Sabtu, 9 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Sekolah Rakyat, Pendidikan Siapa?

Anak-anak miskin kurang beruntung karena sekolah mereka rusak, jauh, atau penuh sesak.

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Moritza Thaher, musisi Aceh yang juga pendiri Sekolah Musik Moritza 

Pendidikan berbasis progres fisik adalah pendidikan yang paling mudah dilaporkan dan paling sulit dievaluasi dampaknya. 

Ia menghasilkan angka yang meyakinkan dalam waktu singkat, dan baru ketahuan tidak cukup setelah satu dekade.

Yang Dibutuhkan Anak-Anak Aceh

Aceh memberi konteks yang lebih spesifik untuk pertanyaan ini. 

Dayah jauh melampaui fungsi pengajian — ia adalah ruang pembentukan karakter yang bekerja melalui jaringan sosial yang sudah berurat. 

Pengajaran informal yang tumbuh di sekitarnya memperpanjang rantai transmisi itu jauh ke dalam komunitas. 

Baca juga: Aceh Darussalam Aman: Dompet Hilang, Dikembalikan Utuh

Justru karena Aceh punya pengalaman panjang dengan pendidikan yang bekerja melalui relasi dan kedalaman, pertanyaan tentang ekosistem menjadi lebih mendesak di sini.

Anak-anak miskin yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa serta sejarah mereka. 

Kemiskinan itu melekat pada cara mereka berbicara di depan guru, cara mereka memahami kata "masa depan", cara mereka merespons kegagalan. 

Mendampingi mereka bukan tugas bangunan — melainkan tugas guru yang terlatih, sistem pengasuhan yang terpadu, dan kebijakan kepegawaian yang menjamin guru itu betah dan mampu.

Baca juga: Polda Aceh Ingatkan Mahasiswa Waspadai Penyusup saat Aksi Unjuk Rasa

Pertanyaan yang jarang diajukan setelah proyek seperti ini diresmikan: siapa guru-guru yang akan mengisi 36 rombongan belajar itu? 

Dari mana mereka datang, bagaimana mereka diseleksi, apa yang mengikat mereka untuk bertahan, dan program apa yang menjamin bahwa dua tahun setelah peresmian kualitas pengajaran masih di tempat yang sama dengan hari pita dipotong? 

Baca juga: Bupati TRK Harapkan Presiden Resmikan Sekolah Rakyat di Nagan, Target Rampung Juli 2026

Pengalaman Tahap I memberi preseden: belum genap dua pekan berjalan, sekitar 160 guru Sekolah Rakyat di berbagai wilayah Indonesia mengundurkan diri — sebagian besar karena penempatan yang jauh dari domisili dan ketidakpastian status kontrak.

Kualitas pengajaran ditentukan oleh siapa yang berdiri di depan kelas — dan itu pertanyaan yang belum terjawab dalam laporan progres mana pun.

Baca juga: Hantavirus Tewaskan 11 Orang di Argentina, Diduga Menyebar dari Pesta Ulang Tahun

Kemiskinan ekstrem yang mewarisi diri sendiri membutuhkan rantai transmisi yang panjang, sabar, dan manusiawi.

Bangunan yang selesai sebelum ekosistemnya siap bukan kegagalan niat — ia adalah bukti bahwa kita lebih mahir membangun sekolah daripada membangun pendidikan.(*)

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved