Opini
Perjalanan Panjang Sebutir Nasi
SETELAH melihat sawah yang menghijau, ada juga yang sudah menguning juga meninjau lahan sawah yang sudah rusak
Dr Ir Azanuddin Kurnia SP MP IPU ASEANG Eng, Plt Kadistanbun Aceh dan Ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia Aceh
SETELAH melihat sawah yang menghijau, ada juga yang sudah menguning juga meninjau lahan sawah yang sudah rusak terdampak bencana pada tanggal 26 November 2025, kami melanjutkan perjalanan menuju warung nasi. Ketika di dalam piring sudah tersedia nasi dan beberapa lauk, sebelum makan saya teringat akan ribuan butir nasi yang tadi semua berasal dari sawah.
Mulailah saya berpikir untuk menuliskan perjalanan panjang sebutir nasi ini bisa sampai ke meja makan, nasi kotak, atau kemasan lainnya. Kisah ini membuat rasa haru, syukur, sabar, suka, duka semua bercampur aduk terutama adalah bagi sang petani dan kita yang melihat perjuangan mereka.
Sepiring nasi yang kita temui di meja makan adalah proses panjang yang berasal dari lahan pertanian di sawah.
Nasi di meja makan, dalam bungkusan, rantang, kotak atau tempat lainnya adalah tidak terjadi begitu saja. Nasi lahir dari perjuangan panjang “petani” di sawah yang penuh dengan suka dan duka. Sebutir nasi tersebut berasal dari benih padi yang ditanam, dirawat, diairi, dijaga dari hama dan penyakit serta dipertahankan dari perubahan iklim yang saat ini terkadang tidak menentu. Kisah itu adalah cermin ketekunan manusia, ketergantungan umat pada karunia alam, dan rahmat Allah swt yang tak ternilai.
Perjalanan nasi dimulai dari bibit. Pagi hari petani memilih benih terbaik, seringkali hasil seleksi turun-temurun atau varietas unggul yang tahan penyakit yang dikembangkan oleh para pemulia yang sudah disahkan oleh pemerintah. Mereka menyemai di persemaian, saat kecambah tumbuh, harapan mulai menguat namun kerja belum selesai.
Bibit harus dipindah tanam dengan teliti agar jarak tanam ideal tercapai; kesalahan kecil bisa berakibat pada produktivitas rendah nantinya. Di musim tanam, petani bangun pagi kembali, mengangkat bambu atau alat lainnya, menyiapkan lahan, dan menanam baris demi baris dengan tangan yang seringkali melepuh dengan tetap berdoa kepada Sang Pencipta.
Merawat padi bagi petani adalah pekerjaan dan perjuangan sehari-hari sama dengan seorang guru yang mengajar di kelas, seorang PNS yang bekerja di kantoran dan sama dengan seorang dokter yang selalu melayani dan merawat pasien yang sakit. Perjuangan tersebut tidak pernah berhenti walau terkadang kita yang makan nasi lupa atau bahkan tidak peduli dengan nasib petani ketika hidangan sudah tersedia di meja makan.
Pemberian pupuk harus tepat waktu dan sesuai kebutuhan tanaman, pemberantasan hama dan penyakit menuntut ketelitian dan keberanian mengambil keputusan. Hama tikus, burung, wereng, atau serangan jamur dapat datang kapan saja. Di sinilah pengalaman dan nalurinya diuji kapan menyemprot, kapan menggunakan bahan organik atau kimia, atau kapan memanggil kelompok tani untuk sesekali gotong royong. Semua tindakan itu menguras tenaga, waktu, dan seringkali biaya yang tidak sedikit.
Bahkan yang sulit saat ini adalah tata air di sawah yang keberadaannya sangat vital tapi justru itu menjadi persoalan terbesar pasca banjir melanda Aceh. Banyak irigasi rusak, saluran primer, sekunder bahkan tersier hancur mengakibatkan distribusi air terhambat, tersumbat bahkan tidak bisa sama sekali. Kondisi tersebut diperparah saat ini mengingat informasi BMKG bahwa musim panas kali ini lumayan ekstrem sampai Juni 2026 dengan tingkat kekeringan yang tinggi.
Tersimpan rahmat Allah
Semua risiko tersebut harus ditanggung petani sedangkan pihak lain juga berusaha berjuang termasuk pemerintah untuk bisa mengatasi hal ini walau pada saat yang sama proses itu masih dianggap lamban oleh petani. Ketika air terbatas, muncul dilema: bagian lahan mana yang harus diprioritaskan? Ini belum lagi sawah-sawah yang tertimbun lumpur yang sebagian besar belum konkret solusinya terutama pada sawah yang termasuk kategori rusak berat dengan ketinggian lumpur 1-2 meter.
Risiko gagal panen selalu mengintai, petani menanggung semua ketidakpastian ini sambil menanggung beban keluarga, mencari biaya pendidikan anak, membeli bahan pokok, membayar utang. Di balik wajah yang tersenyum saat bertemu tetangga, ada kelelahan fisik yang mendalam: mata yang lelah, punggung yang pegal, tangan yang kasar. Namun semangat mereka tak mudah pudar; ada keyakinan bahwa usaha yang ikhlas dan doa akan membawa berkah.
Nasihat leluhur: “Bekerja keras, tawakal, dan berdoa.” Pada saat yang sama, orang-orang yang terlibat dengan dunia pertanian mulai berpikir keras bahkan terkadang mulai berpikir gila supaya normal, kalau berpikir normal bisa gila. Pola pikir ini adalah penyemangat agar tetap mampu bekerja dan berjuang di tengah ekspektasi masyarakat yang tinggi. Ini tidak lain pengganti bahasa dari adaptasi, untuk tetap menjaga semangat dan bisa tetap bekerja dan berjuang sepenuh hati di tengah kondisi tidak normal.
Proses panjang tersebut, akhirnya sampai juga panen atas izin Sang Pencipta. Itulah hasil dari semua pengorbanan. Padi yang menunduk karena penuh butir adalah hadiah bagi petani. Namun panen bukan sekadar memanen hasil. Proses pemanenan, penjemuran gabah, penggilingan, dan penyimpanan juga memerlukan tenaga dan keterampilan. Setelah digiling menjadi beras, produk itu melewati rantai pemasaran dari pengepul, pasar lokal, distributor, bahkan toke medan hingga toko kelontong dan supermarket.
Setiap tahap menambah nilai, namun juga terkadang menambah ketidakpastian soal harga. Alhamdulillah, sudah sekitar setahun lebih, ada aturan pemerintah bahwa harga gabah kering panen minimal dijual sekitar Rp6500/kg. Harga tersebut telah membuat petani tersenyum sehingga bisa sedikit mengobati kelelahan panjang ketika menanam dan merawat padi di sawah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/r-Azanuddin-Kurnia-SP-MP-IPU-ASEAN-Eng-Ketua-PISPI-Aceh.jpg)