Jurnalisme Warga
Tantangan di “Selat Hormuz”, Antara Harapan dan Kekhawatiran
Di tengah hiruk pikuk arus lalu lintas antara Medan dan Banda Aceh, terdapat sebuah jembatan yang menjadi saksi bisu denyut kehidupan
TISYARIFAH, Guru SMA Negeri 1 Juli, Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen
Di tengah hiruk pikuk arus lalu lintas antara Medan dan Banda Aceh, terdapat sebuah jembatan yang menjadi saksi bisu denyut kehidupan masyarakat di Bireuen. Itulah Jembatan Kutablang, yang oleh netizen dijuluki “Selat Hormuz”.
Julukan “Selat Hormuz” muncul bukan tanpa alasan, seperti selat strategis di Timur Tengah yang menjadi jalur vital transportasi minyak dunia, jembatan ini pun menjadi jalur penting bagi siapa pun yang melintasi wilayah utara dan timur Aceh.
Jembatan ini bukan sekadar bentangan baja dan beton di atas sungai. Ia adalah urat nadi yang menghubungkan harapan, perjuangan, dan keseharian ribuan orang yang melintasinya.
Kilas balik peristiwa
Tanggal 26 November 2025 menjadi hari yang tak terlupakan bagi masyarakat Bireuen. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti menyebabkan banjir besar melanda sebagian wilayah Sumatra, termasuk Aceh. Air bah yang datang tiba-tiba menghantam fondasi Jembatan Kutablang, merusak sebagian struktur utamanya. Dalam sekejap, arus transportasi dan distribusi logistik di jalur nasional Medan–Banda Aceh lumpuh total.
Bagi kami pengguna jalan dan masyarakat sekitar, jembatan itu bukan sekadar infrastruktur, ia adalah penghubung kehidupan. Banyak warga yang bekerja, bersekolah, atau berdagang di seberang sungai. Ketika jembatan rusak, seolah-olah dua dunia yang selama ini terhubung tiba-tiba terpisah. Aktivitas ekonomi menurun drastis, sekolah-sekolah diliburkan sementara, dan banyak pekerja terpaksa naik perahu menyeberangi sungai atau bahkan ada yang tidak bisa bekerja sama sekali.
Beberapa minggu setelah bencana, pemerintah bersama TNI membangun jembatan darurat jenis bailey. Meski sederhana, kehadiran jembatan ini disambut dengan rasa syukur yang luar biasa karena ia bukan sekadar pengganti sementara, melainkan simbol harapan baru. Setiap baut dan pelat baja yang terpasang menjadi tanda bahwa kehidupan perlahan kembali bergerak. Sejak saat itu, Jembatan Kutablang kembali ramai oleh pelajar, pedagang, pegawai, hingga pejabat melintasinya setiap hari.
Suara deru kendaraan berpadu dengan bunyi dentingan besi jembatan yang khas, menciptakan irama kehidupan yang tak pernah berhenti.
Ujian kesabaran
Sepanjang hari di sekitar jembatan ini antrean kendaraan mengular panjang menjadi pemandangan rutin yang bergantian dari dua arah.
Namun, di balik realitas itu terselip kekhawatiran yang semakin hari kian terasa. Dalam dua bulan terakhir, jembatan bailey Kutablang sering ditutup sementara untuk perbaikan. Pelat baja yang mulai aus harus diganti, sambungan yang longgar atau lempeng baja yang mulai retak perlu dilas ulang.
Bagi para pengguna rutin, seperti guru, pelajar, dan pekerja, situasi ini menjadi ujian kesabaran. Banyak yang harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat lantaran terjebak antrean panjang, sementara sebagian lainnya memilih menunggu tengah malam untuk menghindari kemacetan.
Setiap kali informasi penutupan Jembatan Kutablang muncul di media sosial, masyarakat langsung bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: antrean panjang, perjalanan yang tertunda, ataukah harus mengalihkan rute lintasan yang lebih jauh.
Ketika jembatan ditutup, getek menjadi satu-satunya harapan bagi pengendara roda dua.. Namun, menyeberang dengan getek bukan tanpa risiko. Arus sungai yang deras dan cuaca yang tak menentu sering membuat perjalanan terasa menegangkan. Sedangkan kendaraan roda tiga dan roda empat yang tonase 10 ton ke bawah bisa melewati jembatan bailey Awe Geutah. Sayangnya, kendaraan roda empat tonase di atas 10 ton sampai 30 ton harus pasrah di barisan antrean menanti sampai pengerjaan selesai.
Sekelumit kisah
Kelumit kisah berikut adalah tentang saya sendiri. Saya salah satu guru yang tinggal di Samuti Krueng, Kecamatan Gandapura, dan setiap hari menempuh perjalanan sekitar 35 kilometer menuju SMA Negeri 1 Juli, tempat saya mengajar. Setiap pagi, saya meninggalkan keluarga dengan harapan perjalanan menuju sekolah berjalan lancar dan sorenya bisa pulang tepat waktu agar dapat meluangkan waktu bersama anak-anak di rumah. Setiap hari, saya harus melewati “Selat Hormuz” Kutablang, jembatan yang menjadi penghubung utama antara tempat tinggal dan tempat tugas. Namun, setiap menjelang jam pulang sekolah, rasa waswas selalu muncul. Saya terbiasa membuka pesan di grup WhatsApp untuk memastikan apakah ada informasi terbaru tentang kondisi jembatan. Jika tidak ada kabar di sana, saya beralih ke media sosial TikTok untuk melihat siaran langsung dari warga sekitar. Langkah itu saya lakukan setiap hari, karena jika terlambat mengetahui kabar penutupan jembatan, perjalanan pulang bisa berubah menjadi petualangan panjang yang melelahkan.
