Senin, 18 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional

Mereka membandingkan situasi saat ini dengan akhir era Soeharto menjelang krisis Asia 1997–1998.

Tayang:
Editor: Subur Dani
Serambinews.com/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Lapisan keempat adalah dimensi historis, yang mungkin paling penting dalam seluruh argumen The Economist.

Mereka membandingkan situasi saat ini dengan akhir era Soeharto menjelang krisis Asia 1997–1998.

Pada masa itu, Indonesia juga menunjukkan kombinasi yang tampak paradoksal: pertumbuhan tinggi, stabilitas politik, dan arus investasi besar.

Kelemahan Struktural

Namun di balik itu terdapat kelemahan struktural berupa konsentrasi kekuasaan, ketergantungan pada utang, dan lemahnya mekanisme koreksi institusional.

Ketika krisis global datang, struktur tersebut runtuh dengan cepat.

Baca juga: VIDEO - Wali Nanggroe Akan Temui Presiden Prabowo, Dorong Penyelesaian RS Regional Meulaboh

Perbandingan ini tidak dimaksudkan sebagai prediksi bahwa sejarah akan berulang secara identik, tetapi sebagai peringatan bahwa ketidakseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kekuatan institusi dapat menciptakan kerentanan sistemik.

Dalam kerangka ini, The Economist menyimpulkan bahwa Indonesia menghadapi risiko klasik: pertumbuhan yang kuat tidak otomatis berarti stabilitas jangka panjang jika institusi tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.

Namun, untuk memahami posisi Indonesia secara utuh, pandangan ini perlu ditempatkan berdampingan dengan perspektif media internasional lain yang memberikan nuansa berbeda.

Reuters, misalnya, membaca Indonesia dengan pendekatan yang jauh lebih empiris. Fokus mereka adalah data: pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas 5 persen, konsumsi domestik yang kuat, serta posisi Indonesia sebagai salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Dalam perspektif ini, Indonesia tetap merupakan kisah pertumbuhan yang relatif stabil di tengah ketidakpastian global.

Baca juga: Siswa SMKN 1 Gandapura Jualan Susu Kambing di CFD Banda Aceh

Namun Reuters juga tidak mengabaikan risiko, terutama tekanan pada rupiah, defisit fiskal, dan ketidakpastian regulasi yang dapat memengaruhi kepercayaan investor.

Bloomberg bergerak lebih dekat ke dunia pasar keuangan global. Dalam pandangan mereka, Indonesia adalah salah satu arena paling penting dalam transformasi industri global, terutama melalui kebijakan hilirisasi dan pengembangan sektor nikel.

Dalam konteks transisi energi global, Indonesia dipandang memiliki posisi strategis dalam rantai pasok kendaraan listrik.

Namun Bloomberg juga mengingatkan bahwa ekspansi peran negara dalam ekonomi dapat menciptakan ketegangan baru jika tidak diimbangi dengan transparansi dan disiplin kebijakan yang konsisten.

Sementara itu, Nikkei Asia cenderung memberikan nada yang lebih optimistis. Media Jepang ini melihat Indonesia sebagai kandidat utama pusat manufaktur baru di Asia.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved