Kupi Beungoh
Senjakala Ruang Aman Anak
Kekerasan di daycare membuka luka: dari trauma bayi hingga lemahnya sistem perlindungan anak. Saatnya evaluasi serius demi masa depan generasi.
Oleh karena itu, penanganan kasus semacam ini tidak cukup berhenti pada proses hukum. Intervensi perlu dirancang secara komprehensif, mencakup aspek rehabilitatif dan preventif.
Pada level individu, anak-anak korban memerlukan pendampingan psikologis jangka panjang untuk meminimalkan dampak trauma yang mungkin muncul secara laten di kemudian hari. Intervensi ini tidak bisa bersifat sesaat, melainkan harus berkelanjutan dan terintegrasi dengan sistem pendidikan serta layanan kesehatan.
Pada level institusional, perlu ada standarisasi yang lebih ketat terhadap operasional daycare, termasuk evaluasi psikologis berkala bagi pengasuh dan pengelola.
Sertifikasi tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada kesiapan emosional dan kapasitas regulasi diri.
Sementara itu, pada level kebijakan, negara perlu memandang penitipan anak sebagai bagian dari infrastruktur sosial yang krusial, bukan sekadar sektor jasa.
Pada akhirnya, krisis ini mengingatkan kita bahwa investasi pada kesehatan mental anak merupakan investasi jangka panjang bagi bangsa.
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang aman dan suportif memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi individu yang stabil, adaptif, dan produktif. Sebaliknya, kegagalan dalam menyediakan lingkungan tersebut akan menghasilkan lingkaran setan.
Kenyataan inilah, kita dihadapkan pada “ongkos tak kasat mata” yakni beban psikologis kolektif yang berpotensi mempengaruhi kualitas generasi di masa depan apabila tidak ditangani secara serius.
Penulis adalah Dosen Psikologi UIN Ar Raniry
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Kupiah Meukeutop dan Nama Besar Kampus Aceh: Menjaga atau Mengerdilkan? |
|
|---|
| Refleksi Hardiknas: Alarm Karakter dan "Eksploitasi Keikhlasan" |
|
|---|
| Serahkan Urusan pada Ahlinya, Jika Tidak Maka Tunggulah Kehancuran |
|
|---|
| Mendesain Ulang Arah Pendidikan Kita |
|
|---|
| Stigma Gembel, Mengapa Jalan Kaki di Banda Aceh Dipandang Sebelah Mata? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siti-Hajar-Sri-Hidayati-MA-Dosen-Fakultas-Psikologi-UIN-Ar-Raniry.jpg)