Kamis, 16 April 2026

KUPI BEUNGOH

Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh

Sejak remaja, Ismail Rasyid tergolong berpandangan progresif dan free will. Dia tak percaya bahwa masa depannya gelap. 

Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Hasan Basri M Nur (kiri), alumnus Universiti Utara Malaysia (UUM) Negeri Kedah Darul Aman, dan Jafar Insya Reubee (kanan), perantau asal Pidie di Negeri Selangor Darul Ehsan Malaysia. 

Di beberapa daerah di Aceh bahkan terdapat adagium: Hana peureulee jak sikula, nyang peunteng na peng.

Ismail telah mengubah adagium ini: Uang (bisnis) dan sikula (pendidikan) sama pentingnya. 

Sang Pembaharu

Ismail Rasyid layak dijuluki sebagai sosok pembaharu dalam membentuk cara pandang terhadap dunia bisnis. Bisnis dan pendidikan sama pentingnya. Ismail berbeda dari penguasa Aceh era klasik.

Pada masa lalu ada Teuku Markam, Toke Tawi (Fa Tawi Son), Toke Basyah (Puspa), Yacob Kasem (Fa Yacob Kasem), Ibrahim Risyad (Risjad Son), hingga Ibrahim Pidie. 

Semua mereka tidak bergelar doktor, bahkan mungkin tidak menyelesaikan S-1.

Lalu di masa kini mungkin ada Surya Paloh dan Muslim Armas (Ketua PP TIM). Tapi, sepertinya, keduanya pun tidak bergelar Doktor.

Sosok Ismail Rasyid berbeda dari kedua orang itu, terutama jika dibandingkan dengan Surya Paloh dan Muslim Armas.

Ismail Rasyid lahir dan menghabiskan masa muda di Aceh dan kini membuka cabang perusahaannya, PT Trans Continent, di Aceh. Dia benar-benar mencintai Aceh.

Inspirasi Generasi Muda

Ismail menikah dengan Erni Molisa (2001), dikaruniai dua anak, yaitu Jibril Gibran, lulusan University of Manchester dengan gelar MSc, serta Syifa Aulia yang sedang menyelesaikan studi pada bidang Marketing Communications di University of Melbourne.

Perjalanan Ismail Rasyid adalah cermin bahwa ilmu pengetahuan dan kepemimpinan bisnis dapat berjalan beriringan.

Baca juga: Terkait Korupsi Beasiswa Aceh, Kejati Periksa Puluhan Saksi

Dari Aceh, ia membawa semangat lokal yang berpadu dengan visi global. 

Gelar Doktor ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kontribusi lebih luas, yaitu menginspirasi generasi muda untuk berani bermimpi besar, menembus batas, dan menjadikan ilmu sebagai cahaya perubahan.

Aceh yang sedang terpuruk membutuhkan kelahiran banyak Ismail Rasyid di masa mendatang. Semoga!

*) Jafar Insya Reubee & Hasan Basri M. Nur adalah cucu Sultan Iskandar Muda yang cinta ilmu dan bisnis, email: hasanbasrimnur@gmail.com

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan kebijakan redaksi Serambinews.com.

 

 

 

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved