Senin, 20 April 2026

KUPI BEUNGOH

Ketika Mati Rasa: Profesional Berperikebinatangan

Masalah terbesar kita hari ini bukan korupsi, manipulasi, atau ketidakadilan—melainkan hilangnya kemarahan terhadap kejahatan.

Serambinews.com/HO
M. Shabri Abd. Majid adalah Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Harta tak pernah cukup, jabatan tak pernah penuh—karena yang hilang bukan akal, tetapi rem di dalam diri.

Pebisnis Ular

Di dunia bisnis, semuanya tampak rasional—efisiensi, untung, keberlanjutan.

Namun pola itu berulang: kedekatan jadi pintu proyek, harga dimainkan, kualitas ditekan, tenaga kerja diperas, konsumen diarahkan dengan informasi setengah jujur. Semua tampak legal—namun tidak semuanya benar. 

Di titik itu, bisnis tak lagi bicara nilai, tetapi naluri: semua dilahap.

Ia bekerja senyap seperti ular—halus, tetapi mematikan (QS. Thaha: 20); menenun kepentingan seperti laba-laba—luas, namun rapuh (QS. Al-Ankabut: 41); dan mengejar tanpa batas seperti anjing (QS. Al-A‘raf: 176).

Keuntungan naik, proyek berjalan— tetapi batas dalam nurani hilang. Yang dihitung hanya untung—bukan halal-haram.

Influencer Lalat

Di ruang digital, yang viral mengalahkan yang benar. Keburukan dibesarkan, konflik dipertontonkan, kesalahan dipasarkan.

Narasi setengah benar bahkan hoaks disebarkan—bukan untuk kebenaran, tetapi untuk perhatian.

Kita tidak hanya menonton—kita ikut menyebarkan. Tanpa sadar, kita menjadi bagian dari masalah: seperti lalat yang mengotori apa pun yang disentuh (QS. Al-Hajj: 73), bergerak seperti belalang tanpa arah (QS. Al-Qamar: 7), dan menenun luas namun rapuh seperti laba-laba (QS. Al-Ankabut: 41).

Ramai—tetapi kosong. Banyak suara, sedikit makna; banyak konten, hampir tak ada kebenaran.

Tenaga Medis Nyamuk

Di ranah kesehatan, luka itu sering tak terlihat—kecil, tetapi menyakitkan.

Pelayanan ada, prosedur berjalan, namun empati menipis. Pasien menjadi nomor, keluhan menjadi data.

Tenaga medis bekerja—tetapi tak selalu hadir. Ia bisa seperti nyamuk: kecil, nyaris tak terasa, namun menyedot perlahan—waktu, perhatian, kepercayaan (QS. Al-Baqarah: 26); memikul seperti keledai tanpa makna (QS. Al-Jumu’ah: 5); dan berjalan tanpa kesadaran seperti ternak (QS. Al-A‘raf: 179).

Yang hilang bukan kompetensi—tetapi rasa. Ketika itu terjadi, pelayanan tidak lagi menyembuhkan—ia hanya berjalan. Di balik semua itu, yang terkikis bukan hanya kualitas layanan, tetapi kemanusiaan itu sendiri.

Memanusiakan Manusia: Menghidupkan Kembali Rasa

Masalah kita bukan kurang akal atau aturan, tetapi mati rasa—mati hati, buta mata, dan tuli telinga.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved