Kupi Beungoh
24 Tahun Aceh Tamiang : Negeri yang Ditempa untuk Menjadi Besar
Di usia yang baru dua dekade lebih sedikit, Aceh Tamiang sudah berkali-kali menghadapi guncangan.
*) Oleh : Irfan Maulana
ACEH TAMIANG genap berusia 24 tahun pada tanggal 10 April 2026.
Sebuah usia yang, jika diibaratkan manusia, berada pada fase paling kuat sekaligus paling menentukan: muda, penuh energi, dan sedang giat-giatnya mencari bentuk masa depan.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini terasa berbeda. Peringatan hadir dalam suasana yang lebih sunyi, lebih berat, dan lebih menyayat.
Banyak rumah yang runtuh. Banyak sisa-sisa lumpur dan gelondongan kayu, Banyak keluarga yang kini tinggal di tenda dan Huntara. Jembatan-jembatan putus, akses jalan terhambat, gunung-gunung rontok, tanah bergerak, dan sebagian wilayah berubah seperti luka yang terbuka lebar.
Yang lebih memilukan, sebagian masyarakat Aceh Tamiang menjalani hari dengan kebiasaan hidup yang berubah total.
Dari kehidupan yang semula normal, kini berganti menjadi rutinitas bertahan, tidur di tempat sempit, memasak seadanya, menunggu bantuan, menata ulang hidup dari nol, dan menyesuaikan diri dengan ketidakpastian.
Di usia yang baru dua dekade lebih sedikit, Aceh Tamiang sudah berkali-kali menghadapi guncangan.
Namun yang perlu ditegaskan, bahwa apa yang sering disebut musibah di Aceh Tamiang bukan semata-mata “bencana alam” dalam makna sederhana, tapi lebih tepat disebut sebagai malapetaka yang lahir dari akumulasi persoalan, mulai dari kebijakan yang kurang tepat, pengawasan yang lemah, pembangunan yang tidak tuntas, sampai dengan kecolongan-kecolongan yang terus berulang.
Ketika air banjir datang membawa gelondongan kayu-kayu besar, itu bukan hanya persoalan hujan deras. Itu adalah pertanyaan panjang yang menuntut jawaban serius, bagaimana tata kelola sungai? bagaimana drainase?
bagaimana tata ruang? bagaimana pengendalian pembukaan lahan? bagaimana pengawasan terhadap aktivitas yang mengganggu keseimbangan alam? bagaimana mitigasi pemerintah? bagaimana kesiapsiagaan sistem tanggap darurat? bagaimana kinerja aparat dalam memberantas para mafia segala sektor.
Dan ketika semua itu terjadi, masyarakat sering kali menjadi pihak pertama yang menanggung akibatnya. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena sistem kadang lebih lambat daripada ancaman.
Namun justru di situlah letak karakter Aceh Tamiang: meski berkali-kali diterpa, Aceh Tamiang tidak runtuh.
Ia retak, tetapi tidak patah. Ia jatuh, tetapi tidak hilang. Ia pernah hancur, pernah lebur, tetapi selalu menemukan cara untuk bangkit kembali.
Dan kisah ini bukan kisah heroik yang dibangun dari kata-kata manis. Ini adalah fakta perjalanan, bahwa Aceh Tamiang bertahan bukan karena tidak pernah terluka, tetapi karena selalu mampu berdiri lagi setelah luka.
| Hegemoni Energi AS dan Dilema China di Balik Penangkapan Maduro dan Serangan ke Iran |
|
|---|
| Membaca Strategi Pakistan Sebagai Mediator yang Lahir di Tengah Badai Krisis |
|
|---|
| Carut Marut Kabel Optik dan Wajah Kota Banda Aceh |
|
|---|
| Merindukan Calon Rektor UIN Ar-Raniry Bervisi Internasional |
|
|---|
| Regulasi Emosi: Mencegah Pelampiasan Stres Rumah Sakit ke Dalam Rumah Tangga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pemuda-Aceh-Tamiang-Irfan-Maulana-10042026.jpg)