Kupi Beungoh
Nasehat Imam Al-Ghazali dan Cermin Kepemimpinan di Aceh
Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar urusan dunia, tetapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
*) Oleh : Tgk. Muhsin, S.Pd.I., MA.
KEKUASAAN dan jabatan adalah amanat besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Seorang pemimpin dituntut untuk menegakkan keadilan dan menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat sesuai tuntunan syariat.
Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar urusan dunia, tetapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya, “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin,” (HR. Bukhari).
Dalam Islam, ulama berperan sebagai penuntun moral bagi penguasa. Mereka memberi nasihat agar kekuasaan tidak menyimpang dari nilai-nilai agama. Nasihat ulama ibarat cahaya yang menjaga seorang pemimpin agar keputusannya tidak hanya dilandasi kepentingan politik, melainkan berpijak pada kebenaran dan kebijaksanaan.
Salah satu ulama besar yang banyak menasihati para penguasa adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H). Nasihat beliau kepada para pemimpin terangkum dalam kitab At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk (Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988).
Dalam karya ini, Al-Ghazali menekankan bahwa kepemimpinan adalah nikmat sekaligus ujian besar yang harus dijalankan dengan adil dan sesuai syariat.
Berikut 10 nasihat Imam Al-Ghazali bagi para pejabat agar dapat menunaikan amanat kepemimpinan dengan sebaik-baiknya:
1. Adil dalam memimpin
Kekuasaan adalah nikmat sekaligus amanat dari Allah SWT. Pemimpin yang menunaikannya dengan adil akan memperoleh kebahagiaan abadi, sedangkan yang mengkhianatinya akan terjerumus dalam kesengsaraan, bahkan bisa mengarah pada kekufuran.
2. Mendengarkan nasihat ulama yang saleh
Seorang pejabat harus senantiasa membuka telinga terhadap nasihat ulama yang lurus dan tidak cinta dunia. Ulama yang benar berfungsi sebagai penasihat yang tulus, bukan sebagai “ulama su’” yang hanya mendekati kekuasaan demi keuntungan pribadi.
3. Memilih dan mengawasi jajaran
Kebijakan pejabat akan tercermin dalam kinerja bawahannya. Oleh karena itu, ia harus selektif dalam memilih serta tegas dalam mengawasi aparatnya, sebab kelalaian mereka tetap menjadi tanggung jawab pemimpin.
4. Menjauhi kesombongan dan kesewenang-wenangan
Jabatan bukan untuk disombongkan, apalagi dijadikan alat menindas rakyat. Seorang pejabat wajib rendah hati, menyadari bahwa kedudukannya adalah amanat rakyat, bukan hak istimewa pribadi.
5. Memosisikan diri sebagai wakil rakyat
Pemimpin yang baik adalah perpanjangan tangan rakyat. Jika ia benar-benar menempatkan dirinya sebagai bagian dari rakyat, ia tidak akan rela rakyatnya menderita, sebagaimana ia tidak rela dirinya sendiri mendapat penderitaan.
6. Merespons kebutuhan rakyat dengan baik
Kebutuhan rakyat harus menjadi prioritas utama, bahkan lebih utama dari ibadah sunnah. Mengabaikan rakyat demi urusan pribadi atau perkara kecil adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat.
7. Tidak pamer kekayaan
Pemimpin hendaknya hidup sederhana dan tidak memamerkan kemewahan. Menurut Al-Ghazali, keadilan tidak akan lahir tanpa kesederhanaan. Pakaian mewah dan makanan mahal tidak boleh menjadi kesibukan seorang pejabat.
8. Menanggapi kritik dengan kelembutan
Kritik rakyat adalah bagian dari pengawasan. Pemimpin harus menanggapinya dengan bijak, penuh kelembutan, bukan dengan kekerasan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa pemimpin yang tidak lembut terhadap rakyatnya, kelak Allah pun tidak akan lembut kepadanya pada hari kiamat.
9. Melakukan perbaikan sesuai syariat
Kritik harus ditindaklanjuti dengan perbaikan nyata. Setiap pembaruan kebijakan dan tindakan pejabat wajib berlandaskan syariat serta diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat.
