Jurnalisme Warga
Mengapa Edukasi Narkoba Harus Viral?
Di tengah derasnya arus informasi digital, perhatian publik, terutama generasi muda, menjadi komoditas yang sangat mahal.
M. ZUBAIR, S.H., M.H., Kepala Diskominsa Bireuen, melaporkan dari Bireuen
Di tengah derasnya arus informasi digital, perhatian publik, terutama generasi muda, menjadi komoditas yang sangat mahal. Setiap hari, jutaan konten berlomba-lomba muncul di layar gawai: mulai dari hiburan ringan, tren tarian, hingga isu-isu sosial yang dikemas secara kreatif.
Dalam lanskap digital seperti ini, kampanye edukasi, termasuk tentang bahaya narkoba, tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan konvensional. Edukasi harus bertransformasi. Ia tidak cukup hanya benar, tetapi juga harus menarik. Dalam bahasa yang lebih sederhana: edukasi narkoba harus viral.
Upaya kampanye antinarkoba melalui media digital tersebut sekarang sedang gencar dilakukan oleh beberapa lembaga di Aceh, seperti Forum Aceh Menulis (FAMe), BNNP Aceh, Lembaga Pemerhati dan Advokasi Syariat Islam (Lepadsi), Lembaga Wali Nanggroe Aceh, Polda Aceh, Pemko Banda Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK), dan sejumlah kampus lainnya.
Setiap lembaga atau organisasi tersebut menyiapkan kata-kata bijaknya atau ‘quote’ mengenai bahaya narkoba yang dikemas dalam bentuk e-flyer dan diunggah pada medsos masing-masing lembaga/organisasi yang tergabung dalam kegiatan kampanye bersama tersebut.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Generasi muda saat ini, khususnya Generasi Z dan Alpha, tumbuh dalam ekosistem digital yang serbacepat dan visual. Mereka lebih responsif terhadap konten singkat, padat, dan emosional.
Video berdurasi 15 hingga 60 detik sering kali lebih berdampak dibandingkan artikel panjang atau seminar formal. Dalam konteks ini, pesan tentang bahaya narkoba harus mampu bersaing dengan konten hiburan yang jauh lebih
menggoda. Jika tidak, pesan tersebut akan tenggelam di antara hiruk-pikuk algoritma.
Namun, menjadikan edukasi narkoba sebagai konten viral bukan berarti mengorbankan substansi. Justru di sinilah tantangannya: bagaimana mengemas pesan yang serius dan krusial dalam format yang ringan, menarik, dan mudah dibagikan. Kreativitas menjadi kunci. Misalnya, alih-alih menyampaikan data statistik secara kaku, kampanye dapat
menggunakan ‘storytelling’ kisah nyata mantan pengguna, animasi, atau bahkan pendekatan humor yang tetap sensitif.
Konten seperti ini lebih mudah menyentuh emosi dan mendorong audiens untuk berbagi.
Mungkin hal seperti ini juga menarik bila dilakukan lembaga dan organisasi yang sedang gencar mengampanyekan Gerakan antinarkoba di Aceh tersebut. Saya teringat, video-video singkat seperti itu ada ditampilkan oleh narasumber dari BNNP Aceh saat menyampaikan materi tentang bahaya narkoba pada pelatihan konten kreator yang dilaksanakan oleh Diskominsa Bireuen bekerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Komdigi tahun lalu di Bireuen.
Peran media sosial dalam hal ini sangatlah strategis. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube bukan hanya sarana hiburan, melainkan juga ruang pembentukan opini.
Algoritma pada platform-platform ini bekerja dengan prinsip keterlibatan: semakin banyak interaksi yang didapat sebuah konten, semakin luas jangkauannya. Artinya, jika konten edukasi narkoba mampu menarik perhatian sejak detik pertama, peluang untuk menjangkau audiens yang lebih luas akan meningkat secara signifikan.
Sayangnya, banyak kampanye antinarkoba masih terjebak pada pendekatan lama. Visual yang kaku, bahasa yang terlalu formal, dan pesan yang cenderung menggurui sering kali membuat audiens muda merasa jauh. Alih-alih merasa terhubung, mereka justru mengabaikan.
Jurnalisme Warga
penulis jurnalisme warga
Penulis JW
Mengapa Edukasi Narkoba Harus Viral
M Zubair SH MH
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Progres Menggembirakan Koperasi Desa Merah Putih di Aceh Barat |
|
|---|
| Bermain Ular Tangga Sambil Kelola Emosi di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah |
|
|---|
| Green Jihad, Menanam Harapan di Tanah Pernah Tenggelam |
|
|---|
| Ketika Manusia Mengagungkan AI, Terjadilah Pergeseran Nilai Agama dan Sosial |
|
|---|
| Lima Tahun UBBG, Kampus Bermutu dan Maju, Refleksi Dies Natalis Ke-5 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-ZUBAIR-S-H-MH-Kepala-Dinas-Kominsa-Bireuen-melaporkan-dari-Bireuen.jpg)