Kupi Beungoh
Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian
Putaran kedua pertemuan perdamaian di Islamabad menjadi momentum penting dalam sejarah upaya penyelesaian konflik yang berkepanjangan di Iran.
Gencatan senjata yang pernah dilakukan sebelumnya memberikan pelajaran berharga. Dalam jeda konflik tersebut, para pihak dapat melihat secara lebih jernih dampak nyata dari peperangan, biaya perang, beban ekonomi yang luar biasa, tekanan sosial dunia yang meningkat, serta ketidakpastian masa depan peradaban dunia.
Pengalaman ini seharusnya menjadi dasar untuk memperkuat komitmen menuju perdamaian yang berkelanjutan. Namun demikian, tantangan terbesar justru datang dari aktor-aktor yang memiliki kepentingan terhadap keberlanjutan konflik, termasuk jaringan industri persenjataan global yang telah memperoleh keuntungan besar dari perang.
Salah satu isu strategis yang menjadi perhatian dunia dalam konteks konflik ini adalah kawasan Selat Hormuz.
Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 2, Catatan Perjalanan ke Pulau Sabang
Jalur pelayaran ini merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi global. Ketegangan di kawasan ini, termasuk potensi blokade, telah menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi dunia. Gangguan terhadap distribusi energi tidak hanya berdampak pada negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Celakanya juga menjalar hingga ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan nasional, khususnya di sektor kebutuhan energi dan pengaruh ekonomi global. Ketergantungan terhadap pasokan luar negeri harus diimbangi dengan upaya serius dalam mengembangkan sumber daya domestik.
Di sisi lain, posisi Indonesia sebagai negara non-blok memberikan peluang strategis untuk memainkan peran sebagai jembatan perdamaian.
Dengan politik luar negeri yang bebas dan aktif, Indonesia memiliki legitimasi untuk mendorong dialog dan menjadi bagian dari solusi global.
Lebih jauh lagi, stabilitas global memiliki keterkaitan erat dengan aspek sosial, budaya dan keagamaan. Menjelang kewajiban rukun Islam, rutinitas tahunan Ibadah Haji, umat Muslim di seluruh dunia berharap situasi internasional tetap kondusif, penghentian konflik untuk perdamaian.
Ibadah haji bukan hanya ritual keagamaan, haji adalah simbol persatuan umat Islam lintas negara. Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan berpotensi mengganggu kelancaran pelaksanaan ibadah ini, baik dari aspek keamanan maupun logistik.
Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 3, Luka yang tak Terlihat, Duka yang tak Berkesudahan
Harapan kini dalam perundingan ke dua di Islamabad perdamaian menjadi harapan bersama yang tidak hanya bersifat politis, tetapi juga spiritual.
Pada akhirnya, perdamaian adalah sebuah proses yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia membutuhkan komitmen, kesabaran, dan keberanian untuk terus memperjuangkannya.
Pertemuan di Islamabad jajaran/agenda perdamaian dan para pihak yang terlibat dalam konflik harus dilihat sebagai langkah awal dari perjalanan panjang menuju rekonsiliasi permanen, sejati.
Transformasi konflik hanya dapat terwujud jika para pihak bersedia menurunkan ego, menggeser kepentingan sempit, sikap, perilaku, tindakan dan omongan di media masa yang lebih positif dapat membangun kembali rasa saling percaya.
Terkait dengan perundingan lanjutan di Islamabad, dilaporkan bahwa perwakilan Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, menyampaikan kepada ABC News bahwa ia yakin putaran perundingan berikutnya akan menghasilkan keputusan yang “sangat penting” yang menjadi penentu arah ke depannya bagi kedua negara. (Senin 20 April -.Beritasatu.com).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-adalah-Analis-Kebijakan-berdomisili-di-Jakarta-21-4.jpg)