KUPI BEUNGOH
Sekolah di Persimpangan Jalan: Antara Akses, Pilihan, dan Ketimpangan
Kita sering berbicara tentang pemerataan pendidikan, tetapi lupa bahwa titik awal setiap anak tidak pernah benar-benar setara.
Penulis Dr. Iswadi, M.Pd*)
Di banyak daerah di Indonesia, kita masih bisa menemukan sekolah sekolah yang berdiri di lokasi yang tampak tidak strategis di pinggir jalan kecil, dekat persimpangan, atau bahkan di antara batas desa dan kawasan industri.
Namun, justru dari tempat-tempat seperti itulah, realitas pendidikan kita terlihat paling jelas: pendidikan bukan sekadar soal ruang belajar, tetapi tentang pertemuan berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan harapan masa depan.
Sekolah di persimpangan jalan, secara simbolik, menggambarkan kondisi pendidikan kita hari ini. Ia menjadi titik temu antara anak anak dari keluarga petani, buruh, hingga kalangan menengah perkotaan.
Mereka datang dengan akses yang berbeda, bekal yang tidak sama, dan peluang yang sering kali timpang. Namun di dalam kelas yang sama, mereka diharapkan mencapai tujuan yang seragam.
Di sinilah letak persoalan sekaligus tantangannya.
Kita sering berbicara tentang pemerataan pendidikan, tetapi lupa bahwa titik awal setiap anak tidak pernah benar-benar setara.
Anak yang harus berjalan kaki beberapa kilometer jelas menghadapi kondisi berbeda dibandingkan mereka yang diantar kendaraan.
Baca juga: Catatan Kritis Pendidikan Indonesia pada Hardiknas 2026
Anak yang harus membantu orang tua sebelum sekolah juga memiliki beban yang tidak terlihat dalam sistem penilaian akademik.
Sekolah di persimpangan memperlihatkan hal itu secara gamblang. Ia bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang di mana ketimpangan sosial hadir setiap hari diam diam, tetapi nyata.
Namun, di sisi lain, justru di tempat seperti itulah nilai pendidikan yang sesungguhnya bisa tumbuh. Ketika anak anak dari berbagai latar belakang duduk bersama, mereka belajar lebih dari sekadar pelajaran di buku.
Mereka belajar memahami perbedaan, merasakan empati, dan melihat dunia dari perspektif yang lebih luas.
Masalahnya, sistem pendidikan kita belum sepenuhnya dirancang untuk mengakomodasi realitas ini.
Kurikulum masih cenderung seragam, seolah semua siswa memiliki kondisi yang sama. Penilaian masih fokus pada hasil, bukan proses.
Sementara itu, dukungan terhadap siswa yang menghadapi keterbatasan masih belum merata. Akibatnya, sekolah yang berada di persimpangan ini sering kali hanya menjadi tempat singgah, bukan jembatan yang benar benar mengubah masa depan.
Lebih jauh lagi, kita perlu jujur melihat bahwa arah setelah persimpangan itu juga tidak selalu terbuka lebar.
Banyak siswa yang pada akhirnya terpaksa memilih jalan yang bukan karena keinginan, tetapi karena keterbatasan.
Baca juga: Prabowo Gelar Ratas di Hambalang, Bahas Pendidikan, Hilirisasi hingga Stabilitas Keamanan Nasional
Ada yang langsung bekerja setelah lulus, ada yang melanjutkan pendidikan dengan penuh perjuangan, dan ada pula yang terhenti di tengah jalan.
Pertanyaannya: apakah sekolah sudah cukup membekali mereka untuk menghadapi pilihan pilihan itu?
Peran guru menjadi sangat krusial dalam konteks ini. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penunjuk arah.
Di sekolah sekolah seperti ini, guru sering kali menjadi satu satunya figur yang mampu membuka wawasan siswa tentang kemungkinan kemungkinan masa depan.
Namun, kita juga harus mengakui bahwa beban yang ditanggung guru tidak ringan, terutama di sekolah dengan keterbatasan fasilitas.
Di sisi kebijakan, pemerintah perlu melihat sekolah sekolah di daerah seperti ini bukan sebagai pinggiran, tetapi sebagai pusat perhatian.
Intervensi tidak bisa hanya berupa pembangunan fisik, tetapi juga harus menyentuh aspek kualitas pengajaran, dukungan sosial, dan akses lanjutan bagi siswa.
Program beasiswa, bimbingan karier, hingga penguatan pendidikan vokasi bisa menjadi langkah konkret untuk memastikan bahwa setiap anak benar-benar memiliki pilihan, bukan sekadar mengikuti arus keadaan.
Pendidikan menjadi jalan keluar dari ketimpangan
Selain itu, penting juga untuk membangun keterlibatan masyarakat. Sekolah tidak bisa berdiri sendiri.
Orang tua, lingkungan sekitar, hingga sektor swasta perlu dilibatkan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Sekolah di persimpangan jalan pada akhirnya adalah cermin. Ia mencerminkan bagaimana kita sebagai bangsa memperlakukan pendidikan: apakah benar benar sebagai alat mobilitas sosial, atau hanya sebagai formalitas yang harus dilalui.
Baca juga: Mendesain Ulang Arah Pendidikan Kita
Jika kita ingin pendidikan menjadi jalan keluar dari ketimpangan, maka kita harus mulai dari titik titik persimpangan ini.
Kita harus memastikan bahwa setiap anak, dari arah mana pun ia datang, memiliki kesempatan yang sama untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik.
Karena pada akhirnya, masa depan bangsa ini tidak ditentukan di gedung gedung megah atau sekolah elit semata, tetapi juga di sekolah sekolah sederhana di pinggir persimpangan tempat di mana mimpi mimpi kecil sedang berjuang untuk menemukan jalannya.
*) PENULIS adalah Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| PERTI Aceh: Menjaga Sanad, Merawat Tradisi, dan Menata Arah Keberagamaan |
|
|---|
| Di Aceh, Siapa yang Melindungi Perempuan? |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian |
|
|---|
| Menghindari JKA Sebagai Sumbu Konflik: Urgensi Cooling Down bagi Elite Aceh |
|
|---|
| Dokter Internsip dalam Jerat Bullying Sistemik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta-_20260327.jpg)