Kupi Beungoh
Senjakala Ruang Aman Anak
Kekerasan di daycare membuka luka: dari trauma bayi hingga lemahnya sistem perlindungan anak. Saatnya evaluasi serius demi masa depan generasi.
Oleh: Siti Hajar Sri Hidayati
Neraka adalah orang lain,” tulis Jean-Paul Sartre. Sebuah kalimat yang kerap dibaca sebagai renungan filosofis tentang eksistensialisme.
Sebenarnya makna utama dari ungkapan itu adalah dilema manusia yang selalu tersandera oleh tatapan dan penilaian. Sejatinya manusia membutuhkan untuk merasa aman dan keinginan tetap bebas.
Jika kita memperluas maknanya, ungkapan “neraka adalah orang lain” dari Jean-Paul Sartre akan menemukan relevansinya.
Dalam hidup ini, dipastikan kita kerap dihadapkan pada dimensi ketegangan, ungkapan itu menjelma lebih nyata, bukan sekadar rasa tidak nyaman karena dinilai, melainkan pengalaman hidup yang dibentuk oleh relasi toxic, ancaman, bahkan kekerasan dalam keluarga ataupun relasi sosial lebih luas.
Bukti neraka adalah orang lain itu kian nyata, yang kemudian terpaksa kita saksikan saat ini melalui video viral yang mendistraksi ruang batin kita semua.
Kasus kekerasan di pusat penitipan anak yang mencuat ke publik baru-baru ini, rentetan peristiwanya kekerasan di daycare pertama kali muncul di Yogyakarta, selang beberapa hari, terungkap lagi ke publik sebuah bocoran video CCTV kekerasan terhadap bayi pada salah satu daycare di Kota Banda Aceh.
Sebagai orang tua yang juga mempunyai anak kecil, menonton video tersebut rasanya sangat hancur, marah, sedih dan terteror. Dalam benak kita semua, mungkin kita bertanya, apa yang harus dilakukan? Bagaimana kasus demi kasus yang serupa itu muncul dan berulang ? Kemana pihak otoritas?
Konteks dari peristiwa itu tidak dapat dipahami sekadar sebagai pelanggaran hukum individual. Peristiwa tersebut justru mengungkap kerentanan struktural dalam sistem perlindungan anak di Indonesia.
Hal yang paling ironis adalah ketika daycare menjadi tempat bagi orang tua yang bekerja menitipkan anaknya agar diperhatikan, dirawat serta tempat yang semestinya terbentuk kelekatan rasa aman bagi anak justru berubah menjadi “day-scare”, sumber ancaman.
Menyedihkan memang. Bayangkan hari-hari jahanam yang dilalui tanpa kata-kata oleh bayi tak berdosa itu, mereka hanya bisa menangis meronta tidak tahu cara membalas.
Bayi memang tanpa bisa banyak berkata-kata, belum mampu mengadu, sehingga pelaku kekerasan itu tanpa malu, pengecut yang bersembunyi dibalik tangisan mereka. Apakah urusan luka batin dan trauma hanya monopoli orang dewasa? Tidak.
Arsitektur otak
Berdasarkan dimensi psikologis, untuk memahami tingkat kerusakan yang mungkin terjadi, pada kasus itu, kita dapat membayangkan ilustrasi perkembangan anak usia dini sebagai proses pembangunan fondasi sebuah rumah.
Pada fase awal kehidupan, otak anak berada dalam kondisi yang sangat plastis; koneksi saraf sedang terbentuk secara intensif, layaknya struktur dasar bangunan yang sedang dalam tahap pengecoran.
Ketika dalam fase ini anak terpapar kekerasan atau pengabaian, maka fondasi tersebut berisiko mengalami keretakan.
| Kupiah Meukeutop dan Nama Besar Kampus Aceh: Menjaga atau Mengerdilkan? |
|
|---|
| Refleksi Hardiknas: Alarm Karakter dan "Eksploitasi Keikhlasan" |
|
|---|
| Serahkan Urusan pada Ahlinya, Jika Tidak Maka Tunggulah Kehancuran |
|
|---|
| Mendesain Ulang Arah Pendidikan Kita |
|
|---|
| Stigma Gembel, Mengapa Jalan Kaki di Banda Aceh Dipandang Sebelah Mata? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siti-Hajar-Sri-Hidayati-MA-Dosen-Fakultas-Psikologi-UIN-Ar-Raniry.jpg)