KUPI BEUNGOH
Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh
Sejak remaja, Ismail Rasyid tergolong berpandangan progresif dan free will. Dia tak percaya bahwa masa depannya gelap.
Di beberapa daerah di Aceh bahkan terdapat adagium: Hana peureulee jak sikula, nyang peunteng na peng.
Ismail telah mengubah adagium ini: Uang (bisnis) dan sikula (pendidikan) sama pentingnya.
Sang Pembaharu
Ismail Rasyid layak dijuluki sebagai sosok pembaharu dalam membentuk cara pandang terhadap dunia bisnis. Bisnis dan pendidikan sama pentingnya. Ismail berbeda dari penguasa Aceh era klasik.
Pada masa lalu ada Teuku Markam, Toke Tawi (Fa Tawi Son), Toke Basyah (Puspa), Yacob Kasem (Fa Yacob Kasem), Ibrahim Risyad (Risjad Son), hingga Ibrahim Pidie.
Semua mereka tidak bergelar doktor, bahkan mungkin tidak menyelesaikan S-1.
Lalu di masa kini mungkin ada Surya Paloh dan Muslim Armas (Ketua PP TIM). Tapi, sepertinya, keduanya pun tidak bergelar Doktor.
Sosok Ismail Rasyid berbeda dari kedua orang itu, terutama jika dibandingkan dengan Surya Paloh dan Muslim Armas.
Ismail Rasyid lahir dan menghabiskan masa muda di Aceh dan kini membuka cabang perusahaannya, PT Trans Continent, di Aceh. Dia benar-benar mencintai Aceh.
Inspirasi Generasi Muda
Ismail menikah dengan Erni Molisa (2001), dikaruniai dua anak, yaitu Jibril Gibran, lulusan University of Manchester dengan gelar MSc, serta Syifa Aulia yang sedang menyelesaikan studi pada bidang Marketing Communications di University of Melbourne.
Perjalanan Ismail Rasyid adalah cermin bahwa ilmu pengetahuan dan kepemimpinan bisnis dapat berjalan beriringan.
Baca juga: Terkait Korupsi Beasiswa Aceh, Kejati Periksa Puluhan Saksi
Dari Aceh, ia membawa semangat lokal yang berpadu dengan visi global.
Gelar Doktor ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kontribusi lebih luas, yaitu menginspirasi generasi muda untuk berani bermimpi besar, menembus batas, dan menjadikan ilmu sebagai cahaya perubahan.
Aceh yang sedang terpuruk membutuhkan kelahiran banyak Ismail Rasyid di masa mendatang. Semoga!
*) Jafar Insya Reubee & Hasan Basri M. Nur adalah cucu Sultan Iskandar Muda yang cinta ilmu dan bisnis, email: hasanbasrimnur@gmail.com
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan kebijakan redaksi Serambinews.com.
kupi beungoh
opini serambi
Ismail Rasyid
Trans Continent
opini pembaca
serambi
Serambi Indonesia
Serambinews
| Usia 18 Tahun, Bawaslu Mengawasi |
|
|---|
| Bercanda yang Kebablasan: Saat Kata Jadi Awal Kekerasan Seksual |
|
|---|
| Saree di Persimpangan Jalan: Akankah UMKM Tergilas Roda Tol Sibanceh? |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh, Kehadiran Negara dalam Krisis Sampah - Bagian III |
|
|---|
| Sinyal Otsus Diperpanjang, Apresiasi atas Lobi dan Komunikasi Politik Mualem |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hasan-Basri-dan-Jafar-Insya-Reubee.jpg)