Jumat, 8 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Potret Koper Jemaah Calon Haji Perempuan Menuju Baitullah

Perjalanan ibadah haji merupakan dimensi perjalanan spiritual yang panjang dan menuntut kesiapan fisik, mental, maupun spiritual secara seimbang

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
Dra. EVI SRI RAHAYU, M.Sos., Ketua PW Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Provinsi Aceh, melaporkan dari Banda Aceh 

Dra. EVI SRI RAHAYU, M.Sos., Ketua PW Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Provinsi Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Perjalanan ibadah haji merupakan dimensi perjalanan spiritual yang panjang dan menuntut kesiapan fisik, mental, maupun spiritual secara seimbang.

Bagi jemaah calon haji perempuan, mempersiapkan segala kebutuhan secara matang sebelum berangkat ke tanah suci, memiliki karakteristik tersendiri dan bersifat khusus.

Berangkat dari fitrahnya sebagai perempuan yang

terbiasa mengelola dan merawat, serta peran ketangguhan domestik yang melekat, persiapan kerap dilakukan dengan kecermatan tinggi. Itu untuk memastikan kenyamanan keluarga yang ditinggal di tanah air, hingga memastikan seluruh rangkaian ibadah di tanah suci (Makkah dan Madinah) nantinya dapat dijalani dengan penuh makna sebagai penghambaan yang utuh kepada Allah Swt.

Kompleksitas ini menempatkan perempuan pada tantangan yang paling khas, sehingga persiapan haji tak cukup dimaknai sebagai pemenuhan syarat dan tata

cara ibadah semata. Akan tetapi, tercermin pula dalam kesiapan praktis yang sangat detail. Dari isi koper yang beragam, perlengkapan ibadah, kebutuhan kesehatan, hingga keperluan personal yang disesuaikan dengan kondisi cuaca dan latar budaya yang menuntut kesiapan adaptif agar dapat menjalankan ibadah dengan nyaman dan khusyuk.

Tidak jarang, kebutuhan meluas ke hal-hal yang tampak unik, sederhana, tetapi bermakna.

Pemahaman tentang literatur haji umumnya membahas mengenai fikih dan hukum-hukum serta ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji. Namun, relatif sedikit yang membedah mengenai antropologi isi koper para jemaah calon haji perempuan Indonesia. Kecermatan yang menunjukkan bahwa setiap benda yang berada di dalamnya menyimpan narasi penting antara fikih, budaya, dan antisipasi terhadap situasi saat berada di Arab Saudi.

Koper yang bukan sekadar berisi pakaian, melainkan representasi “lemari kedua” bahkan “dapur kedua”

yang dikemas apik, ikut serta diboyong ke tanah suci, sebagai antisipasi diri menghadapi ibadah yang panjang.

Ini merupakan cerminan strategi kearifan perempuan Indonesia, tak terkecuali Aceh, yang mempersiapkan segala sesuatunya dengan penuh

ketelitian, kecermatan, dalam mempersiapkan diri agar mampu menopang kelancaran dalam beribadah.

Hal ini justru sangat bertolak belakang dengan perlengkapan dan persiapan yang dilakukan jemaah calon haji pria. Mereka cenderung lebih sederhana, natural, dan fungsional. Jika persiapan jemaah calon haji pria lebih memprioritaskan kebutuhan di tanah suci yang minimalis, maka jemaah calon haji perempuan justru mempersiapkan berbagai skenario kemungkinan selama perjalanan ke Baitullah.

Perbedaan ini bukan cerminan dari sikap yang berlebihan, melainkan ekspresi dari

rasa tanggung jawab dan kewaspadaan yang melekat pada fitrahnya perempuan, yaitu sebagai pengurus dan perawat keluarga.

Secara umum, kebutuhan jemaah haji perempuan Indonesia cenderung lebih beragam dan kompleks, sebagai upaya menciptakan kenyamanan dan menjaga fokus dalam beribadah.

Kesiapan tersebut mengantisipasi berbagai kondisi selama perjalanan, sehingga potensi kendala yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah bisa diminimalkan sejak awal. Adapun ragam kebutuhan seperti pakaian dalam dan luar, yang tentunya dengan berbagai jenis situasi pemakaiannya, baju untuk ihram, baju sehari-hari, daster, dan tentu semua jenis tersebut diusahakann yang menutupi aurat secara sempurna.

Mukena, perlengkapan wajib yang digunakan saat menunaikan shalat, kerudung atau hijab, juga disesuaikan dengan berbagai jenis kegiatan

dalam pelaksanaan ibadah haji.

Sajadah berukuran kecil lebih mudah masuk dalam tas jinjing khusus jemaah, sandal, dan sepatu dengan ukuran yang pas, menjaga kenyamanan

agar tidak mudah terlepas saat berdesakan.

Tas kecil juga dirasa sangat bermanfaat penggunaannya untuk membawa dokumen penting, seperti paspor, visa, nomor kursi penerbangan, identitas diri, uang, obat-obatan, dan kartu kesehatan.

Tidak kalah pentingnya adalah membawa perlengkapan mandi dalam versi ‘travel size’, agar menghemat ruang dan menjaga kepraktisan selama perjalanan. Demikian pula kaus kaki dan manset, meskipun terlihat sederhana dan dianggap sepele, justru menjadi sangat

dibutuhkan dalam menjaga kenyaman aurat saat pelaksanaan ibadah.

Masih ada barang yang penting lainnya, seperti paying. Ini sangat berguna meredam terik matahari,

terutama saat berjalan kaki menuju Masjidilharam, Masjid Nabawi, juga saat berada di Arafah dan Mina untuk melontar jamrah.

Kacamata hitam menjadi perlengkapan yang tidak boleh dilupakan, bukan karena ingin bergaya, melainkan karena paparan matahari yang sangat

intens, angin kering, serta debu, yang sangat tidak nyaman tentunya bagi penglihatan saat

berada di area terbuka. Demikian juga dengan masker, jemaah wajib memakainya saat

berada dalam kepadatan. Ini sangat membantu menguragi risiko penularan penyakit, melindungi saluran pernapasan dari debu, polusi yang dapat memicu iritasi tenggorokan dan batuk.

Selanjutnya, beberapa barang lain yang masih menjadi bagian dari koper jemaah calon haji perempuan Indonesia adalah handuk besar dan kecil. Meskipun hotel menyediakan handuk, masih dirasa lebih nyaman jika membawa handuk pribadi. Selanjutnya, perlengkapan penunjang seperti gunting kuku, gunting kecil, jarum, benang, hanger, hingga tali jemuran.

Jangan lupa pula sabun cuci. Ini solusi praktis untuk memcuci baju secara mandiri, menginggat aktivitas ibadah haji berlangsung hampir 40 hari. Dan, sudah menjadi kodratnya perempuan yang tidak melupakan perawatan pribadi, khususnya tubuh dan wajah. Tabir surya atau krim pelindung wajah dari teriknya matahari, moisturizer, dan

‘hand body lotion’ yang sangat berguna menjaga agar kulit tetap lembap.

Demikian juga dengan vitamin, agar daya tahan tubuh selama menjalani berbagai rangkaian ibadah yang panjang, tetap terjaga, dan berharap seluruh rangkaian ibadah haji, baik wajib maupun sunah dapat dilaksanakan dengan sempurna.

Tidak berhenti pada lemari kedua yang ikut serta berangkat ke tanah suci, tetapi juga ada dapur kedua. Di sela lipatan mukena, baju-baju, hijab, kaus kaki, handuk, terselip bungkusan yang dikemas dengan apik, berisi bawang, cabai, gula, garam, teh, kopi, makanan kering, sambal saus, hingga bumbu rempah yang diracik agar bisa langsung dimakan.

Bawaan ini bukan sekadar memanjakan lidah, melainkan sebagai siasat cerdas untuk menjaga selera makan di tengah perubahan menu, cuaca, serta aktivitas ibadah yang padat.

Pada akhirnya, seluruh persiapan yang dilakukan jemaah calon haji Perempuan merupakan cerminan dari kepedulian dan tanggung jawabnya, tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga kepada pasangan dan jemaah lain yang turut

merasakan manfaat dari segala sesuatu yang telah disiapkan.

Koper dengan perelengkapan yang beragam dan terkesan unik, sejatinya merupakan bentuk manisfestasi dari kesadaran spritual yang hadir dari praktik kehidupan sehari-hari bahwa ibadah yang agung juga ditopang oleh kesiapan yang sederhana.

Ragam detail yang tampak remeh di tanah air, menjadi penentu penting bagi kenyamanan dan kekhusukkan beribadah di tanah suci. Kearifan lokal yang nyata

dalam koper jemaah calon haji perempuan Indonesia, bukan sesuatu yang berlebihan atau mengada-ada, melainkan patut dipahami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ikhtiar ibadah itu sendiri. Sebuah usaha lahiriah yang berjalan

seiring dan saling menguatkan dengan kesungguhan batin dalam menunaikan ibadah sebagai penghambaan kepada Allah Swt.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved