Jurnalisme Warga
Sisi Lain dari Gelar “Haji”
Sebuah perjalanan spiritual yang termasuk dalam rukun Islam kelima dan telah secara turun-temurun menuturkan rihlahnya masing-masing
Banyak dari mereka yang merasa bahwa pengalaman spiritual di Makkah menjadi penanda dari awal sebuah fase baru dalam kehidupan mereka. Secara umum, mereka menggunakan nama baru yang dianggap lebih Islami sebagai tanda dari fase baru tersebut.
Contoh paling terkenal dari fenomena penggantian nama ini adalah Kiai Ahmad Dahlan, yang sebelumnya bernama Muhammad Darwis. Setelah menunaikan ibadah haji dan belajar di Makkah, beliau mengganti namanya sebagai simbol transformasi intelektual dan religius.
Hal serupa juga dilakukan Kiai Hasyim Asy’ari yang sebelumnya bernama Muhammad Hasyim, untuk memperkuat identitas keislamannya setelah belajar di Hijaz.
Fenomena tersebut menjadi semakin jelas dalam bukunya Deliar Noer “The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900–1942” tahun 1973 bahwa adopsi nama Arab sering kali ada keterkaitannya dengan upaya membangun legitimasi keagamaan dan otoritas intelektual di tengah masyarakat muslim di Nusantara.
Fenomena tersebut oleh Azyumardi Azra dalam “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII” yang terbit tahun 2004 menekankan, hubungan intelektual antara Nusantara dan Timur Tengah telah lama mendorong proses “Arabisasi simbolik”. Termasuk di dalamnya penggunaan nama, gelar, dan tradisi keagamaan. Dengan begitu, perubahan nama setelah menunaikan ibadah haji tidak sebatas mencerminkan pengalaman yang individual, tetapi juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jaringan global Islam.
Namun, saat kita membaca ulang pelbagai arsip kolonial yang terkait dengan data para jemaah haji masa itu, pemerintah kolonial cenderung melihat bahwa perubahan identitas—penggunaan gelar dan penggantian nama—yang dilakukan oleh jemaah patut juga diwaspadai. Dengan kata lain, baik gelar haji maupun nama Arab yang disandang secara bersama berperan dalam sistem kontrol kolonial terhadap mereka selesai melaksanakan ibadah haji.
Meskipun Indonesia telah merdeka, gelar haji tetap dimaknai sebagai simbol prestise dalam lingkup religius. Bagi sebagian masyarakat, seseorang yang telah menunaikan haji dianggap memiliki tingkat kesalehan yang lebih tinggi. Lebih lanjut jika kita mendalami fenomena ini dalam sebuah kajian sosiologis, Clifford Geertz dalam bukunya “The Religion of Java” yang terbit tahun 1960, dijelaskan bahwa simbol-simbol keagamaan di Jawa—termasuk gelar haji—sering kali berfungsi sebagai penanda stratifikasi sosial di tengah masyarakat.
Sebagai penutup, sejarah penggunaan gelar haji atau hajah dan praktik perubahan nama bercorak Arab di Indonesia memperlihatkan transformasi yang kompleks: dari alat pengawasan kolonial menjadi simbol kehormatan religius dan sosial.
Bentuk identitas keagamaan ini menunjukkan kepada kita hubungan kausalitas antara pengalaman spiritual, jaringan global Islam, dan kekuasaan politik yang saling terkait dan bertransformasi menjadi sebuah praktik budaya yang bertahan hingga kini.
Jurnalisme Warga
penulis jurnalisme warga
Sisi Lain dari Gelar Haji
MELINDA RAHMAWATI
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Ikhtiar Bersama Mewujudkan Pendidikan Bermutu di Bireuen |
|
|---|
| Potret Koper Jemaah Calon Haji Perempuan Menuju Baitullah |
|
|---|
| Hikayat Hasan Husein, Genderang Perang Rakyat Barsela Saat Melawan Belanda |
|
|---|
| Tujuh Tahun Uniki, Bergerak Mengejar Prestasi |
|
|---|
| Menyemai Ide Pendidikan Sehat, Berkelanjutan, dan Berakar pada Sejarah Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Melinda-Rahmawati-7678.jpg)