KUPI BEUNGOH
Ketika Mati Rasa: Profesional Berperikebinatangan
Masalah terbesar kita hari ini bukan korupsi, manipulasi, atau ketidakadilan—melainkan hilangnya kemarahan terhadap kejahatan.
Di kampus, semuanya tampak gemilang: publikasi naik, sitasi meningkat, peringkat membaik.
Namun di balik itu, sesuatu retak—judul disesuaikan dengan pendana, plagiarisme disamarkan, mahasiswa dijadikan penulis bayangan.
Ilmu tak lagi dicari—ia diproduksi. Yang hilang bukan kecerdasan, tetapi kejujuran.
Akademisi memikul seperti keledai (himar) yang membawa kitab tanpa memahami (QS. Al-Jumu’ah: 5), mengejar seperti anjing yang tak pernah puas (QS. Al-A‘raf: 176), dan menenun reputasi seperti laba-laba—tampak kokoh, namun kosong (QS. Al-Ankabut: 41).
Kampus tetap berdiri. Gelar tetap diberikan. Namun kebenaran—perlahan mati.
Politisi Kalbun
Dalam politik, semua disebut “strategi”. Menjelang kekuasaan, dekat dengan rakyat; setelah berkuasa, dekat dengan kepentingan.
Anggaran disusun, proyek dibagi, kebijakan diarahkan—tampak rapi, bahkan cerdas. Namun publik tahu: banyak keputusan lahir bukan dari amanah, tetapi dari kepentingan.
Kekuasaan tak lagi dijalankan—ia diperdagangkan. Ia mengejar tanpa batas seperti anjing (kalbun) (QS. Al-A‘raf: 176), menekan seperti singa (QS. Al-Muddaththir: 51), dan menyusun seperti serigala (QS. Yusuf: 13). Kekuatan ada, kecerdikan ada—tetapi arah hilang.
Pemimpin Kuda
Di tingkat kepemimpinan, masalahnya sunyi—tapi dalam. Kebijakan tampak rasional, angka meyakinkan, namun hidup tak berubah:
Harga naik, rakyat tertekan, program tak menyentuh. Pemimpin melihat data—tetapi kehilangan rasa.
Ia berlari tanpa kendali seperti kuda (QS. Al-‘Adiyat), besar namun salah arah seperti gajah (QS. Al-Fil: 1), dan tumpul seperti ternak (QS. Al-A‘raf: 179).
Yang berbahaya bukan yang tidak tahu, tetapi hilang kepekaan.
Di lingkar kekuasaan, pola itu sama: sudah memiliki segalanya—tetap merasa kurang.
Kasus terbuka, publik terkejut, lalu terbiasa. Masalahnya bukan sistem, tetapi hilangnya batas.
Ia menjulur seperti anjing yang tak pernah puas (QS. Al-A‘raf: 176), kehilangan batas halal-haram seperti babi (QS. Al-Ma’idah: 3), dan mengikuti dorongan tanpa kendali seperti ternak (QS. Al-A‘raf: 179).
kupi beungoh
M Shabri Abd Majid
Opini Shabri Abd Majid
birokrat
pejabat
Akademisi
Politisi
pemimpin
Pebisnis
Influencer
Eksklusif
multiangle
Meaningful
| Menyikapi Ancaman El-Nino Godzilla |
|
|---|
| Tak Terdata, Tak Terlihat: Realitas Sosial di Balik Angka JKA |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)