Pojok Humam Hamid
Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional
Mereka membandingkan situasi saat ini dengan akhir era Soeharto menjelang krisis Asia 1997–1998.
Lapisan kedua adalah arsitektur kekuasaan politik.
Dalam analisis mereka, salah satu perubahan paling signifikan dalam politik Indonesia kontemporer adalah terbentuknya koalisi yang sangat luas, hampir mencakup seluruh kekuatan politik utama.
Secara permukaan, kondisi ini menciptakan stabilitas politik yang tinggi. Tidak ada oposisi yang kuat, tidak ada fragmentasi parlemen yang ekstrem, dan tidak ada ketidakpastian legislatif yang besar.
Namun stabilitas ini justru memunculkan pertanyaan lain yang lebih mendasar: apa arti demokrasi ketika kompetisi politik melemah?
Dalam tradisi pemikiran demokrasi liberal, oposisi bukan sekadar elemen tambahan, tetapi mekanisme kontrol yang esensial.
Tanpa oposisi yang efektif, sistem politik berisiko bergeser dari kompetisi ide menjadi konsolidasi kekuasaan.
Baca juga: Wabup Aceh Timur Resmikan Masjid Baitul Jabbar di Gampong Bale Buya
Dalam konteks ini, The Economist juga menyoroti meningkatnya peran militer dalam jabatan sipil. Ini bukan sekadar isu institusional, tetapi isu historis yang sangat sensitif di Indonesia.
Setelah reformasi 1998, salah satu pencapaian utama adalah pemisahan relatif antara militer dan politik sipil.
Ketika batas ini mulai tampak lebih kabur, pertanyaannya bukan hanya tentang efisiensi pemerintahan, tetapi tentang arah jangka panjang hubungan sipil-militer dalam negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara.
Lapisan ketiga adalah dinamika pasar dan persepsi investor global. Di sini, The Economist bergerak dari politik ke psikologi ekonomi.
Investor tidak selalu bereaksi terhadap data yang sudah ada, tetapi terhadap ekspektasi masa depan. Karena itu, perubahan kecil dalam kebijakan fiskal, struktur subsidi, atau regulasi dapat memiliki dampak besar terhadap persepsi risiko.
Baca juga: Purna Tugas di Papua, Pangkoops TNI Habema Lepas Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 113/JS di Timika
Dalam laporan tersebut, tekanan pada nilai tukar rupiah, kekhawatiran terhadap pembiayaan utang, dan ketidakpastian regulasi dianggap sebagai sinyal awal dari perubahan persepsi tersebut.
Dalam pasar negara berkembang, persepsi sering kali menjadi faktor yang menentukan aliran modal.
Ketika persepsi risiko meningkat, biaya pinjaman naik, investasi melambat, dan ruang fiskal semakin menyempit.
Dengan kata lain, ekonomi tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan yang dijalankan, tetapi juga oleh bagaimana kebijakan itu dibaca oleh dunia luar.
Humam Hamid
pojok humam hamid
Prof Humam Hamid
Ahmad Humam Hamid
Prabowo
Presiden Prabowo
media internasional
ekonomi
Ekonomi Indonesia
| JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”? |
|
|---|
| Tenaga Kerja Aceh: Dominasi Sektor Informal, TPT, dan Indikator Tak Sehat Lainnya |
|
|---|
| Siapa Mengendalikan Pertumbuhan Banda Aceh-Aceh Besar? |
|
|---|
| Perang Iran, Pupuk, dan Piring Nasi Kita |
|
|---|
| Purbaya, “Indonesia Survival Mode”: Diagnosis, Peringatan, dan Reportoar Kehati-hatian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Humam-Hamid-komentar-soal-iran.jpg)