Opini
Bahasa Inggris Milik Siapa?
Mulai dari Ujian Nasional, TOEFL, hingga IELTS, semuanya dijadikan tolak ukur kemampuan.
Prof Dr Yunisrina Qismullah Yusuf, Dosen bidang ilmu fonologi/linguistik pada Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USK
DI Indonesia, pembelajaran bahasa Inggris masih sering dipahami sebatas kebutuhan ujian. Mulai dari Ujian Nasional, TOEFL, hingga IELTS, semuanya dijadikan tolak ukur kemampuan. Tentu, nilai tinggi dari ujian-ujian ini membuka peluang besar: beasiswa, pekerjaan, dan studi lanjut di luar negeri. Namun, apabila pembelajaran bahasa Inggris hanya dipersempit pada strategi menjawab soal, maka bahasa ini menjadi sekadar “alat untuk lulus tes”. Padahal, secara hakikat, bahasa adalah sarana untuk mengekspresikan diri, membangun identitas, serta menegaskan jati diri budaya.Dimensi identitas inilah yang menjadikan bahasa Inggris tidak lagi seragam.
Ia berkembang ke dalam beragam bentuk sesuai budaya, aksen, dan kebutuhan sosial penggunanya. Fenomena ini dikenal sebagai World Englishes; kenyataan bahwa bahasa Inggris telah bertransformasi menjadi bahasa global yang kaya keragaman. Ia dipakai dalam pendidikan, bisnis, teknologi, hingga diplomasi internasional. Namun, di balik peran dominannya, pertanyaan mendasar tetap muncul. Sebenarnya, milik siapakah bahasa Inggris ini?
World englishes
Pakar bahasa Braj B. Kachru (1980-an) mengemukakan konsep tiga lingkaran bahasa Inggris. Inner Circle adalah negara penutur asli atau native speakers seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru, dengan jumlah sekitar 320-380 juta orang (31 persen). Outer Circle meliputi negara-negara bekas jajahan Inggris. Misalnya Malaysia, India, Singapura, Nigeria, Filipina, dan Pakistan, dengan 150-300 juta penutur (20 % ).
Sementara itu, Expanding Circle mencakup negara-negara yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa asing, seperti Indonesia, Jepang, Cina, Mesir, dan Korea, dengan jumlah penutur 100 juta hingga 1 miliar orang (49 % ). Ini menunjukkan bahwa mayoritas pengguna bahasa Inggris saat ini justru berasal dari kalangan nonnatives. Jumlah mereka bahkan melampaui penutur asli. Dengan demikian, bahasa Inggris kini lebih tepat dipahami sebagai bahasa milik dunia, bukan lagi hak eksklusif negara-negara Barat.
Bahasa dan identitas
Mengapa banyak orang masih kesulitan mencapai “English yang sempurna”? Karena bahasa tidak pernah netral. Ia erat kaitannya dengan identitas. Aksen, dialek, dan pilihan kata bukan sekadar soal teknis, tetapi juga cerminan budaya, latar sosial, bahkan cara pandang kita.Variasi bahasa Inggris di seluruh dunia membuktikan hal ini. Dari segi tata bahasa, orang Amerika cenderung menggunakan different than, sementara di Inggris dan Australia lebih umum different to. Dalam bahasa Black English, ungkapan one of them days dapat diterima, sedangkan dalam bahasa American English seharusnya digunakan bentuk one of those days. Di Malaysia, struktur seperti I shower already kerap menggantikan I have showered.
Dari sisi kosakata, dalam bahasa Inggris Afrika Selatan, cookie bisa berarti cupcake, dan café dapat merujuk pada convenient store. Orang Amerika menyebut movies, sementara orang Inggris mengatakan cinema. Di Filipina, istilah comfort room (CR) (terjemahan langsung dari Tagalog) digunakan untuk menyebut toilet, dan ungkapan open/close the light lazim dipakai alih-alih turn on/off the light.
Pada aspek fonologi, dalam bahasa Inggris Malaysia kata web sering dilafalkan [wɛp], eyes terdengar [aɪs], dan motorcycle menjadi [motɚsaɪkʊ]. Di Indonesia, kita sering mendengar ungkapan have a sit (alih-alih have a seat), atau kecenderungan membaca semua suku kata, misalnya Wednesday dibaca Wed-nes-day dan Simon dibaca Sa-imon.