10. Tidak menyelisihi syariat dalam kebijakan
Seorang pejabat tidak boleh membuat keputusan yang bertentangan dengan syariat, meski hal itu sesuai dengan kehendak sebagian rakyat. Segala yang menyelisihi syariat pasti batil dan akan menjerumuskan kepemimpinan pada kebinasaan.
Maka Nasihat ulama kepada pemimpin adalah bentuk kasih sayang sekaligus tanggung jawab moral terhadap umat. Pemimpin yang mau mendengar akan lebih mudah menjaga integritas, menegakkan keadilan, dan mengutamakan kepentingan rakyat.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya urusan politik dan kekuasaan, melainkan jalan menuju keberkahan serta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Aceh adalah negeri yang memiliki sejarah panjang tentang perjuangan, ilmu, dan kemuliaan agama. Tanah ini pernah melahirkan ulama-ulama besar, menjadi pusat peradaban Islam di Asia Tenggara, serta dikenal sebagai daerah yang kuat memegang nilai syariat dan adat.
Karena itu, kepemimpinan di Aceh sejatinya bukan hanya soal kekuasaan, jabatan, atau kemampuan mengatur pemerintahan, melainkan tentang amanah, akhlak, dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT.
Dalam banyak karya beliau, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa pemimpin bukan sekadar orang yang berkuasa, tetapi orang yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya. Kekuasaan menurut beliau adalah ujian yang sangat berat.
Jabatan dapat menjadi jalan menuju kemuliaan apabila digunakan untuk menegakkan keadilan, namun dapat pula menjadi sebab kehancuran apabila dipenuhi kerakusan dan cinta dunia.
Hari ini, nasehat-nasehat Imam Al-Ghazali terasa sangat dekat dengan keadaan masyarakat, termasuk di Aceh. Banyak orang berbicara tentang perubahan, pembangunan, dan kesejahteraan, tetapi terkadang lupa bahwa pondasi utama sebuah negeri adalah kejujuran dan moral para pemimpinnya.
Negeri tidak hanya rusak karena kurangnya kekayaan, tetapi karena hilangnya rasa malu, matinya amanah, dan pudarnya rasa takut kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)
Ayat ini bukan hanya ditujukan kepada rakyat biasa, tetapi terutama kepada mereka yang memegang kekuasaan. Sebab semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula amanah yang dipikulnya.
Aceh sejak dahulu dikenal dengan ungkapan: “Adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala.”
Ungkapan ini mengandung makna mendalam bahwa pemerintahan dan agama tidak boleh dipisahkan. Kekuasaan harus berjalan seiring dengan tuntunan ulama dan nilai-nilai syariat. Ketika pemimpin kehilangan arah spiritual, maka keputusan-keputusan yang lahir sering kali hanya dipenuhi kepentingan sesaat.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa salah satu tanda rusaknya hati manusia adalah ketika jabatan dijadikan alat untuk membanggakan diri dan memperkaya kelompok tertentu. Pemimpin yang baik bukan yang paling banyak dipuji, tetapi yang paling takut menzalimi rakyatnya.
Hari ini masyarakat sering menyaksikan bagaimana kebenaran terkadang kalah oleh kepentingan. Orang yang jujur dianggap ancaman, sementara mereka yang pandai memainkan keadaan justru dipertahankan. Fenomena seperti ini perlahan merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin. Padahal kepercayaan rakyat adalah pondasi utama sebuah pemerintahan.
Aceh memiliki kekayaan alam yang melimpah, budaya yang kuat, dan sejarah perjuangan yang besar. Namun semua itu tidak akan membawa keberkahan apabila amanah dijalankan tanpa keikhlasan. Sebab keberkahan sebuah negeri bukan hanya diukur dari megahnya bangunan atau besarnya anggaran, tetapi dari keadilan yang dirasakan rakyat kecil.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa pemimpin yang zalim akan melahirkan masyarakat yang penuh ketakutan, sedangkan pemimpin yang adil akan melahirkan ketenteraman.
Dalam banyak keadaan, rakyat sebenarnya tidak menuntut kemewahan berlebihan. Mereka hanya ingin diperlakukan dengan jujur, didengar keluhannya, dan tidak dijadikan korban kepentingan.
