KUPI BEUNGOH
Ketika Mati Rasa: Profesional Berperikebinatangan
Masalah terbesar kita hari ini bukan korupsi, manipulasi, atau ketidakadilan—melainkan hilangnya kemarahan terhadap kejahatan.
Padahal semuanya ada, namun tidak digunakan (QS. Al-A‘raf: 179); ini krisis jiwa. Hati kebal nasihat, mata tak lagi melihat kebenaran, telinga menolak peringatan.
Dosa diulang hingga terasa biasa; yang salah menjadi wajar, yang benar terasa asing.
Yang buta bukan mata, tetapi hati (QS. Al-Hajj: 46). Manusia tersesat bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau merasa—dan merasa benar.
Solusinya bukan slogan, melainkan menghidupkan kembali rasa: hati dibersihkan dengan taubat dan dzikir, mata dilatih melihat kebenaran, telinga dibuka untuk nasihat.
Jika orang berilmu diam, kebatilan berkuasa; menyembunyikan kebenaran dilaknat (QS. Al-Baqarah: 159). Maka diam bukan netral—ia keberpihakan.
Jika hati hidup, manusia akan lurus. Jika mati—ia melangkah jauh… sambil yakin ia benar. Semoga masih ada getar yang menghidupkan hati, membuka mata, dan menajamkan telinga—sebelum semuanya padam.
*) PENULIS adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
kupi beungoh
M Shabri Abd Majid
Opini Shabri Abd Majid
birokrat
pejabat
Akademisi
Politisi
pemimpin
Pebisnis
Influencer
Eksklusif
multiangle
Meaningful
| Menyikapi Ancaman El-Nino Godzilla |
|
|---|
| Tak Terdata, Tak Terlihat: Realitas Sosial di Balik Angka JKA |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)