Dalam komunikasi lisan, variasi ini umumnya tidak menghalangi pemahaman. Perbedaan lebih terasa dalam tulisan, seperti pada ejaan color (Amerika) dan colour (Britania), atau analyze dan analyse. Semua ini membuktikan bahwa bahasa Inggris, seperti semua bahasa di dunia ini, bukanlah bahasa yang kaku, melainkan adaptif dan dinamis, selalu menyesuaikan diri dengan penggunanya. Karena itu, solusi terbaik adalah menerima keragaman ini sebagai kenyataan alami bahasa, sambil tetap menjaga konsistensi sesuai konteks komunikasi.
Bahasa Inggris versi kita
Apabila suatu bahasa berani mengklaim dirinya sebagai bahasa dunia, seperti bahasa Inggris, maka bahasa tersebut harus siap menerima berbagai perubahan di dalamnya. Hal ini tidak terelakkan, karena para penutur dunia berasal dari latar belakang yang beragam. Baik dari segi kepercayaan, agama, bahasa dan budaya. Oleh karena itu, bahasa dunia tidak bisa menutup diri dari transformasi. Ia justru akan terus menyesuaikan diri dengan asal-usul dan jati diri penuturnya. Pada akhirnya, setiap orang akan mempresentasikan identitasnya melalui bahasa yang ia gunakan, dan di situlah letak kekayaan sekaligus kekuatan sebuah bahasa global.
Sayangnya, masih ada sikap keliru dalam menyikapi keragaman. Ketika orang asing berbicara bahasa Indonesia atau bahasa Aceh dengan logat mereka, kita biasanya memberi apresiasi. Namun, saat sesama kita berbicara bahasa Inggris dengan logat Indonesia atau Aceh, tidak jarang justru diejek. Padahal, logat adalah bagian dari identitas, bukan kelemahan. Melalui logat, kita membawa jati diri ke dalam percakapan global. Dalam kerangka World Englishes, tidak ada logat yang lebih “unggul” dibandingkan yang lain.
Yang utama adalah pesan tersampaikan dan komunikasi berjalan. Secara akademik, orang Aceh justru perlu menumbuhkan kebanggaan ketika berbicara bahasa Inggris dengan logat Aceh. Fenomena fonologis seperti ini tidak dapat dihindari karena bahasa selalu dipengaruhi oleh sistem bunyi bahasa ibu penuturnya. Oleh karena itu, jangan sampai rasa malu terhadap accent sendiri membuat kita enggan belajar bahasa Inggris. Sebaliknya, logat Aceh adalah penanda identitas linguistik sekaligus kontribusi khas dalam keragaman English di panggung dunia.
Lebih dari itu, kita perlu menyadari bahwa bahasa kita sendiri sama prestisiusnya dengan bahasa lain manapun di dunia. Secara ilmu mikrolinguistik, tidak ada bahasa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua bahasa memiliki nilai dan fungsi yang sama bagi komunitas penuturnya. Bahkan, riset menunjukkan bahwa seseorang yang menguasai lebih dari satu bahasa (bilingual atau multilingual) memiliki keunggulan kognitif dibandingkan mereka yang monolingual. Bilingual di sini tidak harus berarti mampu berbahasa Inggris selain bahasa nasional atau bahasa ibu mereka; menguasai bahasa Aceh, bahasa Jamee, bahasa Devayan, bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa manapun di dunia ini saja sudah memperkaya kemampuan berpikir kita.
Bagi Aceh, bahasa Inggris jelas membuka peluang besar: akses ke ilmu pengetahuan, jejaring global, hingga ekonomi internasional. Mahasiswa bisa menulis tesis, publikasi, atau presentasi dengan lebih percaya diri. Namun, dominasi bahasa Inggris tidak boleh membuat kita mengabaikan bahasa Indonesia dan bahasa Aceh. Multilingualisme adalah kunci: menguasai bahasa global tanpa mencabut akar budaya sendiri.
Belajar bahasa Inggris untuk keperluan ujian seperti TOEFL atau IELTS memang penting, karena kerap menjadi syarat akademik maupun profesional. Tetapi pembelajaran bahasa tidak boleh berhenti pada nilai dan sertifikat. Esensi belajar bahasa Inggris adalah bagaimana kita dapat mengekspresikan diri, menjaga identitas, serta ikut berperan dalam percakapan global.
Di samping itu, penguasaan bahasa asing juga memberi kita kesempatan untuk menjelaskan dan memberikan nilai pada kekayaan budaya sendiri sehingga dikenal dan diapresiasi oleh dunia. World Englishes mengingatkan kita bahwa bahasa Inggris adalah milik semua, bersifat dinamis, adaptif, dan beragam. Maka, hendaknya kita belajar bahasa Inggris bukan hanya untuk meraih nilai ujian, tetapi juga untuk menghargai keberagaman, meneguhkan jati diri, dan membawa Aceh ke panggung dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/yunisrina_yusuf-oke.jpg)