Rasulullah SAW bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan kemuliaan yang bebas dinikmati, melainkan amanah yang akan dihisab di akhirat. Karena itu, pemimpin yang baik adalah mereka yang lebih takut kepada doa orang yang dizalimi daripada takut kehilangan popularitas.
Aceh membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi teladan, bukan sekadar penguasa.
Pemimpin yang hadir di tengah rakyat, bukan hanya muncul ketika membutuhkan dukungan. Pemimpin yang berani membela kebenaran walaupun pahit, bukan yang sibuk menjaga citra sambil mengorbankan keadilan.
Dalam kehidupan hari ini, masyarakat juga harus menyadari bahwa perubahan tidak hanya dibebankan kepada pemimpin. Rakyat pun memiliki tanggung jawab menjaga nilai kejujuran dan tidak membiasakan budaya pujian berlebihan kepada kekuasaan.
Sebab ketika masyarakat mulai takut berkata benar, maka kerusakan akan tumbuh perlahan tanpa disadari.
Allah SWT berfirman: وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 140)
Ayat ini mengingatkan bahwa kekuasaan tidak akan selamanya berada di tangan seseorang. Jabatan akan berakhir, pujian akan hilang, dan yang tersisa hanyalah amal serta tanggung jawab di hadapan Allah.
Maka nasehat Imam Al-Ghazali sejatinya bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan oleh siapa saja yang memegang amanah di Aceh hari ini. Sebab sebuah negeri tidak akan runtuh karena sedikitnya orang pintar, tetapi karena hilangnya kejujuran, matinya hati nurani, dan pemimpin yang lupa bahwa kekuasaan hanyalah titipan sementara.
Aceh membutuhkan cahaya keteladanan, bukan sekadar janji. Membutuhkan pemimpin yang membangun hati rakyat, bukan hanya membangun pencitraan. Karena sejatinya, negeri yang diberkahi bukan negeri yang paling kaya, tetapi negeri yang masih memiliki rasa takut kepada Allah dan rasa malu untuk berbuat zalim.
Aceh membutuhkan lebih banyak manusia yang lembut hatinya daripada keras lisannya. Lebih banyak orang yang takut kepada Allah daripada takut kehilangan jabatan. Karena negeri tidak akan hancur oleh sedikitnya orang pintar, tetapi oleh hilangnya kejujuran dan rasa malu.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa cinta dunia adalah pangkal banyak kerusakan. Ketika dunia dijadikan tujuan utama, maka manusia mudah mengorbankan kebenaran demi keuntungan sesaat. Inilah penyakit hati yang perlahan merusak masyarakat.
Maka sudah saatnya Aceh kembali menjadikan ilmu, adab, dan akhlak sebagai pondasi utama kehidupan. Sebab kejayaan Aceh dahulu lahir bukan hanya dari kekuatan politik, tetapi dari keberkahan doa ulama dan masyarakat yang menjaga
“Aceh tidak kekurangan orang hebat, tetapi terkadang kekurangan hati yang benar-benar ikhlas untuk negeri. Nasehat ulama bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk menjadi cermin memperbaiki diri.”
#Jangan tuli terhadap kritik. Jangan dekat hanya dengan yang memuji. Jangan gadaikan kepentingan rakyat demi kelompok. Ingat bahwa sejarah mencatat lebih lama daripada masa jabatan.
*) Penulis adalah Dosen Ma'had Aly Darussalam Labuhan haji Aceh Selatan.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Hipertensi Dulu Penyakit Orang Tua, Kini Darurat pada Anak Muda |
|
|---|
| Uang Tidur di Tanah Otsus: Paradoks Aceh Saat Anggaran Mengendap tapi Sibuk Melobi Dana Tambahan |
|
|---|
| JKA: Kepentingan Rakyat atau Kepentingan Elite? |
|
|---|
| Dam Haji: Mau Potong di Makkah atau Mudik ke Indonesia? |
|
|---|
| Aceh sebagai Episentrum Baru Pengetahuan Humaniora |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pengurus-DPP-Ikatan-Sarjana-Alumni-Dayah-ISAD-Aceh-Tgk-Muhsin-MA.jpg)