Senin, 20 April 2026

KUPI BEUNGOH

Ketika Mati Rasa: Profesional Berperikebinatangan

Masalah terbesar kita hari ini bukan korupsi, manipulasi, atau ketidakadilan—melainkan hilangnya kemarahan terhadap kejahatan.

Serambinews.com/HO
M. Shabri Abd. Majid adalah Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Di kampus, semuanya tampak gemilang: publikasi naik, sitasi meningkat, peringkat membaik.

Namun di balik itu, sesuatu retak—judul disesuaikan dengan pendana, plagiarisme disamarkan, mahasiswa dijadikan penulis bayangan.

Ilmu tak lagi dicari—ia diproduksi. Yang hilang bukan kecerdasan, tetapi kejujuran.

Akademisi memikul seperti keledai (himar) yang membawa kitab tanpa memahami (QS. Al-Jumu’ah: 5), mengejar seperti anjing yang tak pernah puas (QS. Al-A‘raf: 176), dan menenun reputasi seperti laba-laba—tampak kokoh, namun kosong (QS. Al-Ankabut: 41).

Kampus tetap berdiri. Gelar tetap diberikan. Namun kebenaran—perlahan mati.

Politisi Kalbun

Dalam politik, semua disebut “strategi”. Menjelang kekuasaan, dekat dengan rakyat; setelah berkuasa, dekat dengan kepentingan.

Anggaran disusun, proyek dibagi, kebijakan diarahkan—tampak rapi, bahkan cerdas. Namun publik tahu: banyak keputusan lahir bukan dari amanah, tetapi dari kepentingan.

Kekuasaan tak lagi dijalankan—ia diperdagangkan. Ia mengejar tanpa batas seperti anjing (kalbun) (QS. Al-A‘raf: 176), menekan seperti singa (QS. Al-Muddaththir: 51), dan menyusun seperti serigala (QS. Yusuf: 13). Kekuatan ada, kecerdikan ada—tetapi arah hilang.

Pemimpin Kuda

Di tingkat kepemimpinan, masalahnya sunyi—tapi dalam. Kebijakan tampak rasional, angka meyakinkan, namun hidup tak berubah:

Harga naik, rakyat tertekan, program tak menyentuh. Pemimpin melihat data—tetapi kehilangan rasa.

Ia berlari tanpa kendali seperti kuda (QS. Al-‘Adiyat), besar namun salah arah seperti gajah (QS. Al-Fil: 1), dan tumpul seperti ternak (QS. Al-A‘raf: 179).

Yang berbahaya bukan yang tidak tahu, tetapi hilang kepekaan.

Di lingkar kekuasaan, pola itu sama: sudah memiliki segalanya—tetap merasa kurang.

Kasus terbuka, publik terkejut, lalu terbiasa. Masalahnya bukan sistem, tetapi hilangnya batas.

Ia menjulur seperti anjing yang tak pernah puas (QS. Al-A‘raf: 176), kehilangan batas halal-haram seperti babi (QS. Al-Ma’idah: 3), dan mengikuti dorongan tanpa kendali seperti ternak (QS. Al-A‘raf: 179).

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved