Jumat, 24 April 2026

KUPI BEUNGOH

Sudahkah Kita Berziarah ke Diri Sendiri?

Ziarah biasanya kita pahami sebagai perjalanan spiritual ke tempat suci, makam, atau lokasi bersejarah yang penuh makna.

Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul Jakarta 

Dalam perspektif ini, ziarah menjadi bentuk kasih sayang yang paling dalam. Kita belajar untuk tidak lagi memperlakukan diri sebagai musuh yang harus terus dikritik, tetapi sebagai manusia yang sedang bertumbuh. 

Kita mulai memahami bahwa luka bukan untuk disembunyikan, melainkan untuk dikenali agar bisa sembuh dengan cara yang sehat.

Baca juga: Khutbah Jumat - Ustaz Abizal Ajak Umat Siapkan Kurban yang Terbaik: Jadi Kendaraan Akhirat

Diri kita sendiri

Di era media sosial, tantangan untuk berziarah ke diri sendiri menjadi semakin besar. Kita terbiasa membandingkan hidup kita dengan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih bahagia, lebih sempurna. 

Kita lupa bahwa apa yang ditampilkan di layar hanyalah potongan kecil dari kenyataan yang jauh lebih kompleks. Akibatnya, kita semakin jauh dari diri sendiri karena terlalu sibuk menjadi orang lain.

Padahal setiap manusia memiliki tanah batin  yang berbeda. Tidak ada dua perjalanan hidup yang sama. 

Ziarah ke diri sendiri mengajarkan kita untuk kembali ke tanah itu mengenali batas, potensi, luka, dan kekuatan yang hanya kita miliki. Di sanalah kita bisa menemukan keaslian yang tidak bisa ditiru oleh siapa pun.

Proses ini tidak selalu membutuhkan tempat khusus atau ritual yang rumit. Kadang cukup dengan duduk diam tanpa gangguan, menulis apa yang kita rasakan, atau berjalan tanpa tujuan sambil mendengarkan pikiran sendiri. 

Dalam kesederhanaan itu, kita mulai membangun kembali hubungan yang sering terputus: hubungan dengan diri sendiri.

Ada momen ketika seseorang akhirnya menyadari bahwa yang paling ia butuhkan bukanlah pengakuan dari luar, melainkan pemahaman dari dalam. 

Bahwa validasi terbesar bukan datang dari jumlah pujian, tetapi dari kemampuan untuk berkata: aku menerima diriku apa adanya.

Baca juga: Kritik Tak Beretika Picu Konflik dan Gagalkan Perubahan, Prof Syamsul Rijal Ungkap 4 Solusinya

Ziarah ke diri sendiri juga mengajarkan tentang keheningan yang tidak kosong. Keheningan yang justru penuh makna, refleksi, dan kesadaran. 

Dalam keheningan itu, kita belajar bahwa tidak semua hal harus segera dijawab, tidak semua luka harus buru.buru disembuhkan, dan tidak semua pertanyaan harus segera ditemukan solusinya.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak pernah benar benar selesai berziarah ke diri sendiri. Ini bukan perjalanan sekali jadi, melainkan proses yang terus berulang seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup. 

Setiap fase kehidupan membawa kita kembali untuk menengok ulang siapa diri kita yang sekarang.

Maka pertanyaan sudahkah kita berziarah ke diri sendiri? bukanlah pertanyaan yang menuntut jawaban cepat. Ia adalah undangan. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved