Kamis, 7 Mei 2026

Kupi Beungoh

Trust Issue: Sinyal Darurat Kesehatan Mental atau Sekedar Drama Remaja

Di balik terlihat tenang, banyak remaja menyimpan tekanan berat. Fenomena “duck syndrome” bisa berujung serius jika diabaikan orang tua.

Tayang:
Editor: Amirullah
for serambinews
Anita Sapitri, Amk, S.psi, Perawat jiwa anak dan remaja Rumah Sakit Jiwa Aceh 

Selfharm banyak dilakukan oleh remaja dengan berbagai alasan yang terkadang tidak masuk dalam rasional orang dewasa. Dalam kalangan remaja selfharm ini sering disebut dengan “barkot” yang menanndakan kesamaan nasib dalam sirkle pertemanan.

Banyak dari kita  sejenak merasa kagum dengan tenangnya seekor bebek ayang berenang dipermuakkan air dengan pesona yang membuat kita lupa seberapa kuat bebek mengayuh untuk tidak tenggelam. 

Usaha yang dikerahkan agar terlihat baik-baik saja itu pelan-pelan mengiring remaja pada pikiran dan perasaan yang tidak tenang. Hal ini juga di dukung dengan prilaku abai dari orang tua yang terkadang lupa menyapa perasaan mereka, menamai perasaan yang dirasakan dan memaknai dalam kelekatan sehingga mememnuhi tangki cinta mereka.

Banyak dari remaja berpura-pura baik-baik saja dengan penampilan yang sempurna, produktif, terutama di media sosial atau lingkungan professional. Kepura-puraan ini mereka selimuti perasaan  cemas, lelah, atau kewalahan. Setiap saat mereka merasa khawatir dengan segala hal dan bahkan perasaan  yang kacau mengarah pada pemikiran yang berlebihan.

Baca juga: Jadi Pengedar Sabu, Tiga Perempuan di Aceh Utara Ditangkap Polisi dalam Sebulan Terakhir

Factor Penyebab 

Tekanan akademik dan  karir: sudah sepatutnya untuk masa depan mereka ditentukan oleh merka sendiri dalam hal ini orang tua berperan sebagai fasiliator untuk cita-cita yang ingin mereka capai. 

Permasalahan ini di mulai dari pemilihan jurusan perkuliahan yang mereka minati, pekerjaan yang ingin mereka tekuti sampai pasangan hidup yang ingin mereka pilih untuk masa hadapan. 

Sebagai orang tua yang miliki tanggung jawab mengasuh dan membesarkan gen Z sekaligus gen alpha tentu akan mendapatkan banyak kendala mulai dari komunikasi, pengambilan keputusan. Perdebatan tidak akan bisa dihindari ketika orang tua belum cukup memahami perkembangan mental dan semosional remaja.

Hal yang terkadang sulit diakui oleh banyak orang tua saat ini secara garis besar, ekspektasi sosial dan  keluarga. 

Harapan tinggi dari orang tua atau teman yang menuntut kesempurnaan tanpa celah ini akan terus menghantui remaja untuk melakukan pembuktian.

Prilaku ini akan mengiring mereka pada ketakutan untuk mengambil keputusan, mengatakan tidak untuk hal-hal menyakitkan bagi mereka dan bahkan mereka cendrung membiarkan dirinya dalam rasa bersalah dalam waktu lama. 

Remaja yang mengalami hal ini seringnya tidak bisa membedakan orang yang membutuhkan dia dan orang yang memanfaatkan dirinya dalam kondisi tertentu.  

Remaja yang  sering kali mengalami tekanan internal yang berat meskipun dari luar tampak stabil dalam waktu lama akan merasakan cemas dengan semua pikiran yang berkembang menjadi was-was dan rasa khawatir. 

Seiring gejala ini semakin lama akan membuat remaja menurun performanya dan bahkan akan menjadi tidak percaya diri. Ketika hal ini terjadi maka potensinya akan terkikis oleh rasa tidak percaya akan mampu melalui dengan baik. 

Cemas yang berlebihan ini tidak tertutup kemungkinan memunculkan rasa panik yang muncul tiba-tiba atau sering di sebut dengan “panic attack”. 

Gejala ini akan berpengaruh pada perubahan fisik seperti : nafas menjadi cepat, jantung berdebar-berdebar, hiperventilasi, keringat berlebihan sampai pada kehilangan keseimbangan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved