KUPI BEUNGOH
Sudahkah Kita Berziarah ke Diri Sendiri?
Ziarah biasanya kita pahami sebagai perjalanan spiritual ke tempat suci, makam, atau lokasi bersejarah yang penuh makna.
Penulis Dr. Iswadi, M.Pd*)
Ada sebuah pertanyaan yang jarang kita ajukan di tengah hiruk pikuk kehidupan modern: kapan terakhir kali kita berziarah ke diri sendiri?
Kita begitu sibuk melakukan perjalanan jauh ke kota lain, ke tempat wisata, ke masa depan yang kita rencanakan dengan detail tetapi sering lupa bahwa ada satu perjalanan yang paling dekat, paling sunyi, dan paling penting: perjalanan ke dalam diri sendiri.
Ziarah biasanya kita pahami sebagai perjalanan spiritual ke tempat suci, makam, atau lokasi bersejarah yang penuh makna.
Namun, bagaimana jika ziarah tidak selalu tentang tempat, melainkan tentang kesadaran? Bagaimana jika ziarah justru adalah proses menengok kembali ruang batin kita sendiri yang sering kita tinggalkan tanpa disadari?
Di tengah dunia yang serba cepat, manusia modern lebih sering hidup di luar dirinya. Kita bangun tidur dengan notifikasi ponsel, menjalani hari dengan target pekerjaan, lalu menutup malam dengan berbagai distraksi digital.
Kita jarang benar benar diam untuk bertanya: apa kabar hatiku hari ini? atau apakah aku masih mengenali diriku sendiri?
Ziarah ke diri sendiri adalah keberanian untuk berhenti sejenak. Bukan hanya berhenti secara fisik, tetapi berhenti dari kebisingan yang terus mengisi kepala.
Dalam diam itu, kita mulai mendengar suara yang selama ini tertutup: suara lelah yang tidak pernah diistirahatkan, luka yang tidak pernah diakui, harapan yang diam diam masih bertahan, dan ketakutan yang kita sembunyikan di balik senyum.
Baca juga: Evaluasi JKA Picu Orang “Meu Pep-pep”, Mualem Bakal Atur Pengawasan di Sektor Kesehatan
Namun perjalanan ini tidak selalu nyaman. Berziarah ke diri sendiri sering kali berarti berhadapan dengan hal hal yang selama ini kita hindari.
Kita mungkin bertemu dengan versi diri yang gagal, yang kecewa, yang pernah menyakiti atau disakiti. Kita akan melihat keputusan keputusan yang kita sesali, kata-kata yang tak sempat ditarik kembali, dan waktu yang tidak bisa diulang. Tidak semua orang siap untuk itu.
Karena itu, banyak orang memilih untuk terus sibuk. Kesibukan menjadi cara paling halus untuk menghindari pertemuan dengan diri sendiri.
Kita mengisi setiap ruang kosong dengan aktivitas, setiap keheningan dengan suara, setiap kesepian dengan hiburan. Padahal justru dalam ruang kosong itulah diri kita yang sejati perlahan muncul ke permukaan.
Ziarah ke diri sendiri bukanlah tentang menghakimi masa lalu, melainkan memahami perjalanan yang telah membawa kita sampai di titik ini.
Ini adalah proses rekonsiliasi dengan diri sendiri—menerima bahwa kita pernah rapuh, pernah salah, pernah jatuh, tetapi juga pernah bertahan lebih kuat dari yang kita kira.
Dalam perspektif ini, ziarah menjadi bentuk kasih sayang yang paling dalam. Kita belajar untuk tidak lagi memperlakukan diri sebagai musuh yang harus terus dikritik, tetapi sebagai manusia yang sedang bertumbuh.
Kita mulai memahami bahwa luka bukan untuk disembunyikan, melainkan untuk dikenali agar bisa sembuh dengan cara yang sehat.
Baca juga: Khutbah Jumat - Ustaz Abizal Ajak Umat Siapkan Kurban yang Terbaik: Jadi Kendaraan Akhirat
Diri kita sendiri
Di era media sosial, tantangan untuk berziarah ke diri sendiri menjadi semakin besar. Kita terbiasa membandingkan hidup kita dengan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih bahagia, lebih sempurna.
Kita lupa bahwa apa yang ditampilkan di layar hanyalah potongan kecil dari kenyataan yang jauh lebih kompleks. Akibatnya, kita semakin jauh dari diri sendiri karena terlalu sibuk menjadi orang lain.
Padahal setiap manusia memiliki tanah batin yang berbeda. Tidak ada dua perjalanan hidup yang sama.
Ziarah ke diri sendiri mengajarkan kita untuk kembali ke tanah itu mengenali batas, potensi, luka, dan kekuatan yang hanya kita miliki. Di sanalah kita bisa menemukan keaslian yang tidak bisa ditiru oleh siapa pun.
Proses ini tidak selalu membutuhkan tempat khusus atau ritual yang rumit. Kadang cukup dengan duduk diam tanpa gangguan, menulis apa yang kita rasakan, atau berjalan tanpa tujuan sambil mendengarkan pikiran sendiri.
Dalam kesederhanaan itu, kita mulai membangun kembali hubungan yang sering terputus: hubungan dengan diri sendiri.
Ada momen ketika seseorang akhirnya menyadari bahwa yang paling ia butuhkan bukanlah pengakuan dari luar, melainkan pemahaman dari dalam.
Bahwa validasi terbesar bukan datang dari jumlah pujian, tetapi dari kemampuan untuk berkata: aku menerima diriku apa adanya.
Baca juga: Kritik Tak Beretika Picu Konflik dan Gagalkan Perubahan, Prof Syamsul Rijal Ungkap 4 Solusinya
Ziarah ke diri sendiri juga mengajarkan tentang keheningan yang tidak kosong. Keheningan yang justru penuh makna, refleksi, dan kesadaran.
Dalam keheningan itu, kita belajar bahwa tidak semua hal harus segera dijawab, tidak semua luka harus buru.buru disembuhkan, dan tidak semua pertanyaan harus segera ditemukan solusinya.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak pernah benar benar selesai berziarah ke diri sendiri. Ini bukan perjalanan sekali jadi, melainkan proses yang terus berulang seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup.
Setiap fase kehidupan membawa kita kembali untuk menengok ulang siapa diri kita yang sekarang.
Maka pertanyaan sudahkah kita berziarah ke diri sendiri? bukanlah pertanyaan yang menuntut jawaban cepat. Ia adalah undangan.
Undangan untuk kembali pulang ke dalam diri, untuk duduk sejenak bersama pikiran dan perasaan kita sendiri, dan untuk berdamai dengan perjalanan yang telah kita tempuh.
Sebab pada akhirnya, rumah paling sunyi sekaligus paling jujur yang kita miliki bukanlah tempat di luar sana, melainkan diri kita sendiri.
*) PENULIS adalah Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Sebelum Kampus Sempat Bicara! |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 13, Keberlanjutan Perdamaian dan Membuka Ruang Peradaban Dunia |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 12, Perpanjangan Gencatan Senjata, Persiapan Perdamaian |
|
|---|
| Saatnya Wakaf Harus Naik Kelas, Dari Aset Diam Menjadi Kekuatan Umat |
|
|---|
| PR untuk Rektor di Aceh: Alumni Universitas Menganggur Makin Tinggi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta_20260424.jpg)