Sabtu, 2 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan

Ismail Rasyid lahir di Matangkuli Aceh Utara pada tanggal 3 Juni 1968, sebagai putra kedua dari pasangan H.M. Rasyid S dan Salamah.

Tayang:
Editor: Zaenal
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
TERIMA BUKU - Mahfuddin Ismail (kanan) menerima buku biografi Ismail Rasyid berjudul Small Steps in The Right Direction, dari CEO PT Trans Continent, Ismail Rasyid, dalam suatu kesempatan di Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh, beberapa tahun lalu. 

Adik dari Saifuddin Bantasyam SH, MA, ini merupakan alumni program doktoral di Sekolah Interdisiplin Manajemen Teknologi (SIMT) ITS. Hamdani juga meraih gelar sarjana Teknik Kimia dari ITS pada tahun 1991 (K31), sebelum melanjutkan studi dan meraih gelar Magister Manajemen Teknologi (MMT) dari SIMT ITS.

Karir gemilangnya dimulai dengan bekerja di perusahaan Multi Nasional (MNC) asal Amerika yang bergerak di bidang Water, Chemical & Hygiene. Di sana, beliau menghabiskan 23 tahun dan mencapai posisi tertinggi sebagai Indonesia Business Head.

Hanya saja, nama Ir. Hamdani Bantasyam ini kurang begitu terdengar di Aceh, mungkin karena beliau masih fokus membangun usahanya di luar Aceh. 

Dari Matangkuli dan Pernah Jadi Kernet Labi-labi

Ismail Rasyid lahir di Matangkuli Aceh Utara pada tanggal 3 Juni 1968, sebagai putra kedua dari pasangan H.M. Rasyid S dan Salamah.

Masa kecilnya penuh keterbatasan. 

Untuk bisa kuliah di Universitas Syiah Kuala, ia harus bekerja sebagai kernet labi-labi jurusan Pasar Aceh – Kampus Darussalam. (Serambinews.com, Minggu, 8 Maret 2020 dengan judul Pernah Jadi Kernet Labi-labi Jurusan Pasar Aceh - Lhoknga, Ismail Rasyid Kini Bos di 7 Perusahaan).

Visi bisnisnya sudah dimulai saat itu.

Pilihannya menjadi kernet labi-labi, bukan hanya sekedar menghemat uang, tapi juga dia bisa pamer ke teman-temannya.

Ketika kawan-kawannya pergi ke kampus dengan bus robur (sejenis damri) karena murah, Ismail Rasyid bahkan bisa pamer pergi ke kampus dengan labi-labi (angkutan kota) yang kala itu menjadi moda transportasi mewah untuk ukuran mahasiswa.

Hidup sederhana dengan cara cerdas itu, membentuk daya juang yang kelak menjadi modal utama dalam menapaki dunia usaha.

Setelah lulus S-1 pada 1993, ia sempat ditolak oleh empat perusahaan besar di kampung halamannya.

Kala itu, tahun 1990-an, sejumlah perusahaan multinasional dan nasional beroperasi di Aceh Utara dan Lhokseumawe, sehingga terkenal dengan julukan daerah Petro Dollar.

Penolakan oleh perusahaan itu tidak membuat Ismail Rasyid menyerah. 

Ia memilih merantau ke Batam, Singapura, Malaysia, dan Thailand, mencari pengalaman lintas negara.

Dari Perantauan ke Puncak Bisnis

Setelah beberapa bulan melanglangbuana di negara tetangga, Ismail Rasyid kemudian memutuskan pulang ke Batam, tempat ia memulai perantauan.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved