Jumat, 22 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Tantangan di “Selat Hormuz”, Antara Harapan dan Kekhawatiran

Di tengah hiruk pikuk arus lalu lintas antara Medan dan Banda Aceh, terdapat sebuah jembatan yang menjadi saksi bisu denyut kehidupan

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
TISYARIFAH, Guru SMA Negeri 1 Juli, Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen 

TISYARIFAH, Guru SMA Negeri 1 Juli, Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen

Di tengah hiruk pikuk arus lalu lintas antara Medan dan Banda Aceh, terdapat sebuah jembatan yang menjadi saksi bisu denyut kehidupan masyarakat di Bireuen. Itulah Jembatan Kutablang, yang oleh netizen dijuluki “Selat Hormuz”.

Julukan “Selat Hormuz” muncul bukan tanpa alasan, seperti selat strategis di Timur Tengah yang menjadi jalur vital transportasi minyak dunia, jembatan ini pun menjadi jalur penting bagi siapa pun yang melintasi wilayah utara dan timur Aceh.

Jembatan ini bukan sekadar bentangan baja dan beton di atas sungai. Ia adalah urat nadi yang menghubungkan harapan, perjuangan, dan keseharian ribuan orang yang melintasinya.

Kilas balik peristiwa

Tanggal 26 November 2025 menjadi hari yang tak terlupakan bagi masyarakat Bireuen. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti menyebabkan banjir besar melanda sebagian wilayah Sumatra, termasuk Aceh. Air bah yang datang tiba-tiba menghantam fondasi Jembatan Kutablang, merusak sebagian struktur utamanya. Dalam sekejap, arus transportasi dan distribusi logistik di jalur nasional Medan–Banda Aceh lumpuh total.
Bagi kami pengguna jalan dan masyarakat sekitar, jembatan itu bukan sekadar infrastruktur, ia adalah penghubung kehidupan. Banyak warga yang bekerja, bersekolah, atau berdagang di seberang sungai. Ketika jembatan rusak, seolah-olah dua dunia yang selama ini terhubung tiba-tiba terpisah. Aktivitas ekonomi menurun drastis, sekolah-sekolah diliburkan sementara, dan banyak pekerja terpaksa naik perahu menyeberangi sungai atau bahkan ada yang tidak bisa bekerja sama sekali.

Beberapa minggu setelah bencana, pemerintah bersama TNI membangun jembatan darurat jenis bailey. Meski sederhana, kehadiran jembatan ini disambut dengan rasa syukur yang luar biasa karena ia bukan sekadar pengganti sementara, melainkan simbol harapan baru. Setiap baut dan pelat baja yang terpasang menjadi tanda bahwa kehidupan perlahan kembali bergerak. Sejak saat itu, Jembatan Kutablang kembali ramai oleh pelajar, pedagang, pegawai, hingga pejabat melintasinya setiap hari.
Suara deru kendaraan berpadu dengan bunyi dentingan besi jembatan yang khas, menciptakan irama kehidupan yang tak pernah berhenti.

Ujian kesabaran

Sepanjang hari di sekitar jembatan ini antrean kendaraan mengular panjang menjadi pemandangan rutin yang bergantian dari dua arah.

Namun, di balik realitas itu terselip kekhawatiran yang semakin hari kian terasa. Dalam dua bulan terakhir, jembatan bailey Kutablang sering ditutup sementara untuk perbaikan. Pelat baja yang mulai aus harus diganti, sambungan yang longgar atau lempeng baja yang mulai retak perlu dilas ulang.

Bagi para pengguna rutin, seperti guru, pelajar, dan pekerja, situasi ini menjadi ujian kesabaran. Banyak yang harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat  lantaran terjebak antrean panjang, sementara sebagian lainnya memilih menunggu tengah malam untuk menghindari kemacetan.

Setiap kali informasi penutupan Jembatan Kutablang muncul di media sosial, masyarakat langsung bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: antrean panjang, perjalanan yang tertunda, ataukah harus mengalihkan rute lintasan yang lebih jauh.

Ketika jembatan ditutup, getek menjadi satu-satunya harapan bagi pengendara roda dua.. Namun, menyeberang dengan getek bukan tanpa risiko. Arus sungai yang deras dan cuaca yang tak menentu sering membuat perjalanan terasa menegangkan. Sedangkan kendaraan roda tiga dan roda empat yang tonase 10 ton ke bawah bisa melewati jembatan bailey Awe Geutah. Sayangnya, kendaraan roda empat tonase di atas 10 ton sampai 30 ton harus pasrah di barisan antrean menanti sampai pengerjaan selesai.

Sekelumit kisah

Kelumit kisah berikut adalah tentang saya sendiri. Saya salah satu guru yang tinggal di Samuti Krueng, Kecamatan Gandapura, dan setiap hari menempuh perjalanan sekitar 35 kilometer menuju SMA Negeri 1 Juli, tempat saya mengajar. Setiap pagi, saya meninggalkan keluarga dengan harapan perjalanan menuju sekolah berjalan lancar dan sorenya bisa pulang tepat waktu agar dapat meluangkan waktu bersama anak-anak di rumah. Setiap hari, saya harus melewati “Selat Hormuz” Kutablang, jembatan yang menjadi penghubung utama antara tempat tinggal dan tempat tugas. Namun, setiap menjelang jam pulang sekolah, rasa waswas selalu muncul. Saya terbiasa membuka pesan di grup WhatsApp untuk memastikan apakah ada informasi terbaru tentang kondisi jembatan. Jika tidak ada kabar di sana, saya beralih ke media sosial TikTok untuk melihat siaran langsung dari warga sekitar. Langkah itu saya lakukan setiap hari, karena jika terlambat mengetahui kabar penutupan jembatan, perjalanan pulang bisa berubah menjadi petualangan panjang yang melelahkan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved