Jurnalisme Warga
Potret Koper Jemaah Calon Haji Perempuan Menuju Baitullah
Perjalanan ibadah haji merupakan dimensi perjalanan spiritual yang panjang dan menuntut kesiapan fisik, mental, maupun spiritual secara seimbang
Dra. EVI SRI RAHAYU, M.Sos., Ketua PW Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Provinsi Aceh, melaporkan dari Banda Aceh
Perjalanan ibadah haji merupakan dimensi perjalanan spiritual yang panjang dan menuntut kesiapan fisik, mental, maupun spiritual secara seimbang.
Bagi jemaah calon haji perempuan, mempersiapkan segala kebutuhan secara matang sebelum berangkat ke tanah suci, memiliki karakteristik tersendiri dan bersifat khusus.
Berangkat dari fitrahnya sebagai perempuan yang
terbiasa mengelola dan merawat, serta peran ketangguhan domestik yang melekat, persiapan kerap dilakukan dengan kecermatan tinggi. Itu untuk memastikan kenyamanan keluarga yang ditinggal di tanah air, hingga memastikan seluruh rangkaian ibadah di tanah suci (Makkah dan Madinah) nantinya dapat dijalani dengan penuh makna sebagai penghambaan yang utuh kepada Allah Swt.
Kompleksitas ini menempatkan perempuan pada tantangan yang paling khas, sehingga persiapan haji tak cukup dimaknai sebagai pemenuhan syarat dan tata
cara ibadah semata. Akan tetapi, tercermin pula dalam kesiapan praktis yang sangat detail. Dari isi koper yang beragam, perlengkapan ibadah, kebutuhan kesehatan, hingga keperluan personal yang disesuaikan dengan kondisi cuaca dan latar budaya yang menuntut kesiapan adaptif agar dapat menjalankan ibadah dengan nyaman dan khusyuk.
Tidak jarang, kebutuhan meluas ke hal-hal yang tampak unik, sederhana, tetapi bermakna.
Pemahaman tentang literatur haji umumnya membahas mengenai fikih dan hukum-hukum serta ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji. Namun, relatif sedikit yang membedah mengenai antropologi isi koper para jemaah calon haji perempuan Indonesia. Kecermatan yang menunjukkan bahwa setiap benda yang berada di dalamnya menyimpan narasi penting antara fikih, budaya, dan antisipasi terhadap situasi saat berada di Arab Saudi.
Koper yang bukan sekadar berisi pakaian, melainkan representasi “lemari kedua” bahkan “dapur kedua”
yang dikemas apik, ikut serta diboyong ke tanah suci, sebagai antisipasi diri menghadapi ibadah yang panjang.
Ini merupakan cerminan strategi kearifan perempuan Indonesia, tak terkecuali Aceh, yang mempersiapkan segala sesuatunya dengan penuh
ketelitian, kecermatan, dalam mempersiapkan diri agar mampu menopang kelancaran dalam beribadah.
Hal ini justru sangat bertolak belakang dengan perlengkapan dan persiapan yang dilakukan jemaah calon haji pria. Mereka cenderung lebih sederhana, natural, dan fungsional. Jika persiapan jemaah calon haji pria lebih memprioritaskan kebutuhan di tanah suci yang minimalis, maka jemaah calon haji perempuan justru mempersiapkan berbagai skenario kemungkinan selama perjalanan ke Baitullah.
Perbedaan ini bukan cerminan dari sikap yang berlebihan, melainkan ekspresi dari
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/EVI-SRI-RAHAYU.jpg)