pemandangan ini merusak keindahan kota sekaligus memberi kesan bahwa pengelolaan infrastruktur telekomunikasi belum dilakukan secara serius.
Kota yang seharusnya tampil tertib justru dihadapkan pada wajah yang kusut oleh jaringan kabel yang tak terkendali.
Masalahnya tidak berhenti pada aspek visual. Kabel yang menggantung rendah berpotensi menimbulkan kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor.
Beberapa warga mengaku pernah tersangkut kabel saat melintas, bahkan ada yang mengalami luka akibat terjerat jaringan yang tidak tertata dengan baik.
Baca juga: BREAKING NEWS - Mayoritas Fraksi DPRK Aceh Singkil Tolak Raqan APBK 2026
Baca juga: VIDEO - Puluhan Pemuda Demo ke Kejari Langsa Desak Pengusutan Korupsi Bantuan Banjir
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan kabel optik sudah menyentuh aspek keselamatan publik.
Pengawasan yang Lemah
Lebih mengkhawatirkan lagi, ditemukan pula tiang jaringan yang ditanam di area milik warga tanpa izin. Fakta ini memunculkan dugaan adanya pemasangan jaringan yang tidak melalui prosedur perizinan yang semestinya.
Jika benar demikian, maka persoalan ini bukan hanya soal teknis penataan, tetapi juga menyangkut lemahnya pengawasan dan potensi pelanggaran aturan dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi.
Pemerintah daerah tidak boleh membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Penataan ulang jaringan kabel optik sudah menjadi kebutuhan mendesak.
Selain untuk menjamin keselamatan warga, langkah ini juga penting untuk menjaga wajah kota tetap tertib dan representatif.
Salah satu solusi yang patut dipertimbangkan adalah menata ulang jalur kabel agar lebih terorganisir.
Idealnya, jaringan kabel optik ditanam di bawah tanah untuk menghilangkan gangguan visual sekaligus meminimalkan risiko kecelakaan.
Jika opsi tersebut belum dapat dilakukan dalam waktu dekat, maka setidaknya ketinggian tiang penyangga harus ditambah agar kabel tidak lagi menggantung rendah.
Baca juga: Pemko Lhokseumawe Mulai Berlakukan WFH, Ini Aturan yang Harus Dipatuhi ASN
Baca juga: Gemuruh Rudal Warnai Gencatan Senjata AS-Iran, Israel dan Teheran Masih Saling Gempur
Penataan yang baik akan membawa dampak ganda, mulai dari meningkatkan keamanan sekaligus mengembalikan keindahan Kota Banda Aceh.
Tanpa langkah tegas dan pengawasan yang ketat, persoalan kabel optik yang carut marut ini berpotensi terus berulang dan bahkan menimbulkan korban.
Kota yang ingin maju dan tertib tidak seharusnya membiarkan infrastrukturnya tumbuh tanpa aturan.
*) PENULIS adalah Ketua Tuha Peut Gampong Rukoh, Syiah Kuala, Banda Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Wajah Kota Banda Aceh
Carut Marut Kabel Optik di Banda Aceh
Basri Effendi Tuha Peut Rukoh
Masalah Kabel Optik Banda Aceh
| Membumikan Pendidikan Inklusif di Aceh |
|
|---|
| Wabah Ebola: Kesiapan Uganda lebih cepat dari Indonesia |
|
|---|
| Akhirnya Pergub JKA Dicabut: Eungkot Tho Kareng Leubot, Peunyaket Sot Meugisa-gisa |
|
|---|
| Dollar dan Dapur Rumah Tangga di Desa |
|
|---|
| Akademisi atau Buruh Pengetahuan Global: Ketika Kampus Mengejar Reputasi Tapi Abai Ruh Peradaban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Basri-Effendi_ok.jpg)