Pernah beredar informasi bahwa jembatan ditutup pukul 14.00 WIB dan akan dibuka kembali pukul 16.00 WIB. Kebetulan hari itu saya dan beberapa guru lain ada kegiatan tambahan setelah jam pulang sekolah berupa zum 'technical meeting' tentang pelaksanaan FLS3N. Jadi, selesai acara tersebut saya menunggu di sekolah. Setelah menunaikan shalat Asar, saya berangkat pulang dengan penuh harapan. Namun, sesampainya di lokasi, jembatan ternyata masih dalam pengerjaan dan baru dibuka menjelang magrib. Akhirnya, saya dan para pengguna jalan lainnya terpaksa memutar arah menuju jalur lintas lain untuk menyeberang menggunakan getek di Pante Lhong, yang jaraknya lumayan jauh dari jalur utama. Alhasil, saya tiba di rumah setelah magrib.
Sebenarnya ini bukan pengalam pertama saya naik getek. Namun, yang membuat beda hari itu adalah setelah menempuh perjalanan jauh dari Juli ke Kutablang kemudian harus balik lagi ke Peusangan menuju Pante Lhong. Di lain kesempatan, diinformasikan di media sosial bahwa pukul 14.00–16.00 WIB Jembatan Kutablang ditutup sementara. Kebetulan saya tidak ada lagi tugas pada hari itu. Lalu, setelah shalat Zuhur saya langsung pulang, berharap sebelum pukul 14.00 WIB sudah tiba di jembatan. Namun, nyatanya lain, sesampai di sana, jembatan baru ditutup 10 menit, dengan menghela napas dan suasana hati yang kurang nyaman saya terpaska harus memutar sepeda motor balik.
Di Pante Lhong hanya tersedia dua getek yang beroperasi, sehingga antrean panjang tak terhindarkan. Kondisi pinggiran sungai yang terjal membuat siapa pun yang hendak menurunkan kendaraan harus berhati-hati. Para pengendara sepeda motor berbaris di kemiringan tanah, menunggu giliran untuk naik ke getek. Bagi yang tidak memiliki nyali cukup kuat untuk menurunkan motornya ke tepi sungai, petugas setempat siap membantu. Semua dilakukan dengan penuh kehati-hatian, karena sedikit saja salah perhitungan, kendaraan bisa tergelincir ke sungai dan bisa menyeret pengendara lain. Situasi itu menggambarkan betapa besar perjuangan masyarakat untuk tetap bisa melanjutkan aktivitas di tengah keterbatasan sarana penyeberangan.
Kisah seperti yang saya alami bukan hanya milik satu orang. Banyak warga lain juga mengalami hal serupa. Para pedagang yang membawa hasil bumi ke pasar, sopir angkutan umum yang mengejar setoran, hingga pelajar yang berjuang menuntut ilmu, semuanya bergantung pada jembatan yang kini mulai menua itu.
Saat ini, jembatan permanen pengganti sedang dalam tahap pengerjaan dengan target perampungan pada bulan Juli 2026. Besar harapan masyarakat agar pembangunan tersebut dapat diselesaikan tepat waktu dan berjalan lancar, karena kondisi jembatan bailey yang semakin memprihatinkan.
Setiap kali melintas, banyak pengguna jalan yang tak lupa menengok ke arah sungai di bawah jembatan. Airnya yang mengalir deras, membawa kenangan tentang banjir besar yang pernah meluluhlantakkan daerah ini. Namun, di atasnya, kendaraan terus bergerak, menandakan bahwa kehidupan tak pernah berhenti. Di situlah makna sejati dari “Selat Hormuz” Kutablang sebagai sebuah simbol keteguhan dan harapan yang tak pernah padam.
Kini, setiap derit besi jembatan menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Pelat baja yang bergetar di bawah roda kendaraan seolah berbicara tentang perjuangan masyarakat yang tak kenal lelah. Mereka tahu, jembatan itu mungkin rapuh, tapi semangat untuk terus melangkah jauh lebih kuat. Di tengah segala keterbatasan, masyarakat tetap beradaptasi, tetap bersyukur, dan tetap berharap.
“Selat Hormuz” Kutablang bukan hanya penghubung dua tepi sungai, melainkan penghubung antara masa lalu dan masa depan. Ia menjadi saksi bagaimana masyarakat di sini bangkit dari bencana, bertahan dalam keterbatasan, dan terus melangkah menuju harapan baru. Setiap perbaikan, setiap pengelasan, setiap pelat yang diganti adalah bagian dari perjalanan panjang menuju jembatan yang lebih baik, baik secara fisik maupun makna. Dan, di setiap langkah kaki yang melintasinya, tersimpan doa yang sama: semoga jembatan ini tetap kokoh sampai waktunya jembatan permanen bisa dilalui, tetaplah menjadi penghubung kehidupan, dan tetaplah menjadi simbol keteguhan hati masyarakat yang tak pernah menyerah menghadapi putaran waktu.
< tisyarifah>
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TISYARIFAH.jpg)