Senin, 20 April 2026

KUPI BEUNGOH

Ketika Mati Rasa: Profesional Berperikebinatangan

Masalah terbesar kita hari ini bukan korupsi, manipulasi, atau ketidakadilan—melainkan hilangnya kemarahan terhadap kejahatan.

Serambinews.com/HO
M. Shabri Abd. Majid adalah Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Padahal semuanya ada, namun tidak digunakan (QS. Al-A‘raf: 179); ini krisis jiwa. Hati kebal nasihat, mata tak lagi melihat kebenaran, telinga menolak peringatan.

Dosa diulang hingga terasa biasa; yang salah menjadi wajar, yang benar terasa asing.

Yang buta bukan mata, tetapi hati (QS. Al-Hajj: 46). Manusia tersesat bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau merasa—dan merasa benar.

Solusinya bukan slogan, melainkan menghidupkan kembali rasa: hati dibersihkan dengan taubat dan dzikir, mata dilatih melihat kebenaran, telinga dibuka untuk nasihat.

Jika orang berilmu diam, kebatilan berkuasa; menyembunyikan kebenaran dilaknat (QS. Al-Baqarah: 159). Maka diam bukan netral—ia keberpihakan.

Jika hati hidup, manusia akan lurus. Jika mati—ia melangkah jauh… sambil yakin ia benar. Semoga masih ada getar yang menghidupkan hati, membuka mata, dan menajamkan telinga—sebelum semuanya padam.

*) PENULIS adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id 

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved